Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #20

Kesadaran Kinar

Sejak awal mula riak pernikahan ibunya mencuat ke permukaan dan memicu badai di keluarga besar, Kinar adalah satu-satunya anak yang memilih berdiri di sisi Ratih. Ketika Satria melempar interogasi dengan nada pejabat yang tersinggung wibawanya, atau ketika Arum dan Wistara mulai menyusun barikade boikot yang dingin, Kinar memilih diam dan mendengarkan. Namun, keberpihakan Kinar sesungguhnya bukan dukungan buta tanpa cela. Di balik ketenangannya membela sang ibu, di lubuk batinnya paling dalam, secuil kecemasan tetap tumbuh merambat.

Kekhawatiran Kinar sama sekali tidak memiliki watak yang serupa dengan ketakutan saudara-saudaranya. Ia tidak peduli pada omongan miring Trah Atmadja, tidak pula cemas jika nama besar mendiang ayahnya, Profesor Baskara, akan memudar dalam ingatan publik. Satu-satunya hal yang terus mengusik tidur Kinar beberapa minggu belakangan adalah sebuah pertanyaan tunggal yang teramat benderang, apakah ibunya benar-benar akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Kamajaya? Kinar takut jika keputusan ibunya melangkah ke dunia seniman yang longgar hanya pelarian sesaat dari rasa jenuh, yang kelak justru berpotensi menoreh luka baru di usia senjanya. Mungkin karena dipengaruhi kecemasan itu, kerinduan Kinar pada ibunya sering muncul begitu saja.

Malam itu, Kinar baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai jurnalis untuk meliput sebuah festival kebudayaan yang digelar di gedung kesenian kota. Kebetulan, letak gedung itu tidak terlampau jauh dari Wisma Astana, hanya terpisah beberapa blok jalan protokol. Usai merampungkan catatan liputan dan mengirim draf berita ke kantor redaksi lewat ponselnya, Kinar menatap jam di pergelangan tangannya. Jarum jam merayap hampir menyentuh pukul sepuluh malam. Rasa lelah mendera pundaknya mendadak luruh oleh kerinduan yang tiba-tiba menyergap. Lagi-lagi ia merindukan ibunya. Sudah lebih dari dua minggu tidak menginjakkan kaki di Wisma Astana karena kesibukan kerja, dan ia tahu betul bahwa belakangan ibunya sedang diisolasi secara senyap oleh Satria dan saudara-saudaranya yang lain.

Kinar memutuskan pulang ke rumah masa kecilnya itu. Ia sengaja tidak menelepon atau mengirim pesan terlebih dahulu. Di dalam kepalanya, terbersit keinginan kecil seorang anak perempuan untuk memberi kejutan manis bagi sang ibu, mungkin datang membawa sebungkus martabak manis kesukaan Ratih, lalu duduk bersama di ruang tengah sambil mendengarkan ibunya bercerita.

Namun, alih-alih memberi kejutan, justru Kinarlah yang malam itu dihantam oleh kejutan yang teramat mengerikan. Ketika mobil yang dikendarainya perlahan memasuki pintu gerbang Wisma Astana yang tidak terkunci, Kinar mendadak merasakan atmosfer yang sangat asing. Rumah besar berarsitektur kolonial itu tampak gulita di bagian depan. Hanya ada satu pendar lampu selasar yang menyala redup, melemparkan bayang-bayang buram pohon mangga ke dinding putih. Tidak ada suara televisi yang biasanya sayup terdengar dari ruang tengah. Tidak ada tanda-tanda keberadaan asisten rumah tangga yang sibuk dengan kerjaan rumah. Wisma Astana malam itu menjelma kotak beton raksasa, hampa, dan mati.

Kinar mematikan mesin mobilnya tanpa menimbulkan banyak suara. Ia melangkah turun, menutup pintu mobil dengan sangat pelan, lalu berjalan mengendap-endap menyusuri selasar samping menuju teras kecil yang menghadap ke taman bagian dalam. Langkah kakinya yang beralas sepatu kanvas melangkah di ubin tua tanpa bunyi. Semakin ia melangkah ke dalam, rasa ngeri bercampur linu mendadak meremas dadanya. Kesunyian di rumah itu tidak wajar, jenis kesunyian yang menekan, sebuah sunyi yang lahir karena tempat itu sengaja ditinggalkan dan dikosongkan dari kehidupan oleh orang-orang.

Lihat selengkapnya