“Selamat malam duhai kekasih…”
Airani mengesah. Di depan laptop dan meja kerja di kamarnya yang berantakan, suara Bapak mendistraksi dirinya yang masih bekerja. “Masih pagi padahal…” keluhnya seraya memijat pelipis.
Tangannya meraih earbud dan menyumpal ke telinga. Dengan gusar dia meraih ponsel dan membuka playlist lagu-lagu instrumental yang menenangkan, supaya dapat membantunya kembali berkonsentrasi. Padahal sejak semalam dia tidak membutuhkan benda-benda ini karena situasinya lebih stabil dan dia bisa fokus dengan mudah.
Namun baru beberapa menit berselancar di depan laptop, suara memekakkan kembali mengoyak konsentrasinya. Kali ini Ibu dan Bapak yang duet dengan heboh.
“Andaikan kau datang kemari… Jawaban apa yang kan kuberi…”
Airani mendesis. Meski kamarnya terletak di lantai dua, pada dasarnya rumah mereka adalah rumah yang kecil. Mereka juga tinggal di perumahan yang lumayan ramai penduduk. Jam sudah menunjukkan lewat pukul enam pagi, yang artinya orang-orang Jakarta sudah sibuk memulai hari. Di luar sana, anak-anak sekolah, para pegawai yang hendak bekerja, para penjaja sarapan pagi, sudah meramaikan jalan. Namun bagi Airani, dia belum tidur sejak kemarin. Sebagai orang yang mulai bekerja secara remote dengan klien di luar negeri, dia memanfaatkan waktu malam sebagai waktu kerja. Dia sedang menyamakan kesediaan waktu klien. Di saat yang sama, malam ternyata menjadi waktu yang tepat untuk berpikir.
Di lantai bawah, Ibu dan Bapak masih semangat bernyanyi tanpa peduli suaranya bisa menembus hingga rumah tetangga. Belakangan ini, aktivitas bising itu menjadi hobi mereka. Kalau tidak karoke secara terbuka, berarti memutar video lewat media sosial dengan audio dari speaker eksternal. Sama-sama berisik. Parahnya lagi, semua itu dilakukan semaunya. Tidak peduli waktu, tidak peduli berapa lama, seakan-akan tidak ada yang terganggu sama sekali. Sejauh ini, memang belum ada tetangga yang memprotes. Entah karena mereka menghormati Bapak sebagai warga paling senior, atau menghormati Ibu yang notabennya pengurus RW yang paling tersohor.
“Karaokean, Pak Firman?” seru seorang laki-laki dari luar. Airani melongok dari jendela kamarnya yang menghadap rumah tetangga. Rupanya Pak Mulyadi, tetangga yang mengontrak di samping rumah.
“Hehehe, iya nih, Pak Mulyadi.” Bapak menjawab dengan ceria. Jangan lupakan kenyataan bahwa beliau menjawab lewat mikrofon karaoke yang masih digunakannya.
“Lanjut, Pak. Mumpung masih pagi,” balas Pak Mulyadi sama cerianya.
Mumpung apanya? Airani mencibir. Ini pasti karena Pak Mulyadi cukup hormat kepada Bapak. Sebelum resmi pensiun dua bulan yang lalu, Bapak adalah seorang ASN Disdukcapil. Posisi Bapak yang menempati bagian administrasi, beberapa kali membantu tetangga untuk urusan pencatatan kependudukan. Sehingga di mata beberapa tetangga, Bapak cukup disegani perannya. Pak Mulyadi adalah salah satu yang segan. Sebab, selain untuk urusan administrasi, laki-laki paruh baya itu adalah pekerja serabutan yang kerap Bapak manfaatkan jasanya untuk keperluan domestik. Misalnya, mencuci mobil atau membenarkan toren air yang bermasalah. Jadi, menjalin hubungan baik dengan Bapak adalah salah satu bentuk merawat rezekinya.
Di rumah ini, Airani hanya tinggal bertiga dengan orang tuanya. Ibunya tidak keluar rumah kecuali ada urusan di Posyandu atau kegiatan-kegiatan yang melibatkan RW dan tetangga. Raisa, adik satu-satunya, sudah pisah rumah sejak menikah. Perempuan yang satu setengah tahun lebih muda dari Airani itu sudah punya anak laki-laki berusia dua tahun bernama Nab. Suaminya adalah seorang pilot. Rumah mereka hanya berbeda jalan dengan rumah orang tua, tapi masih di kecamatan yang sama.
Airani merenggangkan kepala dan melakukan stretching ringan. Pertama kali goal dengan klien dari Amerika ternyata membuatnya gugup. Project-nya kali ini adalah membuat e-mail marketing personalization untuk sebuah bisnis personal color identification. Jadi semalam mereka melakukan meeting perdana dan Airani diminta untuk membuat slide presentasi yang mencakup turunan job list yang akan dilakukannya. Tenggatnya cukup ketat. Maka dari itu, setelah meeting dia langsung meriset untuk menghimpun bahan-bahan presentasi yang kelak akan di-pitching kepada kliennya.
“Selamat jalan kekasih… Kaulah cinta dalam hidupku…”
“Hnggg.” Airani mengerang. Suara Ibu dan Bapak benar-benar membuat energinya tersedot habis. Dia beringsut keluar kamar. Dari pagar dinding yang ada di depan kamarnya, dia bisa melihat suasana ruang tengah di lantai satu. Bapak yang mendominasi mikrofon bernyanyi menghadap televisi, dan Ibu yang sekali dua kali merapat pada Bapak dengan sayuran di tangan. Sepertinya sayuran itu baru keluar dari kulkas.
Pada menit pertama, mereka tidak sadar sedang diperhatikan dari atas. Sampai akhirnya tanpa sadar mereka mendongak, barulah tahu bahwa sedang diamati oleh putri sulungnya. Seringai tercetak di wajah keduanya. Ibu yang pertama kali mengayunkan tangan, isyarat meminta Airani untuk turun. Airani menghela napas. Dia menurut pada ibunya. Bukan untuk ikut bernyanyi, melainkan untuk memprotes halus karena dia masih butuh suasana yang tenang. Minimal sampai pekerjaannya beres.
Namun belum sempat protesnya tersampaikan, Ibu yang lebih dulu menyela, “Anak gadis, jam segini baru bangun. Gimana nanti jadi istri? Suamimu pagi-pagi udah cakep, kamu masih ileran.”