Battery About To Die

ASMIRA FHEA
Chapter #10

10% - Status Update: Loud and Clear

“Mbak, Mbak, Ibu sama Bapak mau ke rumah sakit ya!”

 Airani terlonjak begitu mendengar gedoran heboh dari luar pintu kamarnya. Dirinya yang masih mengenakan mukena habis salat subuh tadi langsung bangkit dari kasur dalam keadaan berdebar-debar. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, dia beringsut menuju pintu dan membukanya. Ibu ada di depan, berpakaian rapi dengan jilbab.

“Mau ke mana, Bu?” tanyanya linglung. Bahkan, matanya saja menyipit saking berusaha menyesuaikan dengan cahaya pagi yang masuk.

“Ya Allah, jam segini masih tidur!” omel Ibu begitu mendapatinya. “Ini Ibu dikabarin Raisa, Nab masuk rumah sakit. Opname dia! Ibu sama Bapak mau cepat-cepat ke sana.”

Airani membelalak. Kini kesadarannya sudah pulih sepenuhnya. “Nab sakit apa?”

“Ya nggak tahu. Ini Ibu mau lihat langsung. Tadi Raisa telepon Ibu sambil nangis-nangis.” Ibu misuh-misuh sambil merapikan tas yang dibawanya. “Udah, Ibu mau berangkat. Bapak juga udah siap. Kamu kalau nggak mau ke mana-mana jaga rumah aja. Teh Rini udah ada di bawah.”

Perlu beberapa detik buat Airani mencerna semuanya, sampai dia memutuskan sesuatu dalam waktu cepat. “Bu, nanti aku nyusul! Nab dirawat di rumah sakit mana?”

*

Sejujurnya, belakangan ini pekerjaannya tidak berjalan dengan lancar. Kliennya semalam mengabarkan adanya potensi untuk mempekerjakan karyawan in house untuk take over e-mail marketing. Sehingga proyek yang dikerjakan Airani terancam berhenti di tengah jalan. Oleh karena itu, semalam Airani bernegosiasi alot supaya proyeknya berjalan sesuai dengan rencana dengan menawarkan ide-ide yang bisa dikembangkan. Meski pihak klien akan membayar hanya sesuai dengan hasil yang sudah dia kerjakan, tapi bagaimana pun mereka juga sudah memegang rencana lengkap yang disusun Airani berdasarkan idenya. Dia sedang menjaga itu, karena risetnya sudah susah payah dan tidak mau idenya dicuri dengan cara yang curang. Ditambah, kalau dia berhasil menyelesaikan proyek sampai tuntas, maka dia akan dibayar secara full. Dengan begitu, tabungannya yang sempat terkuras karena untuk ‘nyenengin Ibu’ akan terganti lebih, sekaligus bisa untuk menopang biaya hidup sehari-hari.

Namun berita Nab masuk rumah sakit ini jelas tidak bisa diabaikan. Untuk sesaat, Airani harus mengalah dari jadwal yang sudah disusunnya hari ini. Pagi setelah Ibu meninggalkan rumah, dia bergerak secepat mungkin untuk siap-siap. Pukul sembilan pagi, dalam kondisi hanya meneguk air mineral, dia keluar dari rumah. Teh Rini yang belum tuntas mengerjakan seluruh tugas di rumah, dia minta pulang lebih awal.

Dan di sinilah Airani. Di sebuah rumah sakit swasta bernuansa putih dan kayu-kayu cokelat tempat Nab lahir. Tanpa membawa laptop, dan berpakaian santai seadanya. Tanpa make up tentu saja. Kepalanya celingukan mencari kamar nomor 407 tempat Nab dirawat. Ketika dia menemukan sebuah pintu kayu menunjukkan nomor yang dimaksud, dia segera membasuh tangan dengan hand sanitizer di depan, dan masuk ke dalam.

Ruangan itu berisi tirai-tirai pembatas bilik tanda tidak hanya satu bed pasien saja yang menghuni di tempat yang sama. Ada tiga tirai dengan luas bilik yang sama, dan Airani menemukan sosok Raisa berada di bed paling ujung. Perempuan itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ibu. Pemandangan itu membuat langkah Airani berhenti sejenak. Ada silet tak kasatmata yang menancap di hatinya. Dia tahu, ini bukanlah waktu yang tepat. Namun perasaan ini muncul begitu saja tanpa bisa dicegah.

Kapan terakhir aku dipeluk Ibu? Pertanyaan itu tercetus di kepala. Dari dulu, dirinya selalu diminta untuk berperan sebagai seorang kakak yang bisa menjadi panutan adiknya. Kalau salah, dimarahi lebih. Dianggap tidak bisa memberi contoh yang baik untuk Raisa. Kalau kurang, dianggap tidak teliti. Orang tuanya memang pernah memujinya ketika dia berhasil mencapai sebuah prestasi, tapi entah bagaimana kata-kata menyakitkan yang muncul setiap kali dia melakukan kesalahan dan menghadapi kegagalan justru yang lebih paten bersemayam di kepala. Yang semakin ke sini, berpengaruh dengan cara dia menilai diri sendiri; sosok yang banyak kurangnya, dan tidak menyenangkan orang tua.

Aku kangen diperlakukan sebagai anak juga kayak Raisa… Itu kata-kata kedua yang meluncur begitu saja di dalam hati. Bukan saatnya menangis, dan kalau mau menangis, bukan di sini tempatnya. Airani bersikuat mengafirmasi diri sendiri. Saat ini, seharusnya dia fokus menghadapi fakta di depan mata; Nab yang terkulai lemah, tidur di atas ranjang rumah sakit, dengan jarum infus yang tertancap di punggung tangan.

Namun setelah melihat adegan berpelukan antara Raisa dan Ibu yang tak bersekat, seketika Airani jadi punya jawaban, kenapa dia kemarin menyangkal kata-kata Omeir. Iya, dengan apa yang dia rasakan saat ini, otomatis kata-kata Omeir menempatkan mereka berada di posisi yang berbeda. Sehingga sulit membuatnya berpikir bahwa dia sekadar jengkel ‘hanya’ karena Ibu yang kembali kekanakan. Ini lebih karena dia sedang merindukan kepingan dirinya yang hilang karena sejak dulu diperlakukan sebagai penopang, kakak yang seharusnya mengalah, dan sosok mandiri yang tidak perlu dibantu.

Bukan lagi menjadi anak yang masih membutuhkan pelukan orang tua.

“Mbak, udah datang?” Pertanyaan itu terdengar tiba-tiba, membuat Airani terkejut.

Dia menoleh. Ternyata Bapak berdiri di belakangnya. Ketika melihat Bapak, Airani baru sadar kalau ada air yang mengembang di pelupuk mata.

“Iya, Pak, ini baru datang,” jawabnya pelan. Ada satu pasien anak lagi yang menempati bilik dekat pintu. Usianya sepertinya sudah tingkat akhir SD. Meski kelihatan tidak begitu rewel, Airani tetap berusaha menjaga ketenangan.

Pada saat itulah, Raisa dan Ibu menyadari kehadirannya. Pelukan mereka terurai dan Airani mengulas senyum.

Lihat selengkapnya