Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #22

Kebingungan Massa

Efek dari empat pucuk surat yang ditulis Ratih dengan taruhan lelah jemarinya malam itu bekerja serupa ledakan senyap yang meruntuhkan menara keangkuhan anak-anaknya. Satria, penerima pertama amplop putih itu di meja kantor kedinasannya yang megah. Ketika ia membuka lipatan kertas HVS polos di dalamnya, pasang matanya seketika terkunci pada baris pertama yang ditulis dengan tinta hitam rapi dan tegas: Anak-anakku yang ibu kasihi: Satria, Arum, Wistara, dan Kinar. Seketika itu juga, rahang Satria mengeras. Nalar birokrasinya yang biasa mengendalikan keadaan mendadak macet. Lembaran di tangannya bukan sekadar surat, melainkan maklumat perang batin yang tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar. Belum sempat ia mencerna seluruh isi paragraf yang membongkar taktik boikotnya, ponsel di atas meja kerjanya bergetar. Nama Arum berkedip di layar.

“Mas Satria menerima surat dari Ibu?” suara Arum di seberang telepon terdengar bergetar, kehilangan seluruh ketenangan puitis yang biasanya ia pamerkan di lingkaran sosialnya. “Surat asli, Mas. Ditulis tangan. Di dalamnya ada nama kita semua. Wistara juga baru saja meneleponku, dia menerima surat yang sama persis. Ibu menyalinnya satu per satu dengan tangannya sendiri!”

Telepon siang itu berubah menjadi muara frustrasi kolektif bagi ketiga anak tertua Baskara. Barisan boikot yang selama berminggu-minggu mereka susun dengan sangat rapi, memutus urat nadi domestik, membekukan rekening perawatan, hingga mengisolasi Ratih dari pergaulan trah, ternyata tidak menghasilkan efek tekuk lutut seperti yang mereka bayangkan. Mereka mengira Ratih akan datang mengemis belas kasihan atau setidaknya menelepon Satria dengan suara tangis meminta ampun. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Surat fisik itu membuktikan bahwa Ratih berdiri di atas takdirnya dengan kepala tegak, menghadapi kepungan mereka bukan dengan amukan, melainkan dengan kelembutan yang tak bisa diganggu gugat.

Kepanikan itu dengan cepat menjalar seperti api di atas rumput kering menuju lingkaran besar Trah Atmadja. Ketika Satria meneruskan kabar tentang lampiran rencana pernikahan di akhir surat itu kepada para sepupu senior dan tokoh sepuh trah, atmosfer keluarga besar seketika berubah menjadi kebingungan masif. Pemberitahuan yang ditulis Ratih, yang bagi mereka terasa seperti selembar undangan pernikahan yang dingin, membuat nalar priyayi mereka mengalami benturan budaya yang hebat. Selama ini hidup mereka dalam kalkulasi pangkat, status sosial, dan wibawa semu, benar-benar tidak sanggup memahami jalan pikiran Ratih. Bagi Trah Atmadja, keputusan Ratih melepaskan kenyamanan Wisma Astana demi bersanding dengan seorang seniman purna di sebuah joglo terbuka adalah kegilaan yang melompati batas nalar sehat.

Mereka frustrasi karena kehabisan peluru hukum maupun moral. Semua jawaban Ratih di dalam surat telah mengunci mati setiap celah interogasi. Ketika nama mendiang Profesor Baskara selalu mereka jadikan tameng untuk memojokkan Ratih, Ratih justru membalikkan tameng itu dengan menegaskan bahwa mencintai Kama adalah caranya merayakan esensi kehidupan yang dulu ia pelajari dari Baskara. Di titik itulah, Satria dan seluruh barisan priyayi sadar bahwa mereka telah kalah melangkah. Mereka masih sibuk menghitung untung-rugi martabat di atas kertas, sementara ibunya sudah melesat jauh merengkuh kemerdekaan jiwanya sendiri.

Lihat selengkapnya