Setir mobil SUV hitam itu dicengkeram Satria begitu erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Di bawah guyuran lampu jalanan kota temaram dan gerakan sapuan wiper monoton menghalau sisa gerimis, dada Satria bergemuruh hebat. Wisma Astana sudah beberapa kilometer di belakangnya, tetapi atmosfer mencekam dari meja makan tadi seperti ikut terbawa, menyusup ke dalam kabin mobil yang kedap, dan mencekik lehernya perlahan.
Di sepanjang aspal basah, telinga Satria terus berdengung. Pikirannya melompat-lompat liar, mengunyah kembali seluruh perdebatan yang baru saja pecah. Di dalam kesunyian kabin, emosinya justru kembali merangkak naik, membawa serta letupan-letupan batin yang jauh lebih lancang dan kurang ajar.
Apakah Ibu sudah pikun? umpat Satria dalam hati, rahangnya mengatup rapat hingga giginya berkerat. Atau jangan-jangan Ibu memang sengaja ingin mempermalukan kami semua di hari tua? Puluhan tahun hidup terhormat sebagai istri Profesor, dihormati ke mana pun melangkah, lalu sekarang bertingkah seperti remaja puber yang silau oleh bualan seniman jalanan. Menyedihkan. Satria memejamkan mata sesaat ketika lampu merah menghentikan laju mobilnya. Dadanya terasa sesak oleh keangkuhan yang terluka. Ia tahu kata-kata yang ia muntahkan di meja makan tadi teramat berani untuk ukuran anak.
Sepanjang hidupnya, Satria dididik untuk menjadi pria Jawa santun, menunduk di depan orang tua, dan menjaga tutur kata. Namun malam itu, benteng tata kramanya runtuh total. Di dalam hatinya paling gelap, Satria bahkan merasa ibunya sedang bertingkah egois, tak tahu diri, dan mulai mengemis simpati dari laki-laki asing bernama Kama itu hanya karena merasa kesepian di Wisma Astana. Bagi Satria, ketegaran Ratih malam itu bukan kedaulatan batin, melainkan bentuk keras kepala seorang wanita tua yang sedang kehilangan akal sehat dan harga dirinya.
Lampu hijau menyala. Satria menginjak gas lebih dalam, membiarkan raung mesin mobilnya membelah malam yang kian larut. Ia harus segera sampai di rumah. Rumahnya sendiri, tempat ia menjadi kepala keluarga seutuhnya, jauh dari bayang-bayang pesona ganjil pelukis sketsa yang dianggapnya benalu itu.
Sesampainya di halaman rumah bergaya minimalis modern miliknya, Satria tidak langsung turun. Ia mematikan mesin, membiarkan dirinya duduk dalam kegelapan kabin selama beberapa menit untuk mengatur napas. Gerahamnya masih mengatup rapat, membentuk garis rahang keras dan kaku saat ia akhirnya melangkah keluar dan membuka pintu depan rumah.
Suasana di dalam rumah sepi. Bimo dan Dinda pasti sudah meringkuk di kamar masing-masing lantaran esok harus sekolah. Di ruang tengah, televisi menyala tanpa suara, menampilkan tayangan berita malam yang diabaikan. Di sofa kulit, Ambar duduk bersila dengan ponsel di tangan kanan dan beberapa lembar pola kain butik terserak di meja kaca.
Begitu mendengar derit pintu, Ambar langsung mendongak. Senyum tipis yang semula hendak ia sunggingkan langsung padam begitu menangkap gurat wajah suaminya. Satria tidak menyapa, tidak pula menggantung jaketnya dengan rapi seperti biasa. Pria itu langsung mengempaskan tubuhnya ke sofa tunggal, menyandarkan kepala dengan mata terpejam, dan mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti dengus kemarahan.
Ambar meletakkan ponselnya di meja, menggeser lembaran kertas kerja butiknya, lalu mendekat. Sebagai wanita pengelola bisnis butik kelas atas, Ambar sangat terlatih membaca perubahan emosi orang lain melalui bahasa tubuh. Dan malam itu, ia melihat suaminya pulang bukan sebagai Satria yang lelah akibat urusan proyek bangunan, melainkan Satria yang sedang membawa bom waktu di dadanya.
“Mas... ada apa? Wajahmu tegang sekali,” tanya Ambar lembut, namun ada nada selidik di dalamnya. “Makan malam di rumah Ibu tidak lancar? Masakan Ibu tidak cocok?”
Satria membuka mata, menatap langit-langit rumahnya dengan pandangan kosong. “Ini bukan soal makanan, Ambar. Ini jauh lebih gila dari sekadar urusan sup buntut.”
Ambar mengernyitkan dahi. Ia menuangkan air putih dari teko kaca di sudut meja, lalu menyodorkannya kepada Satria. “Minum dulu. Lalu cerita pelan-pelan. Ada apa dengan Ibu? Wistara membuat ulah lagi? Atau Kinar?”