Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #8

Ruang yang Tersisa

Pertemuan Ratih dan Kama di kedai teh sore itu menjadi awal bagi serangkaian sore yang mereka lalui bersama. Dan sore ini, meja kayu di sudut kedai teh itu kembali menjadi saksi bisu pertemuan mereka. Tidak ada lagi kecanggungan kaku seperti saat pertama kali mereka bertukar sapa di Selasar Lawas. Pertemuan-pertemuan berikutnya terjadi secara alami di selasar pasar seni, di bawah keteduhan pohon tanjung saat gerimis, hingga sore itu telah mengikis dinding pembatas di antara mereka. Ratih memandangi jemari Kama dengan noda arangnya mulai menipis, yang sedang telaten membersihkan ujung kuas kecil menggunakan kain perca. Ada kenyamanan mengendap perlahan, kenyamanan yang tidak menuntut banyak penjelasan.

“Sore ini Ibu terlihat lebih banyak diam,” ujar Kama tanpa mengangkat wajahnya dari kuas, namun nada santainya membawa kehangatan dan akrab. Ia meraih karet gelang kuning di pergelangan tangan sepedanya, lalu mengikat rambut perak sebahunya yang mulai menjuntai menutupi mata dengan gerakan asal namun bersahaja.

Ratih menghela napas pelan, memutar cangkir teh melatinya yang sudah setengah dingin. “Saya hanya sedang memikirkan... bagaimana waktu berjalan begitu cepat, Pak Kama. Beberapa minggu lalu kita masih menjadi dua orang asing memperebutkan punggung buku Nh. Dini, dan sekarang saya sudah hafal kapan Anda akan mengeluh tentang rantai sepeda.”

Kama terkekeh serak, suara tawanya lepas menguar bersama aroma tembakaunya. “Hidup memang terlalu pendek untuk dihabiskan dengan berpura-pura asing, Bu Ratih. Lagipula, kertas sketsa saya sudah penuh dengan siluet selendang Ibu. Akan aneh kalau kita masih bicara soal cuaca.” Ia meletakkan kuasnya, lalu menatap Ratih dengan binar mata teduh namun menyelidiki. “Ada yang mengusik pikiran Ibu? Wajah Ibu seperti halaman buku yang belum selesai dibaca.”

Ratih terdiam sejenak, memandangi rintik hujan yang mulai mereda di pekarangan kedai. Pertemuan kesekian kalinya itu akhirnya membawa mereka pada ruang obrolan yang lebih intim, ruang di mana masa lalu tidak lagi menjadi tabu untuk disentuh. “Kemarin hari ulang tahun pernikahan saya dengan Mas Baskara. Jika dia masih ada, kami sudah melewati tahun keempat puluh lima,” bisik Ratih pelan, ada getar samar yang ia usahakan agar tetap tegar.

Kama tidak terkejut, tidak juga menunjukkan rasa canggung yang biasanya diperlihatkan orang lain saat nama Baskara disebut. Ia mengangguk takzim, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi bambu dengan sikap yang sangat menghargai. “Empat puluh lima tahun adalah waktu panjang untuk merajut cerita, Bu Ratih. Mustahil untuk melipat begitu saja lalu menyimpannya di laci terbawah.” Kama meraih pipa tembakau kayunya, memainkannya di jemari tanpa niat untuk menyalakannya. “Istri saya, Saras, sudah tiada hampir tujuh tahun lalu. Kamar kerjanya di rumah masih sama seperti saat dia meninggalkan saya. Semua posisi barang dan aroma minyak tusam yang pekat... semua masih di sana.”

Ratih mendongak, menatap mata Kama yang kini menerawang jauh menembus kabut sore. Ini pertama kalinya Kama menceritakan tentang mendiang istrinya dengan begitu terbuka. “Apakah Anda tidak merasa... bersalah saat dulu mulai keluar rumah dan menggambar lanskap lagi?” tanya Ratih, menyuarakan pergolakan batin yang selama ini mencengkeram dadanya di Wisma Astana.

Lihat selengkapnya