Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #17

Sisi Lain Kamajaya

Senja di pekarangan luas yang ditumbuhi beberapa pohon peneduh, sebuah bangunan joglo berdiri tanpa dinding, membiarkan angin sore bebas keluar masuk dari arah mana saja. Joglo itu berada tepat di tengah, bukan sebagai benteng pembatas, melainkan jantung yang selalu berdenyut bagi siapa saja, tetangga yang ingin sekadar meluruskan kaki, pemuda kampung yang belajar mencoretkan garis sketsa, atau pengelana yang butuh segelas teh hangat. Di belakang joglo itu, berderet lima bangunan kecil sederhana yang menjadi tempat bernaung Kamajaya bersama anak-cucunya. Kehidupan itu mengalir tanpa aturan rumit, sangat kontras dengan kemegahan Wisma Astana yang beku dan berjarak.

Di selasar bangunan tengah yang menjadi ruang pribadi Kamajaya, kepulan asap rokok kretek membubung tipis, berbaur dengan aroma kopi hitam. Darma, adik kandung Kamajaya, duduk berselonjor sembari sesekali membetulkan letak sarungnya. Kedatangannya yang tanpa aba-aba dari luar kota, sebuah kebiasaan dolan yang lumrah di keluarga mereka, kali ini membawa rasa berbeda di wajahnya yang biasanya gemar bercanda.

Di dekat mereka, Kukuh sedang sibuk membersihkan beberapa kuas dengan minyak tanah, sementara Sekar baru saja meletakkan sepiring ketela pohon kukus yang masih ngebul di amben bambu. Meskipun tangan dan mata mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing, telinga kedua anak Kamajaya itu sepenuhnya tertuju pada obrolan dua orang sepuh di hadapan mereka.

 “Jadi, berita itu beneran, Kang?” Darma membuka suara setelah menyeruput kopi hitamnya hingga tandas setengah. Ia menatap kakaknya yang duduk tenang dengan kaus oblong putih polos yang sudah agak menguning di bagian kerah. “Bukannya aku mau ikut campur urusan batinmu, Kang. Tapi rasan-rasan di luar sudah sampai ke telingaku. Nama Bu Ratih itu... berat banget kalau didengar telinga orang kecil seperti kita.”

Kamajaya hanya tersenyum tipis, jemarinya yang legam oleh guratan tinta menepuk-nepuk lututnya sendiri dengan santai. “Kabar itu tidak salah, Darma. Kami memang berniat mengikat sisa umur bersama. Kenapa? Apa kopimu sore ini jadi terasa hambar karena mendengar kabar itu?”

 “Ah, Kang Kama ini ditanya sungguhan malah guyon,” Darma mendesah, seraya menatap ke arah Kukuh dan Sekar, seolah meminta dukungan dari mereka. “Ini bukan soal rasa kopi, Kang. Tapi soal benturan dunia. Sampeyan itu seniman, biasa urip longgar. Rumahmu saja Joglo blak-blakan gini, siapa saja boleh masuk tanpa permisi. Sementara Bu Ratih? Beliau itu janda Profesor Baskara, lahir dan besar di lingkaran Trah Atmadja yang jangankan orangnya, pagar rumahnya saja kelihatan angkuh.”

Kukuh meletakkan kuas yang sedang dibersihkan ke dalam kaleng. Anak sulung Kamajaya itu menggeser duduknya mendekat ke amben. “Maksud Paklik Darma benar, Pak. Saya dan Sekar sebenarnya juga kepikiran sejak Bapak cerita tempo hari. Kami tidak melarang Bapak mencari teman hidup, demi Allah kami malah senang kalau Bapak ada yang mengurus. Tapi apakah Bapak sudah mengukur tebalnya tembok keluarga mereka? Orang-orang seperti Trah Atmadja punya aturan hidup yang serba ditakar. Hidup mereka penuh aturan priyayi. Kami takut, Bapak nanti malah merasa dikurung dan kehilangan kemerdekaan batin yang selama ini Bapak rawat di rumah ini.”

