Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #12

Perhitungan Wistara

Setelah langkah kaki Arum berlalu dan isak tangisnya menghilang di balik pintu depan, keheningan di teras belakang Wisma Astana terasa kian menekan. Kinar masih bergeming di kursinya, sementara Ratih masih tetap tenang, melipat kedua tangannya di atas pangkuan seolah badai yang baru saja lewat sama sekali tidak menggeser poros keteguhan hatinya.

Di ujung meja, Wistara perlahan meletakkan kembali sendoknya. Berbeda dengan Satria yang mengamuk atau Arum berurai air mata, Wistara sejak tadi nyaris tidak mengeluarkan suara. Wajahnya datar, sepasang matanya terlihat tajam di balik kacamata berbingkai tipis menatap lurus ke arah piring saji di mana sebagaian hidangannya mulai mengeras. Sebagai pegawai pajak yang setiap hari berkutat dengan tumpukan regulasi, angka, dan audit aset, otak Wistara sudah bekerja melampaui sekat emosi keluarga. Ia tidak sedang bersedih, ia sedang menghitung risiko.

Wistara menguasai dirinya dengan sangat baik. Ia mengembuskan napas pendek melalui hidung, membetulkan letak kacamatanya, lalu perlahan bangkit berdiri dari kursi. Postur tubuhnya tegak, mencerminkan ketenangan birokrat yang hendak menyampaikan laporan evaluasi. Ia memandang ibunya dengan tatapan lurus, tanpa kemarahan, namun terasa sangat dingin dan transaksional.

“Ibu,” suara Wistara terdengar datar dan terukur. “Arum benar, malam ini Ibu mungkin lelah. Tapi selain urusan perasaan, ada hal-hal praktis yang sepertinya luput dari perhatian Ibu. Wisma Astana ini, berikut seluruh tanah dan aset peninggalan Ayah, secara hukum adalah warisan Baskara Atmadja. Jika seorang pria asing, katakanlah Kama, masuk ke dalam rumah ini melalui jalur pernikahan resmi, maka secara otomatis kedudukannya di mata hukum keluarga dan hukum waris akan berubah. Dia akan jadi ahli waris sah yang berhak atas apa yang dibangun Ayah selama puluhan tahun.”

Wistara berhenti sejenak, sengaja memberi jeda agar kata-katanya tenggelam ke dalam benak Ratih.

“Pernikahan di usia senja bukan cuma soal teman hidup, Bu. Ini soal pergeseran hak materi dan legalitas hukum. Saya tidak tahu apakah pria bernama Kama itu murni mencari teman tua atau ada kalkulasi lain di kepalanya. Mungkin, Ibu perlu memikirkan itu sebelum semuanya terlambat.”

 

Setelah melontarkan peringatan dingin yang logis namun menusuk itu, Wistara mengangguk kecil kepada Kinar, lalu melangkah keluar dengan gerakan yakin namun dingin. Tanpa ada gerakan mencolok, Wistara pergi seolah-olah ia baru saja menyelesaikan rapat kerja yang tidak memuaskan.

Lihat selengkapnya