Pria itu mengenal Airani sebagai perempuan tangguh yang pekerja keras. Pertemuan pertama mereka yang terjadi pada saat ada insiden di Wheelz, membuat dirinya mengenal pertama kali sosok yang menyala-nyala itu ketika menghadapi masalah.
“Mas, maaf yaaa ganggu malam-malam. Aku butuh bantuan bangeeeet,” tutur gadis itu dengan suara memelas dari telepon. Suara yang selalu dia ingat sebagai kesan pertama. Omeir, salah satu tim IT yang saat itu sedang shift malam, mendapat telepon tiba-tiba dari seorang karyawan yang mengeluh tentang akun Instagram Wheelz yang diretas oleh pihak tak bertanggung jawab. Pada pukul sebelas malam.
“Oke. Ini kami coba bantu cari solusinya, ya, Mbak. Mbaknya bisa standby buat koordinasi on call?”
Dan begitulah awal perkenalan mereka, yang dilanjut pada pertemuan keesokan harinya. Omeir yang pada saat itu baru satu bulan bergabung di Wheelz, baru tahu sosok Airani adalah perempuan berkerudung dengan dandanan simpelnya. Pakaiannya tidak jauh-jauh dari warna muda seperti biru, hijau, kuning, dan pink. Padu padan pakaian gadis itu sederhana, tapi sekaligus manis. Penampilan dan pembawaan diri gadis itu menarik perhatiannya.
Pagi hari setelah insiden itu terjadi, mereka berbicara lebih intens soal pekerjaan dan bagaimana perkembangan menangani hacker sampai ke perlindungan akun. Kurang dari dua belas jam, masalah teratasi. Akun Instagram Wheelz pulih kembali. Airani mendesah lega. Saking leganya, gadis itu mentraktir makanan untuk Omeir dan Tri–staf IT yang bertugas menangani masalah ini. Omeir bisa paham bagaimana paniknya gadis itu. Apalagi setelah beberapa kali gadis itu menggerutu karena diburu oleh tim dan atasan. Omeir pun tak kalah paniknya. Namun dia terlatih untuk meredamnya dengan sikap yang tenang. Karena bagaimana pun, keberhasilannya mengatasi masalah ini akan menjadi nilai plus sebagai karyawan baru, untuk dipertimbangkan selama masa percobaan.
Blessing in disguise. Masalah itu menjadi kenangan spesial bagi mereka. Dari sana, pertemuan mereka berkembang tidak sebatas urusan pekerjaan saja. Namun juga ke hal-hal yang lebih kasual, seperti makan siang bersama di rooftop–tempat pelarian beberapa karyawan yang enggan ke food court yang ada di basemen. Atau bertemu di musala ketika menunaikan salat. Atau sama-sama mendatangi event yang digelar Wheelz karena sama-sama sedang in charge bekerja. Mereka jadi nyambung. Mudah bercerita. Lama-lama jadi terhubung lebih dekat, ke hubungan yang lebih serius.
Berbulan-bulan dekat dengan Airani, Omeir jadi tahu beberapa sisi dari gadis itu, yang menurutnya semakin yakin untuk menjadi pendamping hidup. Airani yang bertanggung jawab atas kewajibannya, Airani yang ceria saat bersamanya, Airani yang ambisius akan cita-citanya punya rumah demi hidup terpisah dengan orang tua, Airani yang punya gambaran ekspektasi pernikahan seperti apa, dan Airani yang pernah terpuruk karena menjadi salah satu karyawan yang di-PHK dari Wheelz–ketika Omeir justru baru diangkat sebagai karyawan tetap dua bulan sebelumnya.
Bagi Omeir, Airani adalah warna untuk hidupnya yang datar. Apalagi dia adalah seorang perantau dari sebuah desa di Pacitan yang mengadu nasib di Jakarta. Tidak ada teman, semua serba gambling dan penuh perjuangan. Bertemu Airani seperti memberikan peta hidup yang lebih jelas. Dia menyukainya.
Namun dia merasa ada sesuatu yang berbeda beberapa hari ini. Dia mencium kuat bahwa perjalanan gadis itu membangun karier sebagai freelancer dan virtual assistant yang sebelumnya diceritakan penuh optimisme, tidak berjalan semestinya. Seperti ada yang sedang ditutup-tutupi. Khas gadis itu yang dia kenal belakangan ini; pemendam.
“Dek? Kok cemberut?” tegur Omeir pelan kepada gadis yang membenamkan fokusnya di depan laptop. Mata Airani memang tertuju ke layar, tapi Omeir bisa membaca bahwa tatapan gadis itu kosong. “Semalam berhasil kan presentasinya?”
Gadis itu yang duluan mengajak ketemu begitu presentasinya usai. Omeir yang akhirnya mendapat jadwal libur pada hari Jumat, mengalokasikan waktu sebelum besok dia digempur jadwal kerja pada akhir pekan.
Yang ada di bayangannya, Airani akan menyambutnya dengan senyum sumringah seperti yang biasa dia dapati ketika gadis itu lega habis meeting di kantor. Atau paling tidak ekspresi bahagia serupa. Karena bagaimana pun, gadis itu pernah menggebu-gebu berbicara padanya; kalau penghasilannya dari menjadi virtual assistant ini cukup menjanjikan. Bisa menambah pundi-pundi tabungan rumah mereka.
Namun ternyata, Omeir tidak menemukan sorot kebahagiaan yang terpancar pada wajah gadis itu. Bertolak belakang dengan jawaban yang diberikan setelahnya, “Berhasil kok,” balasnya seraya mengangguk.
“Beneran?” Omeir memastikan. “Terus kenapa? Apa project-nya sulit?”
Gadis itu menengadah, menatapnya. Setelah mengembuskan napas, pemilik wajah tirus dengan kulit kecokelatan itu menjawab. “Isi kepalaku kosong, Mas. Mendadak nggak bisa mikir buat lanjutin project ini. Apa seharusnya aku kasih ke orang lain aja, ya?”