Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #23

Rumah yang Sama

Pagi itu, Wisma Astana tidak sedang bersiap menyambut kemegahan pesta priyayi, melainkan sedang membersihkan diri untuk ritual penyerahan batin paling sunyi. Sejak fajar menyingsing, tidak banyak kesibukan, semuanya serba simpel, baik tentang katering maupun tata lampu, dan pekarangan depan pun bersih dari deretan kursi besi lipat. Semuanya dikerjakan dalam ritme pelan dan khidmat. Kamar tengah yang biasanya terasa dingin oleh aura peninggalan Profesor Baskara, kini dilap dan dibersihkan dengan tangan Ratih sendiri, dibantu oleh kesetiaan yang tak pernah pudar sejak awal hari, Kinar. Anak bungsu itu sudah hadir di sana bahkan sebelum matahari sepenuhnya menghalau kabut tipis di dahan mangga tua pekarangan rumah. Kinar bergerak cekatan menggelar selembar karpet permadani tua bermotif sulur daun di atas lantai ubin kuno, lalu menata meja kayu rendah berkaki pendek di tengah-tengahnya, tempat di mana kitab suci dan jemari penghulu akan bertumpu.

Pernak-pernik yang disiapkan pun jauh dari kesan pamer status sosial. Tidak ada ronce melati yang menjuntai berlebihan dari langit-langit rumah kolonial itu. Ratih hanya meminta Kinar memetik beberapa tangkai bunga sedap malam segar dari pot di halaman belakang. Bunga itu Kinar taruh sementara di sebuah keranjang, sementara Kinar membersihkan vas keramik putih kuno. Wangi lembut dan magisnya pelan-pelan mengusir kebekuan udara yang berminggu-minggu sempat mengendap akibat boikot senyap saudara-saudaranya. Ratih sendiri memilih mempersiapkan busananya tanpa bantuan perias pengantin. Di dalam kamarnya, dengan gerakan anggun, ia mengenakan kebaya kutubaru putih gading berbahan katun halus, pilihan sederhana namun memancarkan wibawa keibuannya. Kinar yang masuk ke dalam kamar untuk membantu menyematkan jarik, mendadak menghentikan langkahnya di ambang pintu. Matanya seketika berkaca-kaca menyaksikan benda yang saat itu melingkar rapi di leher ibunya, syal rajut berwarna abu-abu usang milik mendiang Profesor Baskara.

“Ibu... tetap memakai syal Bapak?” bisik Kinar, suaranya tercekat oleh haru yang mendalam.

Ratih tidak langsung menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar berkaki kayu jati, jemari sepuhnya mengusap lembut rajutan benang yang mulai melonggar itu, lalu tersenyum tipis ke arah anak bungsunya. “Rumah ini adalah saksi bagaimana Ibu merawat bapakmu hingga napas terakhirnya, Kinar. Ibu tidak sedang membuang masa lalu untuk memulai hari ini. Syal ini adalah tanda bahwa batin Ibu sudah berdamai dengan semua yang telah pergi.” Kinar hanya bisa mengangguk pasrah, merasakan dadanya mendadak sesak oleh kebesaran jiwa ibunya yang begitu lapang. Di luar, suara langkah kaki Kamajaya dan rombongannya terdengar memasuki selasar depan, membawa seikat ketenangan seniman purna yang siap melangkah masuk ke jantung Wisma Astana.

Namun, kedatangan Kama kali ini tidak sendirian. Langkah tenangnya di selasar depan diiringi rombongan kecil yang berjalan tenang namun serempak. Kama membawa seluruh manusianya dari lima bangunan kecil. Ada Kukuh yang berdampingan dengan Ratri istrinya yang tampak anggun dalam balutan kain jarik, disusul Sekar dan Bagus suaminya yang melangkah mantap, serta anak-anak mereka yang berjalan dengan kepatuhan batin yang khidmat. Di barisan paling belakang, melangkah Darma, satu-satunya adik kandung Kama yang tersisa, yang kali ini melipat egonya yang gemar guyon demi mengawal hari besar kakaknya. Kehadiran rombongan keluarga Kama yang mengalir tanpa protokol itu seketika memenuhi ruang tengah Wisma Astana yang kolonial.

Begitu rombongan masuk, mata Kama menangkap sosok perempuan muda yang sedang merapikan vas bunga sedap malam di dekat Ratih. Langkah Kama seketika terhenti. Matanya membelalak kecil, memancarkan keterkejutan yang murni dari seorang seniman tua yang merasa dunianya mendadak bertemu dalam satu ruang.

“Lho, Mbak Dewi?” sapa Kama spontan, suaranya yang berat memecah keheningan ruangan. Langkahnya maju satu depan. “Mbak Dewi kok di sini? Peristiwa ini tidak perlu masuk berita budaya, lho. Ini hajat yang teramat sunyi.”

Perempuan muda itu menoleh, dan senyumnya langsung mengembang penuh penghormatan tulus. Ia meletakkan tangkai sedap malam terakhir ke dalam vas, lalu melangkah mendekat untuk meminta berkah dengan menjabat tangan Kama dengan takzim. “Bukan untuk berita, Pak Kama. Saya di sini bukan sebagai jurnalis.” Ia berhenti sejenak, menatap Kama dan Ratih bergantian dengan binar mata yang hangat. “Di rumah ini, Ibu memanggil saya Kinar. Nama lengkap saya Kinara Dewi. Maaf, saya tidak pernah cerita sebelumnya saat kita sering berdiskusi di forum literasi. Saya ingin Ibu menemukan ruangnya sendiri bersama Bapak, tanpa sekat-sekat nama anak.”

Kama tertegun sejenak, lalu kekehan pelannya pecah. Ia menggeleng-geleng  dengan rasa takjub yang mendalam. Kama sebenarnya sudah lama mendengar dari Ratih bahwa anak ragilnya bernama Kinar, namun ia sama sekali tidak menduga bahwa Kinar itu adalah Dewi, jurnalis budaya cerdas yang tulisan-tulisannya selalu ia kagumi dari jauh. Perjumpaan dua generasi yang selama ini sudah saling menaruh hormat pada isi kepala masing-masing itu seketika mencairkan sisa-sisa ketegangan di antara kedua keluarga.

Lihat selengkapnya