Malam itu, ketika Wisma Astana telah sepenuhnya ditelan keheningan pekat akibat boikot senyap dari anak-anaknya, Ratih tidak menyalakan ponselnya ataupun lampu ruang tengah yang benderang. Ia memilih duduk di meja kayu kecil di kamarnya, ditemani pendar lampu meja berwarna kekuningan. Di meja itu, tidak ada layar sentuh yang dingin atau ketukan bising papan tik. Hanya ada beberapa lembar kertas HVS putih polos, pena bertinta hitam, dan keheningan malam yang terasa khidmat. Ratih menarik napas dalam-dalam, merasakan dinginnya udara malam meresap ke dadanya, lalu mulai menggerakkan jemarinya. Ia memilih menulis surat fisik. Di zaman ketika segala urusan bisa diselesaikan dengan sekali ketuk di layar ponsel, Ratih sengaja memilih jalan lambat itu, bukan karena ia gagap teknologi, melainkan karena ia ingin menyuntikkan keintiman biologis yang tidak bisa ditiru deretan piksel digital. Ia ingin anak-anaknya merasakan guratan tangannya, jeda napasnya yang tertinggal di antara spasi, dan tanda bahwa ia tetap menganggap mereka ada sebagai darah dagingnya, bukan sebagai musuh yang harus didebat lewat pesan instan.
Pena hitam itu mulai menari di kertas, menorehkan aksara rapi, mencerminkan ketenangan batin seorang ibu yang sudah purna dengan pergolakan egonya sendiri.
Anak-anakku yang ibu kasihi: Satria, Arum, Wistara, dan Kinar. Malam ini, ketika Ibu menulis surat ini, Wisma Astana sedang sangat sunyi. Kesunyian yang beberapa minggu terakhir kalian bangun dengan begitu rapi di sekeliling Ibu. Ibu tahu tentang pembatasan rekening yang Wistara lakukan, Ibu tahu tentang pesan-pesan senyap yang Arum tebarkan ke lingkaran arisan Ibu, dan Ibu sangat paham tentang jaringan relasi Trah Atmadja yang Satria gerakkan untuk membuat rumah ini menjelma zona karantina. Ibu menerima itu semua tanpa rasa benci sedikit pun. Ibu tahu, di balik dinginnya boikot yang kalian galang, sesungguhnya ada rasa cemas yang menyamar jadi amarah. Kalian takut marwah keluarga kita runtuh, kalian takut nama besar bapakmu, Profesor Baskara, akan memudar dari ingatan orang-orang.
Namun, lewat lembaran kertas ini, Ibu ingin mengajak kalian duduk sejenak. Lepaskan dulu pangkat pejabatmu, Satria. Letakkan dulu kalkulasi duniamu, Wistara dan Arum. Mari kita bicara sebagai ibu dan anak-anak yang dulu pernah menyusu di rahim yang sama.
Selama bertahun-tahun sejak kepergian bapakmu, kalian melihat Ibu sebagai sosok agung di rumah besar ini. Kalian bangga melihat Ibu setia merawat Wisma Astana, duduk bersila membakar dupa kenangan, dan menjaga kesucian nama peninggalan Profesor Baskara agar tetap wangi di mata publik. Tetapi, pernahkah sekali saja di antara kalian datang di tengah malam seperti ini, menatap mata Ibu, dan bertanya apakah jiwa di dalam raga menua ini masih bernapas? Pernahkah kalian menyadari bahwa selama ini kalian tidak sedang merawat seorang ibu, melainkan sedang mengurung seorang manusia dalam kuburan megah bernama tradisi? Kalian menuntut Ibu menjadi penjaga makam yang sempurna, tanpa pernah peduli bahwa penjaga makam itu juga seorang manusia biasa yang kesepiannya sudah mengeras hingga ke tulang.
Anak-anakku, keputusan Ibu untuk melangkah bersama Kamajaya bukan pelarian kekanak-kanakan, bukan pula bentuk pengkhianatan terhadap masa lalu. Justru sebaliknya. Mencintai Kamajaya adalah cara Ibu untuk menghargai dan merayakan kembali esensi kehidupan yang dulu pernah Ibu bangun bersama bapakmu, Baskara. Dulu, bersama Bapak, Ibu belajar bahwa hidup ini harus dirawat dengan penuh pengabdian dan cinta utuh. Ketika Bapak pergi, tugas Ibu merawatnya hingga detik terakhir hayatnya sudah purna Ibu lakukan dengan khidmat. Lalu, apakah setelah tugas itu selesai, Ibu harus mematikan seluruh rasa kemanusiaan Ibu?Apakah menghormati orang mati harus dilakukan dengan cara ikut mati sebelum jasad Ibu sendiri masuk ke liang kubur? Tidak, anak-anakku. Bapakmu Baskara adalah laki-laki cerdas dan berjiwa lapang; ia tidak akan pernah menuntut istrinya untuk mengemis sisa umur dalam kesepian yang menyiksa hanya demi gengsi sosial semu.
Pena hitam di jemari Ratih terus mengalir, menggoreskan larik-larik kalimat yang semakin dalam membedah esensi kemerdekaan batinnya. Di bawah pendar lampu meja kuning temaram, surat itu berlanjut tanpa sedikit pun nada ancaman, melainkan ketegasan yang lahir dari jiwa yang telah selesai dengan ketakutannya sendiri.