Mobil Wistara terdengar menderu pelan sebelum akhirnya sunyi, menyusul dua kendaraan kakak-kakaknya yang sudah lebih dulu melesat membelah malam. Di teras belakang Wisma Astana, angin malam bertiup lebih bebas, membawa sisa gerimis, menerobos kisi-kisi nako dan menerpa permukaan meja jati. Hidangan perjamuan kini benar-benar mendingin, menyisakan kegetiran karena semua yang tersaji di piring-piring itu kini tak tersentuh lagi.
Namun, di tengah ruang yang mendadak melompong itu, Kinar masih berdiam. Gadis bungsu itu tetap duduk di kursi yang sama, tepat di sebelah kiri Ratih. Tangannya memegang selembar tisu, meremas-remasnya hingga hancur menjadi serpihan kecil. Pandangannya lurus menatap kursi-kursi kosong di hadapannya. Sebagai seorang wartawan budaya yang terbiasa menguliti realitas sosial dan mendengarkan narasi-narasi kemanusiaan, malam itu Kinar justru merasa seperti sedang menyaksikan panggung teater tragedi paling brutal, dan pelakonnya saudara-saudaranya sendiri.
Keheningan merayap begitu lama, berdetik di antara suara jangkrik kebun yang mulai menyahut. Sampai-sampai, justru Ratih yang memecah kesunyian itu terlebih dahulu. Perempuan sepuh itu menoleh perlahan, menatap anak bungsunya dengan sepasang mata yang, meskipun berusaha tegar, tidak bisa menyembunyikan gurat lelah batin yang dalam.
“Kinar, kamu tidak ikut pulang?” tanya Ratih. Suaranya mengalun teramat lembut, jenis kelembutan yang justru menggambarkan jenis luka tak terperikan.
Pertanyaan sesederhana itu, justru menjadi hantaman yang meruntuhkan seluruh pertahanan diri Kinar. Kata 'pulang' dari ibunya terdengar seperti pengusiran halus yang lahir dari rasa bersalah seorang ibu yang merasa telah menjadi beban bagi anak-anaknya.
Kinar tidak menjawab. Tenggorokannya mendadak tercekat rasa sesak luar biasa. Air matanya sejak tadi ia tahan di sudut mata kini merembes jatuh, mengalir deras membasahi pipinya. Tanpa memedulikan gengsi atau usianya yang kini sudah menjadi wanita dewasa mandiri di kota, Kinar langsung bangkit berdiri dan menghambur ke pelukan ibunya. Ia berlutut di lantai teras, menyandarkan kepalanya di pangkuan Ratih, dan terisak sejadi-jadinya di sana.
“Ibu... maafkan Mas Satria, Bu. Maafkan Mbak Arum, Mas Wistara,” ratap Kinar pecah di sela tangisnya. Bahunya terguncang hebat.
Ratih terdiam sesaat, lalu perlahan jemarinya yang mulai berkerut bergerak mengusap rambut panjang anak bungsunya. Sentuhan itu masih sama hangatnya seperti saat Kinar masih kecil dan menangis karena terjatuh dari sepeda. Di dalam dekapan ibunya, batin Kinar menjeritkan pembelaan yang sejak sore tadi mengendap di kepalanya. Di antara keempat anak Baskara Atmadja, Kinarlah yang memiliki frekuensi pemikiran paling beda. Ketika Satria berteriak tentang marwah keluarga, Arum menangisi kesucian masa lalu, dan Wistara menghitung sengketa aset, Kinar hanya melihat satu hal, seorang ibu, seorang perempuan bernama Ratih, yang berhak menentukan sisa napas hidupnya sendiri.
Ingatan Kinar berputar pada kejadian beberapa jam lalu, tepat saat Satria melontarkan kata-kata paling tajam dan kurang ajar kepada Ratih. Saat itu, darah Kinar mendidih. Jiwa idealisnya berontak. Ia bahkan sudah sempat menumpukan kedua tangannya di meja, bersiap untuk berdiri, menyela kesombongan kakak tertuanya itu dengan argumen bahwa Ratih bukan properti keluarga yang butuh izin anak-anaknya untuk bahagia. Namun, di bawah meja, tatapan mata Ratih yang menenangkan telah menahan langkahnya. Sebagai anak paling kecil, suaranya selalu dianggap belum matang dan kerap kalah dominan oleh hierarki saudara yang lebih tua, Kinar terpaksa mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk, menelan kembali bulat-bulat pembelaannya, dan membiarkan ego kakak-kakaknya menguasai ruangan.
Namun malam itu, dalam sunyi di bawah langit teras, Kinar tahu ia tidak boleh diam lagi. Suaranya, sekecil apa pun, harus didengar ibunya.