Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #14

Racun

Gerbang besi Jalan Kenanga nomor dua belas yang biasanya kokoh berwibawa, pagi itu terasa seperti dinding penyekat rapuh. Angin pagi membawa hawa dingin sisa hujan semalam, tetapi atmosfer di luar pagar, tepatnya di tikungan dekat pohon talok tempat gerobak sayur Pak Min biasa mangkal, terasa panas dan menggigit.

Ratih keluar dengan blus katun krem sederhana, menjinjing dompet kain kecil. Langkah kakinya konstan dan tenang, seperti biasa. Namun, begitu ujung selopnya menginjak aspal jalanan kompleks, ada sesuatu yang beda sedang bekerja.

Di dekat gerobak sayur, empat orang perempuan sedang berkerumun. Di tengah-tengah mereka, ada Bu Lastri, tetangga tiga rumah dari Wisma Astana, yang tangan kanannya sedang sibuk memilah-milih ikatan kangkung. Begitu sudut mata salah satu dari mereka, seorang wanita paruh baya berambut sasak tinggi yang sedang menimang tomat, menangkap bayangan Ratih, buru-buru ia menyenggol lengan Bu Lastri dengan sikutnya.

“Bintangnya keluar, Teman-Teman,” kata Bu Lastri lirih, membahasakan kode dari perempuan berambut sasak tadi. Kasak-kusuk yang semula riuh langsung terputus, digantikan oleh gerakan canggung tubuh mereka.

“Eh, Jeng Ratih... sugeng enjang,” sapa Bu Lastri, menoleh dengan senyum lebarnya, jenis senyuman yang tampak dibuat-buat. Ia meletakkan kangkungnya, lalu mengelap tangannya pada selembar tisu.

“Sugeng enjang, Bu Lastri, Ibu-Ibu,” sahut Ratih lembut, mengangguk santun kepada mereka semua. Ratih mendekat ke gerobak, meraih sebungkus tahu putih. Saat ia menunduk, ia bisa merasakan delapan pasang mata tidak lagi melihat ke arah sayuran, melainkan tertuju pada garis-garis keriput di wajahnya, pada sanggulnya, seolah mereka sedang mencari tanda-tanda kegilaan di sana.

“Lama tidak kelihatan di pengajian malam Jumat, Jeng? Biasanya paling sepuh, paling rajin,” celetuk Bu Lastri, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar oleh wanita berkacamata minus tebal, seorang istri pensiunan bank yang berdiri di sisi kiri gerobak. “Oh, atau mungkin sekarang lagi sibuk... ada urusan lebih penting di rumah?”

Ratih tersenyum tipis. “Kebetulan kemarin badan kurang fit, Bu.”

“Oh, kirain nenggo tamu istimewa,” sambung Bu Lastri lagi, tawanya berderai pendek, terdengar renyah namun mengandung pisau.

Wanita berkacamata minus di sebelahnya ikut tersenyum kecut, sambil pura-pura sibuk membolak-balik bungkusan cabai rawit. “Anak saya pernah cerita. katanya sempat melihat ibu di sebuah kedai bersama seseorang. Kami-kami ini kan jadi ikut senang, Jeng. Di usia kita yang sudah tinggal nunggu cucu, ternyata Jeng Ratih masih punya semangat muda. Luar biasa, lho. Kalau saya sih, boro-boro mikir yang lain, wis mikir akhirat, nggendong putu.”

Kalimat itu meluncur halus, berselimut pujian, namun racunnya langsung menyebar di udara. Perempuan berambut sasak tinggi di pojok gerobak mendadak terbatuk kecil, kode yang sangat dipahami dalam lingkaran pergaulan mereka.

Lihat selengkapnya