Mood Ibu belum membaik. Maka pada sore hari di sela-sela pekerjaannya, Airani berusaha mengambil hati Ibu dengan melakukan sesuatu yang memancing perhatian di dapur. Dia merapikan piring yang sudah dicuci oleh Teh Rini untuk diletakkan di rak yang berisi utensil lainnya yang sudah kering. Kemudian dia mengeluarkan mangga dan semangka dari kulkas untuk dikupas. Buah-buahan ini sepertinya tidak akan disentuh kalau tidak ada yang inisiatif mengupasnya dan menyajikannya secara layak di atas meja.
Siapa tahu, sore ini Ibu mau mencamil. Dengan begitu, Airani bisa mencuri-curi kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Meski sebenarnya di dalam hati dia berusaha mengalah dan menekan-nekan emosi, karena insiden kemarin juga membuatnya jengkel.
Ibu datang dari depan pintu menuju ke dalam rumah. Wajahnya bersungut-sungut. Airani tahu, Ibu habis bertemu dengan Bu RT yang baru saja menyambangi rumah mereka, tapi hanya berbicara di teras. Tidak sampai masuk ke ruang tamu. Pada saat Airani mengetik sesuatu di laptop, samar-samar telinganya mendengar percakapan mereka yang berkaitan dengan program Ngeriung. Entah bagaimana detailnya. Karena ruang makan tempatnya duduk agak jauh dengan teras luar.
Maka, Airani mencari celah untuk bisa berbicara dengan ibunya. “Bu, aku ngupas mangga.” Itu sapaan pertamanya sambil
Ibu hanya menoleh sekilas. Di tangan Ibu, ada selembar kain yang dibungkus plastik berwarna bening. Airani menerka-nerka. Sepertinya pertemuan dengan Bu RT tadi membuahkan sesuatu.
“Bu RT tadi ngapain, Bu?” Airani masih berusaha membuat Ibu buka suara.
Ibu yang berada di dapur, menuangkan air ke dalam mug. Kemudian Ibu duduk di anak tangga kedua dari bawah untuk meneguknya hingga tak bersisa. “Ngomongin soal Ngeriung,” jawab Ibu pendek.
Sesuai dugaan. “Oh, apa katanya?” balasnya berusaha netral.
“Katanya, Bu RT udah ngehubungin keponakannya yang kerja di Skrin TV buat bisa masuk jadi peserta Ngeriung.” Akhirnya Ibu mulai bercerita. Kalau dari air muka yang bisa Airani baca, sepertinya Ibu memang butuh mengeluarkan uneg-uneg. “Sekarang Bu RT lagi kumpulin orang-orang yang bisa ikut. Ibu ditanyain, jadi bisa ikut atau nggak?”
“Terus Ibu jawab apa?”
Ibu menghela napas. “Yaaaa, Ibu penginnya ikut. Tapi kalau disuruh ikut bikin baju dari sekarang kan mikir-mikir dulu. Kemarin sudah ketipu, habis banyak.”
Airani mengernyit. “Memangnya ikut kuis kayak begitu harus bikin baju, Bu? Baju apa? Seragam?”
“Ya… Bu RT maunya begitu. Bajunya gamis gitu kata Bu RT. Biar kelihatan kompak, kelihatan heboh, menarik, terus kelihatan viral di TV. Harus beda dari yang lain. Kalau bisa bajunya sudah ada sebelum masuk TV. Buat dibikin video dulu.”
Ah, video. Airani menelan ludah karena hal itu mengingatkannya pada peristiwa di malam hari sebelum dia presentasi. “Emangnya nggak beli aja gitu, Bu, seragamnya? Kalau bikin kan mahal?”
Lagi-lagi, Ibu menghela napas. “Ya begitulah Bu RT kalau sudah punya mau. Mungkin Bu RT ya mikirnya semua orang kayak dia. Semua punya uang, yang kalau butuh apa-apa, tinggal minta suami, minta anak. Iya, dia enak. Suaminya polisi, pangkatnya tinggi. Kalau lagi punya uang, bisa pamer emas ke mana-mana. Nggak pusing urus keluarga, pembantunya banyak. Rumahnya juga banyak. Anaknya juga kerja di luar negeri. Di Dubai. Gajinya banyak. Ya yang repot kan orang-orang kayak Ibu ini. Yang suaminya baru pensiun, anaknya juga baru kena PHK. Nggak bisa diburu-buru kalau diminta uang buat patungan.”
Kedua alis Airani bertaut. Dia merasa ada sesuatu yang ganjil di sini. Maka, dengan pembawaan yang berusaha tenang, dia menjawab, “Bu, kan uang Ibu yang masih di rekeningku juga ada. Sisa uang yang kemarin masih bisa diselamatkan.” Sisa uang yang sebenarnya tergolong sedikit untuk ibu rumah tangga. Hanya sepuluh persen dari tabungan rumahnya. “Itu kan bisa dipakai dulu buat keperluan kuis kalau Ibu memang mau.”
Ibu mendengkus. “Ya Ibu nggak mau. Uang Ibu sudah terkuras kemarin, masa harus Ibu keluarin lagi?”
Lho, maksudnya? “Jadi Ibu nggak mau ikut kuis?” Dia berusaha menarik kesimpulan dengan logikanya.
“Ya mau!” seru Ibu mendadak dengan nada meninggi.
“Terus?”
“Ya Ibu mau ikut. Mau bikin baju juga. Tapi nggak mau pakai sisa duit Ibu.”