Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #16

Suara Seberang

Sejak niatnya menikah lagi disampaikan pertama kali di hadapan anak-anaknya, ketenangan Wisma Astana seolah runtuh. Kabar yang semula menjadi rahasia domestik dengan cepat merembes keluar, menggelinding dari mulut ke mulut, hingga memuncak pada sidang melelahkan bersama para sesepuh Trah Atmadja kemarin sore. Wisma Astana mendadak berubah serupa tempat ziarah yang tak pernah sepi. Orang-orang silih berganti datang tanpa aba-aba. Ada yang bertamu membawa hantaran sekadar mengonfirmasi gunjingan, ada yang berpura-pura simpati, hingga kerabat jauh yang tiba-tiba datang membawa penghakiman berselubung perhatian. Rumah besar yang selama hampir dua tahun senyap dalam duka, kini dipaksa menerima riuh langkah kaki orang-orang yang merasa berhak mengatur sisa umur Ratih.

Hari ini pun tampaknya badai itu belum reda, karena sore ini ruang tamu Wisma Astana kembali kedatangan tamu. Mereka datang dari kalangan saudara kandung Ratih sendiri. Dari gurat wajah, nuansa yang menguar dari mereka berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Perbedaan itu pun terlihat dari apa yang disajikan Ratih di meja jati. Kali ini, ia hanya menyajikan wedang jahe hangat dengan gula batu dan sepiring pisang rebus, penganan sederhana yang biasa mereka nikmati belasan tahun lalu saat orang tua mereka masih hidup. Namun, keheningan itu rupanya terasa jauh lebih meremas dada.

Di hadapan Ratih, duduk Mbak Utari, kakak perempuan tertua dengan tubuh yang mulai membungkuk dimakan usia. Di sebelahnya ada Dik Bowo, duduk dengan posisi kikuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut, sesekali meremas jemarinya sendiri sembari menatap lantai dengan wajah rikuh.

Mbak Utari tidak memulai percakapan dengan ketukan tongkat atau bahasa krama inggil seperti Pakde Broto. Perempuan sepuh itu justru menggeser duduknya, meraih jemari Ratih, lalu menggenggamnya dengan gemetar. Kulit tangan yang sama-sama keriput itu saling bertaut.

“Ratih, Cah Ayu...” Mbak Utari membuka suara. Bicaranya agak serak, sarat akan getaran emosi seorang kakak. Air matanya mengambang di pelupuk mata sebelum kalimat pertama selesai. “Mbakyu datang ke sini bukan mau memarahimu. Demi Allah, Ratih... Mbakyu ndak punya hak untuk itu. Mbakyu ke sini karena batin mbakyu ndak tenang setelah Satria datang ke rumah sambil nangis-nangis.”

Ratih menatap wajah kakaknya dengan kelembutan. “Nggih, Mbakyu. Ratih ngerti.”

“Kabarnya keluarga Atmadja kemarin ke sini,” Dik Bowo memberanikan diri membuka suara, meskipun nadanya pelan dan ragu. Ia membetulkan posisi duduknya, menatap Ratih dengan sepasang mata cemas. “Satria juga cerita ke saya, Mbak. Mereka pasti menekan Mbak Ratih habis-habisan. Kami sebagai saudaramu ikut kepikiran. Kami takut Mbak Ratih ndak kuat menghadapi benturan dari keluarga besar almarhum Mas Baskara.”

Mbak Utari mengangguk, setitik air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. Ia menyekanya dengan ujung selendang luriknya. “Bukan cuma keluarga Atmadja, Ratih. Di luar sana, rasan-rasan tetangga sudah sampai ke pasar, dan grup pengajian Mbakyu. Mereka bilang yang bukan-bukan tentang kamu. Mbakyu sakit hati mendengarnya, Ratih. Mbakyu ndak terima adikku yang selama ini hidup terhormat, dibilang gatel, dan keblinger.”

Genggaman tangan Mbak Utari mengencang, seakan ia sedang berusaha menarik Ratih keluar dari jurang tak terlihat. “Kamu itu sudah sepuh, Ratih. Hidupmu lebih dari cukup. Rumahmu sebesar kraton, anak-anak sukses, uang pensiun Mas Baskara juga tidak kurang untuk makan tujuh turunan. Kenapa toh, Nduk... kenapa kamu malah nyari perkara yang bisa bikin hidupmu rusak?” ratap Mbak Utari, suaranya sedikit naik, bukan karena marah, melainkan karena frustrasi dari rasa sayangnya. “Nekat menikah lagi di usia begini berat jalannya, Ratih. Tekanan sosial masyarakat itu kejam. Kamu ndak akan kuat sendirian menahan gunjingan orang-orang.”

Dik Bowo menarik napas dalam-dalam, ikut menimpali dengan nada memohon. “Mbak Utari benar, Mbak Ratih. Kita ini dari keluarga biasa. Sejak dulu kita tahu diri di hadapan keluarga besar Profesor Baskara. Sekarang, kalau Mbak Ratih nekat nikah lagi, anak-anak Mbak Ratih pasti akan menjauh. Satria sudah mengancam tidak mau menganggap Mbak Ratih sebagai ibu lagi. Arum dan Wistara merasa malu. Apa Mbak Ratih tegel hidup dimusuhi darah daging sendiri yang lahir dari rahimmu?”

Lihat selengkapnya