Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #18

Sauh

Wisma Astana malam itu menjelma kotak hampa yang terlampau luas untuk dihuni oleh raga yang sedang patah. Setelah Mbak Utari dan Dik Bowo berpamitan, Ratih tidak lantas pergi ke kamar tidur. Ia memilih berjalan tanpa arah yang jelas, hingga langkah kakinya mandek di selasar belakang, menghadap ke arah taman yang gulita. Kepalsuan sosial yang melelahkan di ruang tamu tadi menyisakan rasa sepi yang mendadak mencekik leher. Rumah besar itu, yang sepanjang beberapa hari dipaksa menerima riuh langkah kaki orang-orang yang datang menghakimi, kini mendadak senyap, meninggalkan Ratih sendirian bersama sisa energi yang sudah tandas ke dasar bumi.

Di bawah temaram lampu gantung yang bergoyang pelan ditiup angin malam, Ratih mendudukkan dirinya di kursi rotan tua. Di bawah langit malam pekat tanpa bintang, topeng ketegaran yang ia kenakan di depan anak-anak dan saudara-saudaranya jatuh berkeping-keping. Ratih melipat kedua lututnya, memeluknya erat, lalu menyandarkan keningnya di sana. Tubuhnya mendadak bergetar hebat. Bukan karena marah, bukan pula menyesali keputusan bulatnya untuk menikah dengan Kamajaya. Ia hanya sedang ditagih rasa lelah yang selama ini ia pasung di balik kalimat-kalimat tegasnya.

Untuk pertama kalinya dalam sekian bulan, Ratih bersedia mengakui di dalam hatinya sendiri bahwa ia adalah makhluk yang teramat lemah. Ia lelah berpura-pura menjadi perempuan baja yang kebal peluru. Di balik dinding batinnya yang kokoh, raga yang mulai sepuh itu sebenarnya sedang menjerit meminta jeda. Detak jantungnya terasa ringkih, dan persendiannya ngilu seolah-olah seluruh tulang penyangga tubuhnya telah keropos dihantam ketegangan berhari-hari. Air matanya mengalir bukan bentuk kekalahan terhadap keadaan, melainkan tanda bahwa jiwanya sudah kehabisan napas setelah dipaksa terus-menerus siaga di baris depan pertempuran keluarga. Dalam kesunyian yang meremas dada, Ratih merasa seperti selembar daun kering yang terlepas dari ranting, pasrah, rapuh, dan membutuhkan sepasang tangan yang sudi merengkuhnya tanpa menuntutnya kembali menjadi kuat.

Di belahan kota yang lain, waktu bergerak dalam sunyi serupa namun memiliki tabiat berbeda. Sejak keputusan bulat untuk mengikat janji suci dideklarasikan keduanya, takdir seolah sengaja menarik tuas rem, menciptakan jeda yang teramat panjang di antara langkah mereka. Ratih dan Kamajaya tidak lagi saling menemui. Bukan karena api di dada mereka meredup, melainkan karena keduanya sama-sama tahu diri, mereka sedang dikepung badai domestik di benteng masing-masing. Kamajaya, dengan segala kepekaan seorang seniman, sengaja menarik diri ke baris belakang, memberikan ruang seluas-luasnya bagi Ratih untuk menuntaskan perkara di dalam lingkaran Trah Atmadja tanpa ingin terlihat seperti provokator yang mengebiri wibawa sang janda Profesor. Namun, jarak yang membentang berminggu-minggu itu lambat laun menjelma kerinduan yang sunyi, sebuah jeda yang membuat getar komunikasi di antara keduanya terasa begitu mahal dan dinantikan.

Malam semakin larut ketika Ratih masih terduduk di kursi rotan selasar belakang, membiarkan dinginnya angin malam meresap ke pori-pori kulitnya yang mulai ringkih. Di meja kaca kecil di sampingnya, benda persegi pipih tergeletak diam. Ponsel itu seolah ikut membeku, setelah seharian memuntahkan rentetan pesan penuh desakan dari kerabat jauh, sepupu, hingga panggilan telepon dari anak-anaknya yang tak lelah melempar interogasi. Ratih sengaja mematikan semua nada deringnya. Ia tidak ingin lagi mendengar suara dunia luar yang selalu menuntutnya menjadi orang lain.

Namun, tepat ketika jarum jam merayap mendekati angka sebelas malam, layar ponsel itu mendadak menyala tanpa suara. Pendar cahayanya yang putih kebiruan memotong kegelapan selasar. Ratih menggeser duduknya, mengulurkan tangan yang agak gemetar, lalu meraih benda itu dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Ada satu notifikasi pesan pendek yang masuk. Bukan dari nama-nama yang seharian ini membuatnya jengah. Nama pengirimnya singkat, namun seketika membuat detak jantung Ratih yang semula ringkih mendadak berdesir dengan ritme yang berbeda: Kamajaya.

Ratih menahan napas sejenak sebelum menyentuh layar untuk membuka pesan itu. Di dalamnya, tidak ada rentetan pertanyaan banal seperti "Bagaimana keadaanmu?" atau "Apakah keluargamu masih marah?". Kamajaya adalah seorang penjelajah batin, ia tidak menggunakan bahasa yang melelahkan untuk menyapa jiwa terluka. Di dalam ruang obrolan itu, Kama mengirim sebuah gambar digital, foto coretan tangan terbarunya yang dibuat di selembar kertas lecek.

Sketsa garis tunggal. Sebuah teknik satu goresan pena dengan tinta hitam meliuk tanpa putus di permukaan putih, membentuk siluet jendela kayu terbuka, dengan garis vertikal tipis di luarnya hingga samar-samar menyiratkan siluet bulan sabit. Gambar itu begitu sederhana, begitu sunyi, namun menyimpan kemerdekaan ruang lapang. Di bawah lampiran foto sketsa itu, sebuah pesan teks pendek tertulis dengan gaya bahasa Kama yang bersahaja namun menghanyutkan:

Lihat selengkapnya