Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #9

Kabar Mengejutkan

Aroma gurame bakar, sup buntut dengan kepulan uap kaya rempah, serta sambal goreng ati, berbaur memenuhi ruang makan Wisma Astana. Ratih berdiri dekat kepala meja, merapikan letak mangkuk-mangkuk porselen berhias sulur emas, set makan terbaik yang hulu selalu Baskara minta untuk dikeluarkan hanya pada momen-momen istimewa. Untuk sesaat, ingatan Ratih berputar ke belakang, melompati waktu menuju malam di villa kayu lereng gunung, saat ia dan Baskara menyusun rencana perjamuan. Kini, anak-anak mereka benar-benar duduk berkumpul, menggenapi rindu yang sempat tertunda. Namun, malam itu ada yang berbeda. Ratih tidak lagi mengenakan duka pekat; ada binar baru di matanya yang tak lagi bisa disembunyikan.

Keempat anaknya datang dengan membawa keriuhan masing-masing yang selama ini dirindukan oleh dinding-dinding sepi rumah itu. Satria duduk di sisi kanan, sesekali memeriksa ponsel kedinasannya namun tetap bersemangat menyendok sup buntut ke piringnya. Di sebelahnya, Arum sedang bercerita dengan suara renyah tentang perkembangan kliniknya, diselingi anggukan setuju dari Wistara yang tampak tenang sambil menikmati gurame bakar. Sementara itu, Kinar, si bungsu yang selalu memiliki kedekatan emosional paling akrab dengan ibunya, duduk paling dekat dengan Ratih, sesekali melempar pujian tentang betapa rindunya mereka pada masakan Wisma Astana.

“Ibu benar-benar luar biasa malam ini,” ujar Satria sambil menyeka bibirnya dengan serbet kain setelah menuntaskan potongan buntut pertamanya. “Sudah lama sekali meja makan ini tidak sehangat ini. Rasanya seperti melihat Ibu sebelum Ayah berpulang.” Sentimen itu langsung disambut anggukan hangat dari Arum dan Wistara. Mereka melihat pancaran segar dari wajah Ratih malam itu murni sebagai tanda bahwa sang ibu telah sepenuhnya ikhlas menerima kepergian ayah mereka, bukan sebagai tanda dari awal yang lain.

Ratih hanya tersenyum tipis, meremas pelan jemarinya di bawah lipatan taplak meja untuk meredam debaran yang mendadak berkejaran di dadanya. Ia memandangi wajah anak-anaknya satu per-satu, wajah-wajah yang mewarisi gurat ketegasan Baskara. Ada rasa bersalah yang sempat mencuat, namun bayangan nisan marmer hitam dingin dan tatapan teduh Kama dengan rambut perak sebahunya yang bergoyang ditiup angin sore memberikan kekuatan berdaulat yang baru bagi jiwanya. Perjamuan itu sengaja ia buat bukan sekadar untuk melepas rindu, melainkan sebagai ruang jujur di mana ia harus memberitahu haknya sebagai manusia utuh.

Ratih meletakkan sendok besarnya ke atas mangkuk sup dengan denting porselen yang halus namun sanggup menarik perhatian seluruh isi meja. Suasana yang tadinya riuh oleh cerita Arum mendadak mengendur, menyisakan tatapan heran dari keempat anaknya yang menyadari ada perubahan dari gestur tubuh sang ibu. Ratih menarik napas dalam, menatap lurus ke arah bentangan meja makan yang panjang.

“Satria, Arum, Wistara, dan Kinar...” suara Ratih mengalun tenang, namun memiliki ketukan mantap. “Ibu mengumpulkan kalian malam ini tidak hanya untuk makan bersama. Ada keputusan penting mengenai sisa hidup Ibu yang harus Ibu sampaikan kepada kalian. Ibu berniat untuk menikah lagi.”

Keheningan mendadak merayap kencang, menyapu bersih sisa riuh yang baru beberapa detik lalu memenuhi ruang makan Wisma Astana. Sendok yang dipegang Arum tertahan beberapa senti di atas piring, sementara Wistara yang hendak menyuap potongan gurame terakhirnya spontan meletakkan kembali garpunya. Satria memajukan posisi duduknya, alisnya bertaut rapat membentuk kerutan tegas yang sangat mirip dengan mendiang ayahnya saat menghadapi ujian mahasiswa di ruang sidang akademik. Ruangan itu mendadak kehilangan pasokan udara, menyisakan bunyi detak jam dinding kuno peninggalan Baskara, seolah ikut menghitung beratnya atmosfer malam itu.

Kata 'menikah lagi' bergulir di atas meja makan layaknya bom waktu yang meledak tanpa suara, namun daya hancurnya seketika mengubah wajah ceria di sekeliling meja menjadi pias. Satria menjadi yang pertama bereaksi, tubuhnya menegak kaku, wajahnya semula kemerahan karena kehangatan sup buntut mendadak berubah pudar, digantikan oleh ekspresi tidak percaya bercampur dengan rasa syok teramat sangat. Di sebelahnya, Arum tampak seperti baru saja ditampar kenyataan aneh, mulutnya sedikit terbuka, sementara matanya mulai berkaca-kasa menatap Ratih seolah sang ibu baru saja mengumumkan petaka besar. Wistara langsung bersedekap, matanya menyipit tajam, langsung beralih mode dari anak manja menjadi pria penuh perhitungan batin.

Lihat selengkapnya