Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #6

Selasar Lawas

Langkah kaki Ratih pagi itu terasa lebih ringan, seakan sepasang beban telah tanggal dari pergelangan kakinya. Wisma Astana masih diselimuti embun tipis saat ia menutup pagar besi dengan denting halus. Ia tidak lagi merasa perlu menoleh ke arah jendela kamar yang biasanya menjadi saksi bisu ritual kesedihannya. Pagi itu, ia akan pergi ke pelabuhan kecil yang ia temukan beberapa hari lalu: toko buku Selasar Lawas. Ia telah memilih setelan kebaya kutubaru berwarna cokelat susu dipadu dengan kain jarik, memberikan kesan seorang perempuan yang merawat martabatnya tanpa harus terlihat berlebihan.

Udara di pinggiran kota masih terasa segar saat ia sampai di depan pintu kayu toko buku tersebut. Bau harum pohon tanjung di pelataran depan menyambutnya, bercampur dengan aroma kertas tua yang mulai menguar dari celah-celah pintu. Begitu masuk, Ratih kembali merasakan ketenangan yang sama. Rak-rak kayu berjejalan dengan buku-buku berharga itu tampak seperti barisan kawan lama yang siap mendengarkan keluh kesahnya. Pemilik toko, seorang lelaki paruh baya yang selalu sibuk dengan tumpukan majalah lama, hanya mengangguk sopan tanpa bertanya banyak. Bagi Ratih, ketidakpedulian yang sopan itu adalah kemewahan; ia tidak perlu menjelaskan identitasnya sebagai istri mendiang seorang tokoh pendidikan.

Ia melangkah menuju rak bagian sastra, tempat di mana sebelumnya ia telah meninggalkan jejak jemarinya pada buku kumpulan esai. Di sana, di sudut yang agak temaram karena terhalang tumpukan koran lama, Ratih melihat seseorang sedang berdiri diam. Seorang pria tua berkemeja batik motif parang dengan warna mulai meluruh, namun tetap terlihat bersih dan tersetrika rapi. Pria itu memegang sebuah buku dengan sangat hati-hati, seolah-olah benda di tangannya adalah pusaka yang rapuh.

Ratih berhenti sejenak. Ia agak ragu untuk melangkah lebih dekat, takut mengganggu kekhusyukan orang tersebut. Namun, embusan angin dari jendela luar membawa aroma wangi tembakau dari pipa yang tidak menyala milik pria itu, aroma yang memberikan rasa akrab namun misterius. Ratih mencoba mengabaikan kehadiran pria itu, menunduk, dan berpura-pura sibuk mencari buku Nh. Dini yang ia incar.

Saat jemari Ratih baru saja menyentuh punggung buku bersampul biru, pria itu berdeham kecil. Ada keraguan tertangkap dari suaranya yang serak namun tenang. “Nh. Dini... menulis dengan hati tabah, Bu. Tidak seperti teriakan di pasar,” ujarnya pelan. Pria itu tidak langsung menoleh penuh, hanya memiringkan kepalanya sedikit, seolah mendadak merasa risau jika tegur sapanya barusan dianggap tidak sopan.

Ratih tertegun, tangannya tertahan. Kalimat itu tidak menanyakan hal pribadi, melainkan langsung menyentuh apa yang ia pikirkan selama ini. Ia menoleh perlahan, mencoba menyembunyikan keterkejutannya dengan senyum santun. Pria itu kini menatapnya dengan binar mata teduh, lalu buru-buru melepaskan topi pet cokelatnya dengan gerakan agak canggung, memperlihatkan rambut peraknya yang sebahu. “Maaf, saya lancang,” tambahnya, tampak bimbang.

“Tidak apa-apa,” jawab Ratih, suaranya diusahakan sejernih mungkin, walau ada debar di dadanya. “Dan Anda benar. Banyak yang mengira keheningan dalam buku-bukunya adalah kepasrahan, padahal di dalamnya ada tungku menghangat.”

Pria itu tersenyum lega, seakan kekhawatiran besar baru saja diangkat dari pundaknya. Ia meletakkan bukunya kembali ke rak dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut menimbulkan suara berisik. “Nama saya Kama. Jarang sekali... melihat seseorang mencari bacaan seperti itu di sini. Kebanyakan mencari novel yang habis dibaca sekali duduk.” Kama mengusap punggung buku itu dengan ujung jarinya, lalu menatap Ratih lagi dengan ragu. “Saya harap komentar saya tadi tidak mengganggu waktu membaca Anda.”

Lihat selengkapnya