Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #5

Keluh Kesah Ratih

Jika siang, Wisma Astana tampak seperti museum kenangan, dan malam di rumah itu selalu membawa kesunyian, mengubah setiap bagiannya menjelma ruang pengadilan bagi batin Ratih. Setelah memastikan seluruh pintu terkunci dan lampu teras belakang dipadamkan, Ratih bersimpuh di sajadah. Dalam keheningan sepertiga malam, doanya tidak lagi berupa deretan permohonan keselamatan. Kini doanya adalah percakapan panjang dengan Baskara.

“Mas,” bisik Ratih, suaranya bergetar di sela isak tertahan. “Aku merindukanmu, itu pasti. Tapi belakangan ini, rindu itu berubah jadi rasa takut yang tak bisa kujelaskan pada anak-anak.”

Ratih menunduk, jemarinya meremas pinggiran mukena. Di depan Tuhan, dan di hadapan bayang-bayang suaminya, ia mulai menumpahkan apa yang selama ini tersumbat di tenggorokan. Ia bicara tentang betapa berat menjadi monumen. Anak-anaknya, Satria yang kaku, Arum yang melankolis, semua ingin ia tetap menjadi Ibu yang mereka kenal: perempuan lembut, melayani, dan setia pada kursi kosong. Mereka mencintai Ratih sebagai penjaga memori ayahnya, namun Ratih merasa mereka lupa bahwa ia masih memiliki napasnya sendiri.

 “Mereka ingin aku abadi dalam kedukaan, Mas,” keluh Ratih lagi. “Seakan jika aku tertawa sedikit lebih keras, atau jika aku memakai gincu sedikit lebih cerah, aku sedang mengkhianati empat puluh tahun kebersamaan kita. Apakah jadi istri baik berarti aku harus berhenti menjadi manusia setelah kamu pergi?”

Ratih merasakan sesak tak biasa. Selama ini, perannya sebagai istri Baskara telah menjadi identitas yang menyerap seluruh dirinya. Di mata dunia, ia adalah separuh dari Baskara, dan setelah separuhnya hilang, dunia menuntutnya untuk tetap menjadi potongan tak lengkap. Tidak ada yang bertanya apakah ia masih ingin mendengar pendapat orang lain tentang dunia, apakah ia ingin berdiskusi tentang sesuatu, atau hanya ingin sekadar didengar sebagai perempuan bernama Ratih, bukan sebagai janda Baskara.

“Aku hanya ingin seseorang yang bisa diajak bicara tentang rasa pahit teh di sore hari, Mas. Seseorang yang bisa membalas kalimatku, bukan hanya angin lewat,” tuturnya perih. Ia menyadari bahwa di mata anak-anaknya, keinginan untuk tetap aktif secara sosial di masa tua sering kali dianggap tanda ketidakikhlasan atau bahkan aib. Beberapa kali mereka menyampaikan hal itu kepadanya. Dari apa yang sudah mereka katakan, Ratih tahu bahwa mereka memandang Ibu sebagai objek peninggalan yang harus tetap bersih dan tak tersentuh di dalam etalase bernama Wisma Astana.

Lihat selengkapnya