“Ibu apa-apaan, sih? Marah-marah kayak begitu di depan Mas Omeir?” Airani tidak tahan untuk tidak menumpahkan uneg-unegnya begitu dia memastikan Omeir sudah meninggalkan rumah ini. Sungguh, bukan inginnya untuk ‘mengusir’ laki-laki itu dengan cara yang tidak sopan seperti tadi. Namun dia tidak ada pilihan lain. Situasi di rumah sedang tidak kondusif. Sejak kejadian kemarin, Ibu seperti anak kecil yang rungsing. Mudah marah, mudah meledak, semua orang disalahkan.
“Ya biar dia tahu sekalian! Kalau dia mau jadi suamimu, begitu konsekuensinya. Dia datang ke sini aja kamu nemuinnya bawa laptop. Apa dikira sopan kayak begitu?” balas Ibu tidak kalah marahnya.
“Mas Omeir tahu kok. Dan dia nggak masalah,” tukas Airani tidak terima.
“Mana mungkin dia nggak masalah kamu cuekin begitu? Itu dia cuma nggak enakan aja. Makanya dia perlu Ibu kasih tahu gimana tabiatmu di rumah supaya mikir-mikir buat nikahin kamu. Sama orang tua aja nggak nyenengin kok!”
Dada Airani kembang kempis. Dia marah, dia ingin menangis, dan dia juga pusing.
“Udah, udah. Apa, sih, kalian berantem begini?” tegur Bapak menghampiri mereka yang berseteru di ruang tamu. “Malu kalau sampai kedengaran tetangga.”
Pandangan Airani beralih kepada Bapak. Dia masih berusaha mencari adanya sorot pembelaan dari pria tambun itu. Karena toh Ibu duluan yang memulai. Bapak melihat sendiri bagaimana kesibukan pekerjaan Airani di rumah, dan itu tidak mengada-ngada. Dia memang punya tenggat yang ketat setelah presentasinya kemarin berhasil.
Namun ternyata, alih-alih mendapatkan pembelaan itu, Bapak malah memandang Airani datar sekaligus tajam. “Nggak sopan kamu menjawab orang tua kayak begitu. Apalagi sama ibumu.”
Airani membelalak. Hatinya patah.
Maka, dengan napas yang pendek-pendek, dia segera meraih laptop dan berderap ke kamar. Sudah tidak ada harapan. Emosinya meledak. Dia ingin menangis.
Jauh sebelum kejadian berturut-turut pasca Airani dirumahkan ini, sebenarnya dia juga tahu bahwa dia kesepian di rumah. Maka dari itu, dia sering menjadikan kantor sebagai salah satu tempat yang membuat hidupnya menyenangkan. Setidaknya di sana, dia mendapat apresiasi. Dengan dibebankan tanggung jawab, tandanya dia dipercaya untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan kompetensinya. Kalaupun lingkungan kantor membandingkannya antara dia dan karyawan lain, dia bisa mengatasinya dengan lebih lapang. Toh, bukan dia saja yang akan mengalami hal itu. Mereka juga hanya orang lain. Tidak ada hubungan darah dengannya. Jadi dia bisa mencari celah yang lebih profesional untuk mempertahankan eksistensinya dalam pekerjaan.
Berbeda dengan di rumah. Semua orang yang ada di rumah ini satu darah dengannya. Di tempat inilah genetiknya berasal, karakternya terbentuk, dan pola pikirnya terasah. Suara Ibu dan Bapak bisa dengan mudah menjadi sebuah kepercayaan dalam benaknya, sebagaimana Airani kecil sering menggantungkan semua pendapat kepada kedua orang tuanya. Yang tanpa sadar, semuanya terinternalisasi ketika dewasa, terutama terhadap pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya. Seperti kata Ibu barusan.
Dia bukan anak yang menyenangkan.
Meski dia yakin akan hubungannya dengan Omeir, Ibu yang mendamprat dengan fakta bahwa dirinya bukan anak yang menyenangkan itu tiba-tiba menjerumuskannya pada jurang ketidakberdayaan. Yang membuatnya langsung membandingkan diri dengan Raisa, termasuk bagaimana kedua orang tua memperlakukan mereka berbeda. Ungkapan Ibu barusan juga seakan memvalidasi rasa rendah diri Airani yang sempat tebersit sebelumnya bahwa dia khawatir untuk menyeret Omeir ke dalam masalah keluarganya. Dia khawatir Omeir menjadi nelangsa jika bersanding dengan dirinya–seorang istri, perempuan, pendamping yang tidak menyenangkan seperti kata Ibu. Namun untuk membayangkan melepas hubungan dengan laki-laki itu pun Airani tidak sanggup.
Airani meraih ponsel. Sambil duduk memeluk lutut di sudut ranjang, dia mengusap layar yang menampilkan sejumlah pemberitahuan. Air matanya sudah menetes sejak tadi. Sambil mengusap pandangannya yang mengabur, dia membaca surel dari klien, pemberitahuan aplikasi, dan yang tak kalah penting… pesan dari Omeir. Dia tahu, sejak semalam laki-laki itu kerap memberinya pesan. Dia juga tahu, Omeir mengkhawatirkannya. Namun, dia sedang tidak bisa mengendalikan diri. Ibu yang kerap mengomel, Bapak yang terkesan abai dan sibuk dengan ponsel, ditambah dia juga harus fokus bekerja, menempatkannya pada situasi yang sulit.
Sambil berusaha menghela napas, Airani membuka pesan Omeir. Ada beberapa baris chat dari lelaki itu, yang kebanyakan menanyakan kabarnya.
Omeir Brillianda
Dek, semua aman?
Berkabar ya, jangan sungkan kalau butuh bantuanku
Itu pesan saat sore hari. Malamnya, lelaki itu mengirim pesan lagi.
Omeir Brillianda
Kamu beneran belum ngabarin aku, aku jadi khawatir
Selang sepuluh menit, ada pesan lanjutan.