Battery About To Die

ASMIRA FHEA
Chapter #8

8% - Account Suspended

Dalam sejarah keluarganya, kalau mood Ibu sedang kacau begini, tandanya perlu ada jarak yang cukup supaya tidak ada ledakan lagi.

Maka, esok paginya, Airani sengaja jogging. Padahal malamnya dia baru tidur pukul dua pagi. Namun pukul setengah tujuh ini, sengaja dia keluar pagi-pagi dengan setelan olahraga, sekadar untuk berkeliling komplek demi menghirup udara segar. Mumpung hari Minggu. Setidaknya akan lebih mudah dimaklumi kalau dia kelihatan santai di mata tetangga, dibanding jika berkeliaran pada hari kerja. 

Dia menyapa satu persatu tetangganya. Mulai dari pasangan lansia yang sedang berjemur tidak jauh dari rumahnya, bayi dari rumah kontrakan berwarna putih yang juga dijemur di atas kereta dorong sedang dijaga oleh ibunya, anak-anak kecil yang belajar bersepeda, sampai akhirnya… dia menemukan pemandangan ganjil. Inaya, teman sebaya yang pernah disebut Ibu, mengeluarkan motor dari rumah lengkap dengan pakaian yang rapi. Rambutnya yang basah dan panjang sebahu dibiarkan tergerai. Sejenak, Airani mengernyit. Sampai akhirnya dia menemukan mata Inaya yang berserobok dengan matanya.  

“Ran? Olahraga? Tumben,” kelakar Inaya saat mendapatinya.

Airani tertawa. Opini yang valid! Karena Airani bukan tipe orang yang hobi keluar di pagi hari, apalagi atas nama olahraga. Maka, dia berlagak sedang merenggangkan tubuh. “Justru aku yang mau tanya, Nay. Weekend gini kerja? Serius?”

Balasan tawa dari Inaya justru terdengar sedang mengasihani diri sendiri. “Demi insentif yang nggak seberapa, Ran,” balasnya prihatin, dengan wajah yang memelas. Kemudian perempuan itu menoleh sejenak ke arah dalam rumahnya, sebelum berbicara lagi dengan Airani. “Ada cita-cita orang tua yang harus dipenuhi,” lanjutnya dengan nada rendah.

Airani membulatkan bibir, kemudian tersenyum masygul. Dia tidak berniat untuk memperpanjang obrolan.

Inaya adalah seorang buruh pabrik biskuit yang lokasinya tidak jauh dari kompleks rumah mereka. Setahu Airani, perempuan itu sudah bekerja di sana sejak lulus SMK. Dulu, mereka berada di SD dan SMP yang sama. Sampai akhirnya mereka berpisah di SMA, karena Airani masuk ke sebuah SMA swasta, lalu lanjut kuliah. Sementara Inaya langsung terjun ke dunia kerja.

“Aku dengar berita soal Wheelz, mau nanya ke kamu tapi nggak enak,” lanjut Inaya menyadarkan Airani yang tengah melamun.

Kedua alis Airani terangkat. Dia tahu maksud tersirat dari kata-kata itu. Maka, setelah mengukur situasi, dia menjawab jujur, “Iya, begitulah, Nay. Sekarang aku full WFH.” Toh, berita tentang PHK-nya Wheelz bersamaan dengan berita PHK dari perusahaan rintisan lain. Dengungnya cukup besar, karena memangkas jumlah pegawai yang cukup banyak. Tanpa harus bekerja kantoran pun, berita ini tersebar di mana-mana, terutama di media sosial.

Inaya menganga, “Oh jadi beneran, ya? Ibuku cerita, katanya tahu dari ibumu.”

Airani meringis. Dia tidak heran. Karena ibunya memang broadcaster sejati jika bertemu dengan para tetangga. “Kalau ada lowongan di kantormu, boleh sounding ke aku dong,” candanya setengah serius. Siapa tahu dengan bekerja kantoran lagi, hubungannya dengan kedua orang tua tidak terlalu berselisih seperti sekarang.   

Inaya mengangguk. “Ntar aku cari tahu, ya? Kalau ada yang cocok sama kamu, aku forward. Kamu tinggal lamar.”

“Makasih, ya.”

Ketika Airani pikir Inaya akan segera berangkat, rupanya perempuan itu sempat terdiam sejenak. Airani menangkap gestur kalau Inaya ingin berbicara dengannya. “Semangat, ya, Ran.   Zaman sekarang lagi serba susah. Yang kerja pun rasanya kayak diperah habis-habisan supaya bos makin kaya. Kalau nggak inget orang tua, rasanya capek banget. Gaji kecil, insentif nggak seberapa, tapi setiap hari rasanya mau pingsan. Cuma bisa berdoa, semoga gaji yang nggak banyak ini bisa bantu-bantu orang tua.”

Airani terpegun sejenak. Kedua orang tua Inaya memang sebaya dengan bapak dan ibunya. Usia mereka tidak terpaut jauh. Namun yang Airani tahu, keuangan mereka masih ditopang dengan jualan ayam bakar kecil-kecilan yang kedainya menyatu dalam rumah. Usaha ini sudah digeluti sejak mereka SD dulu. Dia tidak tahu bagaimana peran Inaya, terutama dalam finansial di keluarga itu.

Lihat selengkapnya