Airani menyayangi Nab, seolah dia sendiri yang mengandung anak itu. Tanpa melupakan fakta bahwa dia adalah kakak yang dilangkahi adiknya karena kedua orang tua mereka yang mengharap bisa menggendong cucu sesegera mungkin. Kebetulan tiga tahun yang lalu, Raisa yang lebih kelihatan hilal jodohnya. Kedekatannya dengan Panji dinilai Ibu dan Bapak sebagai orang dewasa yang sudah siap membangun keluarga. Maka atas nama ‘jangan lama-lama, nanti banyak mudaratnya’, mereka dinikahkan dengan proses yang singkat. Yang mereka lupakan adalah perasaan Airani, sebagai kakak tertua, yang disalip adiknya sendiri dalam menempuh jenjang pernikahan.
Tiga tahun yang lalu, Airani masih ingat perasaannya sendiri ketika menjadi satu-satunya orang yang bersedih di antara orang-orang yang berbahagia. Namun di saat yang sama, dia harus pintar menyembunyikannya supaya tidak ada orang yang curiga.
Orang tuanya menyambut keluarga Panji dan berulang kali mengatakan kepada mereka, “Umur nggak ada yang tahu. Hal baik harus disegerakan. Apalagi kita semakin tua.” Sebagai upaya meyakinkan rencana pernikahan yang hanya memakan tiga bulan. Lewat proses yang singkat itu, Airani baru tahu bahwa baik keluarganya maupun keluarga Panji belum memiliki dana yang cukup untuk membuat pesta pernikahan yang diimpikan.
Mereka tidak menginginkan pesta pernikahan sederhana di rumah, karena baik Ibu dan Bapak akan mengundang kolega dan para tetangga sebagai wujud solidaritas. Membuat pesta di gedung adalah opsi yang paling ideal. Dan untuk mewujudkan itu semua, mereka menggelontorkan dana habis-habisan, termasuk mengandalkan Airani untuk patungan. Airani pikir, takdir dilangkahi adik sendiri tanpa ditanya apa perasaannya adalah hal yang paling membuatnya sedih. Namun ternyata itu belum ada apa-apanya ketika Bapak dan Ibu memintanya mengikhlaskan uang tabungan untuk menambal kekurangan pesta Raisa. Alhasil, beberapa juta menghilang dari tabungan rumahnya demi sebuah jenjang kehidupan sang adik yang dia sendiri belum pernah merasakannya.
Ketika kakak-kakak lain mendapat uang pelangkah untuk ‘menghibur’ proses yang tidak mudah itu, dia justru mengeluarkan uangnya sendiri untuk dilangkahi.
Tiga tahun, dia masih ingat bagaimana rasa sepinya menghadapi banyak tamu yang bertanya, mendoakan, bahkan meledek dan mencibir, karena statusnya sebagai seorang kakak yang jomlo. Ketika keluarganya yang lain bersenang-senang menikmati pesta, dia seperti orang asing di antara keramaian. Dia ingin menangis setiap ditatap kasihan oleh orang lain, tapi dia harus bisa mengulas senyum di saat yang bersamaan. Hidupnya yang kala itu fokus bekerja cukup menyulitkannya untuk menjalin hubungan dengan orang lain, apalagi berkomitmen dengan pria. Fokusnya tersedot penuh ke dalam karier. Kalaupun bisa beristirahat, lebih baik mengurung diri di rumah sambil menikmati film yang disediakan di platform-platform legal. Oleh karena itu, pernikahan Raisa dan Panji seperti memberikan sebuah tamparan, bahwa sepontang-panting apa pun dia bekerja, masih belum memenuhi harapan kedua orang tua yang menginginkan anaknya berkeluarga.
Sejak saat itu, dia belajar mengafirmasi diri bahwa hal baik akan datang pada waktunya. Mungkin memang sudah rezeki Raisa yang menikah mendahuluinya. Rezekinya sendiri dalam bentuk lain dan dia tetap layak bersyukur atas apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Afirmasi itu dia bawa seiring berjalannya waktu, sampai Nab lahir ke dunia. Dia tidak bisa melewatkan sosok kecil yang menggemaskan itu, meski seisi dunia kembali membicarakannya karena dia kakak yang dilangkahi adik dalam hal punya anak.
Nggak apa-apa, nggak apa-apa… Airani kerap mengafirmasi dirinya setiap kali ingin menangis di depan orang.
Dan sekarang, anak itu sedang dia titipkan kepada kedua orang tuanya untuk dijaga. Tadi, Airani sudah menemaninya sambil sarapan nasi kuning, sementara Nab main mobil-mobilan yang baru dibeli Ibu. Setelah sarapan, dia beringsut mandi, dan Nab kini berada dalam pengawasan Ibu dan Bapak di ruang keluarga.
Airani melihat ke arah jam di dinding. Sudah pukul dua belas siang. Kalau tidak terlambat, tiga jam lagi Nab dijemput oleh Raisa. Dengan begitu, Airani bisa kembali bekerja setelah semuanya beres.
Baru saja dia hendak kembali ke ruang keluarga, terkejut ketika mendapati Nab duduk santai di tengah kedua orang tuanya… sambil bermain ponsel. Airani mendelik sejadi-jadinya. Dia mendekat kepada Ibu dan Bapak penuh waspada. “Kok dikasih main HP, Bu? Pak?”
Tanpa mengangkat kepala dan melihatnya, Bapak menjawab dengan santai, “Ya memang kenapa? Anaknya sudah bosan main mobilan.”
“Ya tapi kan tadi Raisa udah pesan, katanya Nab jangan main HP. Ibu dengar kan pas Raisa ngomong tadi?” Airani sengaja mengarah pada Ibu karena dia tahu betul, Ibu pasti mendengar jelas.
Ibu mendesis. “Ya sudah, wong anaknya juga anteng. Nggak apalah sekali-kali main HP.”
Airani meradang. Padahal tadi sebelum dia mandi, agenda berjalan sempurna. Nab dia asah sisi motorik dan verbalnya lewat mainan fisik sambil berceloteh panjang.
Semenjak Nab lahir, sedikit-banyak Airani update tentang pengetahuan mendidik anak di zaman sekarang melalui konten-konten parenting. Salah satu tantangan terbesar yang dia tahu adalah pemberian screen time terlalu dini di era serba digital ini. Raisa adalah sosok ibu yang saklek untuk tidak memberikan gadget sama sekali pada putra sulungnya. Dari Raisa juga, Airani belajar bagaimana mendampingi Nab tanpa gadget. Salah satunya adalah harus siap tenaga dan mental, jika Nab sedang aktif-aktifnya bereksplorasi.
Maka, dia berjongkok mendekati Nab dan berbicara selembut mungkin. “Nab, tadi Bunda pesan apa? Yuk main sama Bude Airan. Sekarang kita baca buku, yuk?”
Nab tidak merespons. Anak kecil yang gembul itu masih berbinar-binar memandang ponsel neneknya.
Airani tidak ingin habis akal. Apalagi ketika mendapati dirinya tidak ada yang mendukung. Baik Bapak dan Ibu berlomba-lomba menarik perhatian Nab dengan ponsel di tangan.
“Nab, ini udah jam dua belas.” Airani menepuk punggung tangan Nab. “Makan, yuk? Sambil baca buku sama Bude Airan. Udah dulu main HP-nya.”
Masih tidak digubris. Ibu menyeringai.