Battery About To Die

ASMIRA FHEA
Chapter #2

2% - Battery Status: Normal

Paket itu berupa mobil-mobilan untuk Nab, yang ternyata kondisinya tidak sebagus yang ada di foto.

Ibu menggerutu ketika membuka bungkusannya. Memprotes di sana-sini sambil membandingkan apa yang tercantum di foto. Airani? Tentu saja meradang. Dia sudah mengeluarkan lima ratus ribu untuk menebus sebuah barang yang mengecewakan.

Namun dia juga tahu, marah-marah hanyalah memperkeruh suasana. Apalagi suasana pagi ini terlanjur ruwet. Protesnya mengenai kebisingan orang tua belum beres, ditambah pula oleh kedongkolan yang lain. Yang lebih menjengkelkannya lagi adalah begitu tahu ternyata toko daring yang Ibu tunjukkan di ponselnya memang tidak teruji validitasnya. Bintang satu bertebaran di mana-mana. Testimoni tidak baik terlewatkan oleh Ibu untuk dibaca. Alhasil, Ibu menjadi salah satu korban dari produk yang tidak sesuai harapan karena kurang teliti dalam pembelian. Kejadian ini tidak hanya sekali, terutama sejak Airani dirumahkan begini. 

Karena tubuhnya semakin lelah, Airani kembali ke kamar dalam keadaan cemberut. Tidak ada tenaga lagi untuk menutupi rasa kesal pada orang tuanya kalau begini kejadiannya. Dia mengunci kamar, kemudian merebah di atas ranjang. Rasa kesal dalam dirinya mendorong air mata ikut tumpah. Sudah jam segini, pekerjaannya belum juga selesai. Namun, jiwanya sudah meronta-ronta untuk istirahat. Sambil menelan rasa kesal yang belum teruraikan, pelan-pelan matanya terpejam, dengan asumsi dia bisa menghabiskan waktu beberapa jam untuk memulihkan stamina. 

Proses adaptasi memang tidak selalu mudah, berkali-kali dia meyakinkan diri akan hal ini. Meski sudah menghibur diri dengan peluang-peluang klien virtual assistant yang dia dapatkan, nyatanya dia juga rindu sebagai pekerja kantoran dengan segala aktivitasnya. Setidaknya, dia tidak perlu menjadi samsak hidup karena dianggap hanya di rumah saja oleh orang tuanya.

Tidak pernah terbayang oleh Airani, bahwa di usianya yang mencapai 30 tahun ini, kariernya terhenti dan harus memulai dari awal lagi dengan kondisi yang serba tidak pasti. Dulu dia berpikir, bekerja di Wheelz adalah pilihan paling aman. Karena kalau dilihat dari luar, Wheelz adalah perusahaan yang lebih stabil dibanding kompetitornya. Pemiliknya adalah pengusaha lokal yang sedang naik daun karena kiprahnya di dunia bisnis digital. 

Yang ada di bayangannya, dia akan menghabiskan waktu yang panjang untuk bekerja di sana. Sampai pensiun kalau perlu. Karena sebelum bekerja di Wheelz, dia sempat menjadi pegawai kontrak di sebuah perusahaan skincare yang kemudian bangkrut karena pemiliknya terduga melakukan money laundry. Lepas dari perusahaan itu, Wheelz membuka rekrutmen besar-besaran di waktu yang bersamaan. Dia menjadi salah satu yang lolos untuk posisi social media specialist. Anggapan awalnya, pada usianya yang ketiga puluh tahun ini, tabungan dan surat keterangan kerjanya cukup untuk mengambil cicilan rumah, di sebuah hunian impiannya. Namun sayangnya, gonjang-ganjing dunia perusahaan rintisan membuat para karyawan dirundung kecemasan. Boro-boro sekarang bisa mencicil rumah. Menggunakan biaya operasional harian tanpa menggerus tabungan saja sudah alhamdulillah. 

Bagi kebanyakan orang, mencicil rumah merupakan keputusan yang bisa dilakukan pada tahun-tahun awal bekerja. Sebagaimana yang dilakukan Raisa dalam menggadaikan status kepegawaiannya ketika hendak membeli rumah. Namun tidak bagi Airani. Keberaniannya untuk menempuh jalur karier yang berbeda dari harapan Bapak membuatnya memiliki tanggung jawab moral untuk menyisihkan sebagian gajinya sebagai penunjang kebutuhan orang tuanya. Mereka mungkin tidak meminta secara langsung. Terutama ketika Bapak yang waktu itu masih aktif bekerja. Namun sebagai anak sulung perempuan di keluarga ini, dia tetap melakukannya demi mendapat kepercayaan dari kedua orang tua bahwa dia tetap bisa menjadi mapan dengan jalur karier yang dia pilih. 

Sekarang, ‘tanggung jawab’ yang dia tetapkan itu berubah bentuk. Bukan lagi untuk menunjang kebutuhan orang tuanya, melainkan untuk menambal transaksi-transaksi bodong karena keduanya gagap teknologi dalam bermedia sosial. Seperti yang tadi itu.

‘Tanggung jawab’ yang sekarang memberatkannya dalam situasi yang kritis seperti ini. Saat belum memiliki penghasilan tetap lagi. Namun kalau bukan dia, siapa lagi yang bisa diandalkan orang tuanya? Dia sendiri tidak tega untuk terang-terangan bilang kondisinya harus mengencangkan sabuk demi mencapai tujuan finansial. Melimpahkan pada adiknya juga tidak mungkin. Karena sejak Raisa berkeluarga, adiknya itu tidak banyak kelimpahan cerita-cerita yang ada di dalam rumah. 

Hhhh, biasanya orang tua akan memprotes kalau anaknya gagal melakukan sesuatu yang orang tuanya ahli di bidang itu. Seperti misalnya Ibu yang menganggap Airani kurang pergaulan karena jarang berjejaring dengan tetangga, sementara Ibu sendiri terkenal aktif sepenjuru komplek. Nah, sekarang kebalikannya. Bisa-bisanya anaknya social media specialist, tapi orang tuanya hobi kena penipuan barang bodong di media sosial. Mana kalau begini susah ditegurnya. Mending uangnya dipakai buat beli sembako yang semakin melonjak itu, kan?

Dalam tidurnya, alam bawah sadar Airani berevolusi menjadi simbol-simbol di dalam mimpi. Tentang tugas presentasinya yang belum selesai, tentang kedua orang tuanya yang semakin sulit diberi tahu, tentang mimpinya yang harus mengalami bongkar pasang di usia yang seharusnya sudah mapan, tentang perannya sebagai anak perempuan pertama yang harus sigap dalam segala situasi, dan tentang makna rumah yang semakin hari membuatnya kesepian. 

*

Lihat selengkapnya