Wisma Astana tidak berubah, namun bagi Ratih, sudut-sudutnya kini memberikan tekanan berbeda. Setiap kali ia melintasi lorong menuju ruang kerja mendiang Baskara, deretan foto hitam putih dan piagam penghargaan di dinding seolah menjelma deretan mata yang mengawasinya dengan dingin. Pagi itu, Ratih berdiri cukup lama di depan meja jati besar milik suaminya. Jemarinya meraba permukaan kayu yang bersih dari debu, karena ia selalu merawatnya setiap hari, namun batinnya tidak lagi berada di situ. Pikirannya justru melayang pada aroma tembakau kering, tawa serak, dan tatapan mata sedikit nakal namun jujur yang ia temui di toko Selasar Lawas. Ada rasa hangat mendesak naik, namun tiba-tiba muncul hantaman rasa bersalah hingga membuat dadanya sesak.
Ratih menarik tangannya kembali dengan cepat, seakan permukaan meja jati ada durinya. Ia memandangi potret besar Baskara, sedang menatap lurus ke depan dengan wibawa akademisnya. Di bawah tatapan itu, Ratih merasa seperti pencuri yang tertangkap basah. Mengingat seorang pria dengan pembawaan sedikit bebas dan memiliki pola hidup yang berbeda dengan aturan di dalam rumah itu, terasa seperti pengkhianatan nyata. Merasa selingkuh dari kenangan ternyata memiliki rasa perih, hampir sama dengan berselingkuh secara fisik. Ia merasa tidak tahu diri, bagaimana mungkin seorang janda dihormati di desa itu mulai menyimpan harap pada pertemuan-pertemuan dengan seseorang?
Untuk mengusir gelisah yang kian merayap, Ratih memutuskan keluar rumah. Namun kali itu ia menghindari jalan menuju Selasar Lawas. Ia tidak ingin terlihat sengaja mengejar perhatian Kama. Langkah kaki Ratih membawanya menuju pasar di ujung desa, tempat riuh yang bisa mengalihkan pikiran. Ia berjalan pelan di antara lapak-lapak pedagang sayur, mencoba memfokuskan matanya pada warna hijau kangkung atau merahnya cabai. Namun, ketika ia berhenti di lapak penjual kembang setaman, matanya tertuju pada sekeranjang kelopak mawar basah. Pikirannya kembali berkhianat, ia teringat ucapan Kama tentang perempuan seusianya tetap berhak memakai gincu berwarna tanpa harus meminta izin dari ketakutan-ketakutan sosial.
“Mencari bunga untuk ziarah, Bu Baskara?” sapa mbah penjual jamu yang lapaknya bersebelahan dengan penjual bunga. Pertanyaan itu terdengar biasa, namun di telinga Ratih, sebutan 'Bu Baskara' terasa seperti rantai yang mendadak ditarik kencang, mengingatkan pada pasak tempat ia ditambatkan selama puluhan tahun.
Ratih memaksakan senyum santun, menyembunyikan debar risau yang mendadak menyergap. “Oh, mboten, Mbah. Hanya melihat-lihat saja,” jawabnya pelan, suaranya sedikit bergetar.
Buru-buru ia melangkah pergi dari lapak itu karena merasa semua orang di pasar seperti bisa membaca isi kepalanya sedang kacau. Ketakutan akan tabu kesetiaan merayap dari ujung kaki hingga dadanya. Ia merasa berjalan di selembar benang tipis, satu langkah salah, monumen kehormatannya bersama Baskara akan runtuh dalam sekejap.
Ia memutuskan pulang mengambil jalan memutar, melewati pematang sawah di pinggiran desa, tempatnya agak sepi, cocok untuk menenangkan diri. Angin bertiup cukup kencang, menggoyang pucuk-pucuk padi yang mulai menguning. Ratih berhenti di gubuk kecil di tepi sawah, tempat para petani biasa melepas lelah. Ia duduk di bilah bambu yang sudah menghitam oleh usia, mencoba menghirup udara dalam-dalam. Namun, ketenangan itu kembali terusik saat sebuah bayangan melintas di jalan setapak tak jauh dari gubuk.
Seorang pria dengan sepeda ontel tua melaju lambat. Pria itu mengenakan kemeja lurik dan topi pet cokelat yang sangat akrab di ingatan Ratih. Itu Kama. Berbeda dengan dugaannya yang mengira pria itu membawa tumpukan buku, di keranjang depan sepedanya justru menyembul papan kayu tipis untuk tatakan menggambar dan tas kain berisi beberapa gulungan kertas. Sepotong pensil arang tampak terselip di balik daun telinganya, menembus batas-batas kerapian yang biasa Ratih lihat pada kaum lelaki di sekeliling Baskara.