Wisma Astana sore itu terasa lebih dingin dari biasanya. Gorden-gorden beludru tebal di ruang tamu seakan sengaja menyerap seluruh cahaya matahari yang hendak masuk. Di meja jati berkaki singa, tiga cangkir teh hangat beraroma melati yang disajikan Ratih mengepulkan uap tipis, bersanding dengan stoples berisi penganan kecil. Aroma teh itu berkelindan dengan bau minyak kayu putih dan parfum mahal, aroma khas yang selalu dibawa para sesepuh Trah Atmadja.
Di sofa panjang, tiga orang dari keluarga mendiang Profesor Baskara duduk berjejer, menciptakan semacam barisan meja hijau yang siap menghakimi. Di tengah, duduk Pakde Broto, kakak tertua Baskara yang rambutnya telah memutih sempurna namun memiliki sorot mata setajam elang. Di sebelah kanannya, Pakde Bagyo melipat kaki, jemarinya mengenakan cincin akik besar, sesekali mengetuk-ngetuk pegangan kursi. Sementara di sebelah kiri, Bulik Hera sibuk merapikan letak selendang sutranya dengan gerakan-gerakan kecil yang gelisah.
Ratih duduk di kursi tunggal, berhadapan langsung dengan ketiganya. Posisinya sengaja dibuat menyendiri, sebuah benteng pertahanan rapuh namun tampak tegak.
“Ratih,” Pakde Broto membuka suara. Bicaranya berat, parau, dan berwibawa, menggunakan bahasa Jawa krama inggil yang teratur, jenis bahasa yang digunakan bukan untuk dialog, melainkan menjatuhkan titah. “Kedatangan kami bertiga sore ini ke sini tentu bukan tanpa sebab. Kamu sendiri pasti sudah tahu apa yang sedang bergulir di luar pagar rumah ini.”
Ratih mengangguk takzim, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. “Nggih, Pakde. Saya mengerti.”
“Kami mendengar dari Satria dua hari lalu. Dia datang ke rumah dalam keadaan sangat memprihatinkan untuk seorang anak tertua,” Pakde Broto menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan ruang tamu mempertegas bobot kata-katanya. “Satria bercerita bahwa ibunya, perempuan yang selama puluhan tahun menjaga marwah dan nama baik adik saya, Profesor Baskara Atmadja, berniat melakukan langkah yang... di luar nalar kepatutan keluarga.”
Sebelum Ratih sempat merespons, Pakde Bagyo berdehem panjang, kebiasaan lama sejak masih aktif sebagai akademisi senior sebelum menjatuhkan vonis pada mahasiswanya. “Bukan cuma dari Satria, Kangmas Broto,” potong Pakde Bagyo, sorot matanya dingin menembus lensa kacamatanya, langsung menghunjam ke arah Ratih. “Saya masih sering diundang ke kampus, masih sering bertemu kolega mendiang suamimu, Ratih. Kamu tahu apa yang saya dengar di ruang dosen akhir-akhir ini? Sindiran. Pertanyaan-pertanyaan miring tentang janda Profesor Baskara yang katanya sedang dekat dengan seorang... seniman sketsa jalanan?”
Pakde Bagyo mendengus kecil, memutar-mutar cincin akiknya dengan raut wajah masygul. “Secara logika umumnya, Ratih, ini tidak masuk akal. Kamu itu janda guru besar yang dihormati. Anak-anakmu sukses, mapan, berada di strata sosial yang tinggi. Lalu kamu mau mengorbankan semua tatanan itu hanya untuk... pemenuhan emosional di usia senja? Tolong dipikir pakai nalar sehat. Mau ditaruh di mana muka keluarga besar Atmadja?”
Ratih tetap bergeming. Wajahnya laksana telaga tenang, tak menunjukkan riak kepanikan sedikit pun menghadapi serangan pertama dari kedua ipar laki-lakinya. Ia menarik napas dalam, bersiap memberi jawaban paling mendasar dari dalam batinnya.