Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #19

Boikot

Keputusan Ratih untuk tetap melangkah bersama Kamajaya ternyata direspons anak-anaknya bukan dengan ledakan kemarahan yang sesaat, melainkan dengan strategi senyap, rapi dan dingin. Satria, sebagai anak sulung yang merasa paling terluka wibawanya, paham betul bahwa ibunya bukan tipe perempuan yang bisa ditundukkan dengan gertakan kasar atau air mata buatan. Ratih selalu punya jawaban pas, sebuah perisai logika dan ketenangan batin yang sanggup mementahkan setiap tekanan verbal dari Mbak Utari maupun Dik Bowo. Maka, di balik layar, Satria mulai menggerakkan bidak-bidak catur yang lebih besar. Ia memanfaatkan jaringan relasi, pengaruh kuasanya, serta sisa-sisa pengaruh mendiang Profesor Baskara untuk menciptakan tembok tak kasatmata yang pelan-pelan mengepung Wisma Astana.

Gerakan bawah tanah itu dilakukan secara terbagi namun dengan satu muara. Satria mulai menghubungi satu per-satu pilar utama keluarga besar Baskara, para sepupu senior, kolega akademik mendiang ayahnya, hingga tokoh-tokoh sepuh yang selama ini dihormati dalam trah. Lewat obrolan-obrolan telepon yang dikemas dalam nada prihatin dan santun khas pejabat, Satria menebar kabar tentang ‘kondisi psikologis Ibu yang sedang tidak stabil di usia senja.’ Ia tidak mengumpat, ia justru berakting sebagai anak berbakti, yang cemas melihat ibunya rentan dimanfaatkan orang asing.

Efek dari manuver Satria langsung terasa seperti udara yang pelan-pelan dipompa keluar dari dalam rumah Ratih. Satu-satu, kegiatan sosial yang biasanya menempatkan Ratih sebagai sesepuh mulai dibatalkan sepihak. Pertemuan rutin yayasan kebudayaan yang biasanya digelar di pendopo Wisma Astana mendadak dipindah ke tempat lain dengan alasan teknis. Kolega-kolega lama Baskara yang biasanya rajin mengirim bingkisan atau sekadar singgah, tiba-tiba lenyap, seolah-olah rumah besar itu telah ditandai sebagai zona karantina yang berbahaya untuk didekati.

Sementara Satria bergerak di level formal dan keluarga besar, Arum mengambil porsi untuk memutus urat nadi domestik ibunya. Arum mulai mendatangi beberapa kerabat dekat dan lingkaran pertemanan Ratih di arisan maupun perkumpulan sosial kompleks. Dengan bahasa yang halus namun berbisa, Arum menyiratkan bahwa mendekati ibunya saat ini hanya akan memperkeruh suasana internal keluarga. Akibatnya, ponsel Ratih yang biasanya ramai oleh undangan pengajian atau sekadar rasan-rasan santai antar-ibu, kini benar-benar membisu. Boikot senyap ini bekerja dengan tingkat presisi yang mengerikan, membuat Ratih terjebak di tengah-atmosfer Wisma Astana yang mendadak berubah asing dan dingin, terisolasi total dari dunia yang selama puluhan tahun ia rawat dengan penuh pengabdian.

Jika Satria memotong jalur sosial di tingkat trah tinggi dan Arum membekukan lingkaran pertemanan di permukaan, maka Wistara mengambil bagian yang paling dingin sekaligus pragmatis. Sebagai anak yang banyak bersentuhan dengan urusan praktis dan administrasi peninggalan mendiang ayahnya, Wistara mulai melakukan pembatasan akses secara halus. Rekening bersama yang biasanya digunakan untuk pengelolaan rutin Wisma Astana. termasuk dana perawatan taman hias yang menjadi kegemaran Ratih, mulai ditinjau ulang dengan alasan pembenahan pajak dan audit internal keluarga. Wistara bahkan dengan sengaja menunda pengiriman beberapa kebutuhan logistik rumah tangga yang biasanya rutin dikirim ke Wisma Astana. Pesannya jernih tanpa perlu diucapkan lewat kata-kata kasar: selama Ratih belum melipat niatnya untuk bersanding dengan Kamajaya, seluruh kenyamanan hidup yang disokong oleh nama besar Baskara akan pelan-pelan ditarik dari tangannya.

Boikot berlapis itu akhirnya bekerja. Dalam hitungan minggu, Wisma Astana tidak hanya terasa sepi, melainkan benar-benar mati. Ratih berdiri di ambang jendela ruang tengah, menatap pekarangan depan yang biasanya sore-sore kedatangan tetangga atau kurir yang mengantar surat. Kini, yang tersisa hanyalah bayang-bayang pohon mangga yang memanjang kaku di rumput. Ponselnya yang tergeletak di meja bundar seharian tidak berkedip. Keadaan itu menciptakan jenis kehancuran yang berbeda di dalam dada Ratih. Itu bukan lagi sekadar rasa sepi atau lelah fisik seperti malam-malam pasca-sidang keluarga, itu adalah perasaan terisolasi, sebuah momen di mana Ratih merasa dirinya benar-benar sengaja dihapus dari peta kehidupan oleh darah dagingnya sendiri.

Namun, di tengah pekatnya rasa runtuh itu, muncul kesadaran baru di benak Ratih. Sebuah kesadaran yang sangat dingin, pahit, dan belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sembari menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela, Ratih tersenyum getir. Selama puluhan tahun hidup di Wisma Astana, baik anak-anaknya, saudara kandungnya, maupun seluruh Trah Atmadja, ternyata tidak pernah melihat dirinya sebagai manusia utuh. Manusia yang punya rasa lapar akan kebahagiaan, manusia yang batinnya bisa rindu kehangatan dialog, atau manusia yang berhak menentukan ke mana sisa umurnya akan berlabuh. Bagi mereka, Ratih hanya arca pualam yang diletakkan di sudut rumah besar itu. Ia tidak lebih dari penjaga makam yang setia, abdi yang tugas tunggalnya hanya duduk bersila, membakar dupa, dan memastikan marwah kesucian nama Profesor Baskara tetap wangi di mata publik, tanpa peduli jiwa dalam raga sang penjaga sudah lama mati kehabisan udara.

Lihat selengkapnya