Sekar menyeka tangannya yang basah dengan jariknya, lalu duduk di samping Kukuh. Matanya peka menatap wajah sang ayah dengan pancaran cemas yang tulus. “Nggih, Pak. Bukan cuma soal batin Bapak yang takut terkungkung. Sekar ini perempuan, rasanya kok ndak tegel kalau nanti Bapak diremehkan anak-anak Bu Ratih. Kami mendengar anak sulungnya orang gedean yang sangat menjaga wibawa mendiang ayahnya. Kalau mereka menganggap Bapak punya niat yang bukan-bukan terhadap harta atau nama besar ibunya, bagaimana? Kami ndak mau ketenteraman hidup kita terusik urusan harga diri orang-orang besar itu, Pak.”

Mendengar rentetan kecemasan dari adik dan anak-anaknya, Kamajaya tidak lantas menunjukkan gelagat perlawanan. Ia justru meraih sepotong ketela kukus, meniupnya, lalu mengunyahnya dengan khidmat. Di matanya, tidak ada kilat kemarahan, yang ada hanya kedalaman pandangan seorang laki-laki yang sudah kenyang mengecap asam garam kehidupan, siap membentangkan cara pandangnya yang melampaui sekat ketakutan duniawi mereka.

Kamajaya menghabiskan sisa ketela kukus di tangannya, membersihkan jemarinya dengan saputangan kain yang ditarik dari saku celana. Ia menatap Darma, beralih ke Kukuh, dan terakhir mandek agak lama pada sepasang mata Sekar yang masih diliputi cemas. Suasana di selasar bangunan tengah itu mendadak luruh dalam hening, hanya menyisakan suara jangkrik yang mulai mengerik di sela-sela rumput pekarangan.

“Darma, Kukuh, Sekar...” Suara Kamajaya pelan namun memiliki artikulasi jelas, khas seorang guru sedang menjabarkan garis sketsa kehidupan. “Kalian cemas karena melihat aku dan Bu Ratih seperti minyak dan air. Kalian takut aku dikebiri kekakuan priyayi mereka, dan kalian juga takut harga diri keluarga kita di lima bangunan kecil ini diinjak-injak keluhuran pangkat mereka. Pertanyaan bapak cuma satu, menurut kalian, apakah kebahagiaan sejati lahir dari dua hal yang serba sinkron dan serba nyaman?”

Ketiganya terdiam. Darma yang tadinya hendak menyela, mendadak mengunci mulutnya kembali.

“Selama ini, kita menganggap perbedaan sebagai ancaman. Orang-orang di luar, baik keluarganya Bu Ratih maupun tetangga kita, selalu ribut mencari kesamaan sebelum berani melangkah. Harus sama pangkatnya, harus setara derajatnya, harus laras adatnya.” Kama tersenyum, tatapannya menerawang menembus joglo terbuka di depan mereka. “Padahal, di kanvas hidup ini, kebahagiaan sejati justru hanya bisa direngkuh oleh orang-orang yang sudah berdamai dengan perbedaan. Kalau aku hanya mau mencari perempuan yang karakternya longgar sepertiku, yang rumahnya sehalaman dengan seniman, aku tidak sedang meluaskan batin. Aku hanya sedang mencari cermin untuk egoku sendiri.” Kama menggeser duduknya, menepuk pundak Kukuh yang masih memegang kaleng kuas.

“Kalian takut bapakmu ini terkungkung aturan Trah Atmadja? Menghadapi kekakuan Bu Ratih dan keluarganya itu bukan musibah, Kukuh. Itu ruang kontemplasi baru buat bapak. Jiwa yang merdeka tidak pernah bisa dikurung tembok setinggi apa pun atau aturan sekaku apa pun. Kalau bapak masuk ke sana lalu bapak merasa tersiksa, berarti kemerdekaan batin yang bapak sombongkan selama ini palsu, karena hanya bisa tumbuh di tempat longgar seperti rumah kita ini.”

Kukuh menunduk. Kalimat ayahnya meruntuhkan seluruh logika praktis yang dibangunnya sejak sore tadi.

Lihat selengkapnya