Sebelum badai di meja makan itu benar-benar mengosongkan Wisma Astana, sesaat setelah Satria mendorong kursi jatinya dengan kasar dan melangkah pergi membelah gerimis, Arum tidak langsung mengikuti jejak kakak tertuanya. Kini ia berdiri mematung di sisi meja. Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena amarah meledak-ledak seperti Satria, melainkan oleh rasa kecewa yang teramat hingga menyumbat tenggorokannya.
Ia memandangi ibunya, yang masih duduk tegak dengan kedaulatan batin tak tergoyahkan. Arum melangkah mendekat, jemarinya yang biasa cekatan dan tenang saat memegang peralatan medis di klinik giginya, kini terasa sedingin es. Ia menatap piring sup buntut yang belum habis, lalu beralih ke wajah ibunya.
“Ibu,” suara Arum mengalun sangat halus, nyaris berupa bisikan yang santun, namun membawa ketajaman yang sanggup mengiris nurani. “Arum pamit pulang. Kasihan Ibu... sepertinya malam ini Ibu sudah terlalu lelah, sampai-sampai lupa bagaimana cara menghormati tanah kuburan Ayah yang bahkan rumputnya belum sempat menguning.”
Setelah melontarkan kalimat nylekit itu, Arum berbalik dengan air mata yang akhirnya luruh bebas di pipinya. Ia berjalan cepat meninggalkan ruang makan, mengabaikan panggilan lirih Kinar, lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya di pinggiran kota, pandangan Arum buram oleh air mata. Sialnya, malam yang basah justru terus memaksanya memutar kembali kenangan-kenangan masa lalu. Arum adalah anak kedua yang tumbuh dengan memuja pernikahan orang tuanya. Baginya, kisah cinta Profesor Baskara dan Ratih adalah sebuah monumen kesucian, sebuah dongeng nyata tentang kesetiaan abadi hingga maut memisahkan. Sejak kecil, Arum selalu merawat imajinasi bahwa setelah Ayah wafat, cinta Ibu akan ikut membeku, mengkristal menjadi sebuah monumen duka yang terhormat di Wisma Astana.
Namun, pengumuman malam itu menghancurkan seluruh bangunan imajinasinya. Nama 'Kama' yang disebut ibunya terasa seperti coretan arang di atas kanvas suci yang selama ini ia puja. Ibu tidak lagi menjadi penjaga kuil memori Ayah, Ibu memilih turun dari podium kehormatan hanya untuk menjadi perempuan biasa yang jatuh cinta lagi. Bagi Arum, itu bentuk pengkhianatan emosional paling murni.
Sesampainya di rumah, Arum membuka pintu dengan sisa isak yang belum tuntas. Rumah bernuansa putih yang biasanya menenangkan itu kini terasa asing.
Di ruang tengah, Hadi, suaminya, sedang duduk di karpet bulu, bersandar pada sofa sambil membaca sebuah buku teks tebal. Di dekatnya, sebuah keranjang mainan plastik tergeletak terbuka. Hadi langsung meletakkan bukunya begitu mendengar langkah kaki seret dan tidak beraturan. Sebagai seorang dosen, Hadi adalah pria yang terbiasa dengan ketenangan dan observasi. Ia tidak perlu bertanya banyak untuk tahu bahwa makan malam khusus anak kandung di Wisma Astana telah berakhir menjadi sebuah bencana batin bagi istrinya.
“Rum...” Hadi berdiri, melangkah mendekat dan langsung menangkap tubuh Arum yang mendadak lemas.
Arum langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hadi. Tangisnya yang sejak di jalan ditahan sekuat tenaga, kini tumpah tak terkendali. Bahunya terguncang-guncang hebat, membasahi kemeja katun yang dikenakan suaminya.