Battery About To Die

ASMIRA FHEA
Chapter #6

6% - Reporting A Bug

Omeir memang bukan pertama kali datang ke rumah Airani. Saat mereka masih satu kantor dulu, dia kerap mengantar pulang gadis itu jika jadwal di antara mereka memungkinkan. Bahkan kedua orang tua gadis itu juga tahu bahwa dirinya dan anak sulung mereka punya kedekatan khusus. Hanya tinggal menunggu waktu, sampai nanti mereka sama-sama siap untuk membawa diri kepada keempat orang tua sebagai individu yang akan melangsungkan bahtera rumah tangga.

Omeir tidak punya kesan khusus tentang kedua orang tua Airani. Yang dia ketahui selama ini, pasangan lansia itu selayaknya orang tua yang lain. Yang ada di rumah, yang sayang pada anaknya, dan menghormatinya sebagai tamu. Mereka hanya baru tahu dirinya sebatas informasi mendasar saja. Tentang asal, pekerjaan, pendidikan, dan alasannya menyukai anak sulung mereka. Sekalipun mereka pernah bertanya soal gaji, Omeir anggap itu seperti orang tua lain yang ingin tahu kesejahteraan calon pasangan anaknya. Toh, Airani pernah bercerita bahwa keuangan keluarga gadis itu tidak ada kendala karena bapak dan ibunya bisa membiayai itu semua.

Namun, sesuatu terjadi saat kemarin kencan mereka gagal. Kegentingan yang tiba-tiba dialami gadis itu, ditambah dengan situasi yang tidak bisa diganggu setelahnya, membuat Omeir waswas. Dia yang hari ini bekerja, tidak bisa tenang karena Airani belum membalas pesannya. Biasanya, sesibuk-sibuknya mereka, minimal bisa bertukar pesan ucapan selamat malam dan update singkat apa yang dialami hari itu. Namun semalam tidak ada pesan balasan. Omeir juga segan untuk menelepon, khawatir tindakannya akan mengganggu. Maka, hari ini dia berinisiatif untuk datang ke rumah gadis itu sepulang kerja dan mengabarkannya lewat pesan singkat, meski masih belum mendapat balasan.

Dia baru tiba di rumah gadis itu beberapa menit, baru menyeruput es jeruk yang dihidangkan di meja tamu, ketika calon ibu mertuanya menghampiri mereka dengan wajah yang bersungut-sungut.

“Mbak, ini coba tanyain sama orang bank lagi. Siapa tahu sama kamu mau nurut pake istilah-istilah apa itu. Ini udah Ibu tunggu-tunggu belum ditelepon. Masa lama banget?”

Omeir langsung menoleh pada Airani yang sedang duduk bersamanya di ruang tamu. Gadis itu mendesah, kelihatan gelisah meskipun kepalanya tertunduk pada laptop yang terbuka di pangkuan.

“Tadi emang kata orang bank apa, Bu?” jawab Airani berusaha terdengar kalem.

“Katanya tiga hari mau diselidikin sama orang mereka. Tapi katanya juga bakalan susah balik uangnya kalau ditransfernya beda bank. Harus lapor polisi dulu–”

“Susah itu kalau urusannya sama polisi.” Tahu-tahu Bapaknya Airani yang baru keluar kamar menyambar. Pria tambun itu menyapa Omeir lewat gerakan wajah, yang kemudian dibalas Omeir dengan mendekat dan mencium punggung tangannya dengan sopan. Sebagai orang luar dari masalah keluarga ini, dia hanya bisa diam saja sambil menyimak apa yang terjadi. “Nanti pasti dilempar-lempar. Dari polisi minta keterangan di bank lah, dari bank minta keterangan polisi lah. Nggak selesai-selesai. Paham Bapak sama birokrasi di sini gimana ruwetnya.”

“Tapi ya masa dibiarin gitu aja, Pak?” sergah Bu Nurul tidak terima. “Dua juta lho ini lenyapnya.”

“Ya mau bagaimana? Sudah tahu sekarang zamannya susah cari uang. Malah harus neka-neko beli sesuatu yang kamu tidak paham. Kena tipu, kan, jadinya?” Pak Firman seketika membalas Bu Nurul. Tenang, tapi menusuk.

“Ya aku juga lagi berusaha. Bapak kalau nggak bisa bantu sebaiknya nggak usah bicara.” Bu Nurul membalas tak kalah sengit.

Omeir membelalak. Dilirik gadis di sebelahnya.

Airani menghirup napas dalam-dalam. “Bu, aku juga nggak tahu.” Gadis itu berusaha sopan meski penuh penekanan. “Nggak paham juga kinerja orang bank kayak gimana. Karena meskipun kita sekeluarga datang ke bank, pasti jawabannya nggak jauh beda.” Setelah mengucapkan itu, Airani menoleh kepada Omeir dan berbicara tanpa suara. “Mas, sori ya.” Dengan mimik yang ingin dimaklumi.

Omeir lekas mengangguk. Dia sedang menerka-nerka kapan dia bisa masuk ke dalam pembicaraan ini.

Lihat selengkapnya