Battery About To Die

ASMIRA FHEA
Chapter #5

5% - Urgent Calls Only

Bukan tanpa alasan Airani mengajak Omeir bertemu untuk menemaninya kerja di luar. Itu semua karena berhari-hari di rumah kian membuatnya penat. Jika dulu dia pernah berpikir bahwa bekerja di rumah akan memudahkannya, ternyata seratus persen justru salah. Karena orang tuanya juga beranggapan yang sama dengan persepsi yang berbeda. Bagi Ibu dan Bapak, kerja di rumah tidak jauh bedanya dengan libur yang dibayar. Fleksibel diminta bantu apa saja dan kapan saja karena kelihatan di rumah. Sedangkan bagi Airani, kerja ya berarti kerja. Aktivitas yang membutuhkan fokus tinggi supaya mencapai target dengan maksimal.

Kemarin, saat dia sedang panik mempersiapkan presentasi, sebuah drama terjadi lagi di rumah. Ibu dan Bapak gaduh membicarakan Pak Botak yang dikabarkan meninggal. Pada saat itu, Airani sedang makan siang sambil membaca ulang bahan-bahan yang akan dipresentasikan. Dia kaget karena fokusnya otomatis terpecah. Pasalnya, Pak Botak yang dimaksud kedua orang tuanya adalah pelawak senior yang kerap muncul di layar televisi. Artis kesukaan kedua orang tuanya. Beberapa waktu lalu, pria paruh baya itu dikabarkan sedang dirawat di ruang ICU sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Namun ketika diselidiki lebih lanjut, ternyata berita fenomenal itu didapatkan melalui video amatir yang diunggah di Facebook. Editannya kasar dan hanya bermodal latar musik yang sedih saja. 

Jangan tanya dikeluarkan dari media mana. Sudah pasti tidak jelas. Unggahan itu adalah tipe unggahan yang bisa memancing emosi pengguna media sosial, terutama bagi generasi boomers yang memiliki keterbatasan untuk bisa memverifikasi datanya. Apalagi di bawah unggahan itu tertulis nomor rekening untuk mengumpulkan uang duka sebagai bentuk solidaritas penggemar Pak Botak. Bapak yang sempat terbawa suasana, buru-buru dicegah oleh Airani sebelum kembali terjebak ke dalam situasi mengeluarkan uang untuk orang yang tidak bertanggung jawab. 

Dan fenomena ini tidak hanya terjadi sekali, sejak dia dirumahkan. 

“Itu hoaks, Bu, Pak. Pak Botak masih ada,” kilahnya berusaha meluruskan dengan fakta.    Dia menanggapi sambil menggulir sesuatu di ponselnya.

“Masa, sih, Mbak? Masa ada orang yang jahat bikin berita palsu orang meninggal?” Itu tanggapan Bapak. 

“Kenyataannya memang ada, Pak.” Airani menunjukkan layar ponselnya kepada Bapak. Di sana terpampang akun Instagram Pak Botak. Artis yang dimaksud baru saja mengunggah Instagram Story sudah siap untuk kembali bekerja di industri hiburan setelah sakit. “Ini orangnya habis foto sama artis yang lain.”

Airani melihat bapaknya sebenarnya malu karena tertampar fakta. Namun alih-alih membahasnya, pria paruh baya itu hanya berdehem dan menggulir berita lain. 

Tidak sampai di situ, kehebohan juga terjadi pada malam harinya ketika Airani berkutat serius di depan laptop. Ibu menghampirinya ke kamar, untuk meminta dibantu mengedit video.

“Mbak, caranya orang bikin video kayak begini gimana, ya, Mbak? Kok anak muda sekarang canggih-canggih?”

Awalnya, Airani hanya menggubris sambil lalu. Namun sikapnya seperti itu membuat Ibu geregetan karena merasa tidak diperhatikan. Maka, wanita paruh baya berdaster itu mendekat pada putri sulungnya. Yang tadinya hanya duduk di atas ranjang, berdiri dan memutar kepala anaknya untuk menatap layar ponsel.

“Ini lho, Mbak. Ibu dari tadi nanya.”

“Hm?” Airani terpaksa terdistraksi sebentar. “Itu transisi, Bu. Bisa kok diedit pakai HP.”

“Gimana caranya, Mbak? Mbak bisa buatnya?”

Sambil mengembalikan fokus ke layar laptop, dia menjawab ibunya. “Bisa, tapi lama. Itu yang Ibu tunjukin, orangnya punya tim sendiri. Peralatannya lebih canggih.” Video yang ditunjukkan Ibu adalah seleb Tiktok yang membuat video transisi masak dalam satu menit.

“Yang kayak gini bisa pakai HP, Mbak? Beneran? HP Ibu kayak gini bisa?” Ibu mengabaikan fakta tentang tim dan alat yang canggih sebagaimana yang dimiliki content creator itu. Saking tinggi kemauannya, biasanya Ibu mengabaikan fakta-fakta yang lain.

“Bisa kayaknya, kalau Ibu pakai aplikasi berbayar sama tahu cara-caranya,” jawabnya sekenanya. Campuran dengan kepala penuh mempersiapkan presentasi dan berusaha untuk bersikap baik dengan orang tua, membuatnya kewalahan dilempar sana-sini.

Lihat selengkapnya