Battery About To Die

ASMIRA FHEA
Chapter #11

11% - Something Went Wrong

Sebagai anak pertama, tanpa sadar Airani terbiasa menelan kekecewaan, kegagalan, dan kekalahan sendirian. 

Usianya baru empat tahun ketika dia resmi menjadi anak TK. Namun dia harus berebut seragam, tas, dan sepatu yang lucu karena Raisa ingin punya juga. Padahal adiknya itu baru boleh masuk sekolah tahun depan. Namun karena Raisa merengek ingin seperti kakaknya, akhirnya Ibu yang berbicara. 

“Udah, ngalah dulu sama adikmu. Dia belum paham. Kamu kakaknya, yang paling tua. Seharusnya lebih mengerti.”

Kakak, paling tua, dan mengalah. Tiga kata itu yang terpatri dalam benaknya sejak dia belum mengerti apa-apa, sampai dia berusaha menerima takdirnya sebagai anak tertua.

Atau ketika suatu hari, dirinya dan Raisa sedang belajar berenang bersama. Saat itu, Airani baru masuk SD, sementara Raisa sudah TK. Mereka berlibur di salah satu hotel di daerah Bogor yang dipesan Bapak. Rupanya, entah bagaimana, Raisa kecil tergelincir dan sempat tenggelam. Airani panik. Bapak dan Ibu sedang duduk di sunbed dekat kolam. Pertolongan baru datang menit setelahnya. Kejadian sepersekian detik itu membuahkan hasil yang tidak terlupakan bagi Airani. Dia dimarahi habis-habisan oleh Bapak karena dianggap gagal sebagai seorang kakak.

“Kamu gimana, sih, Mbak? Kok malah nggak bisa jaga adikmu sampai tenggelam begitu? Kan tadi Bapak sudah pesanin, lihat adiknya baik-baik! Kalian main berdua, dan kamu yang paling tua seharusnya yang jaga! Kenapa bisa sampai kayak tadi? Kalau Dek Raisa kenapa-kenapa gimana?”

Yang Airani kecil tahu, dimarahi begitu dia menangis dan merasa bersalah. Dengan mudah dia memasukkan ke dalam hati bahwa dia gagal menjaga adik satu-satunya. Benar kata Bapak, seharusnya dia mengawasi Raisa dengan baik. Mereka hanya dua bersaudara. Harusnya bisa saling menjaga satu sama lain.

Namun seiring beranjak dewasa, ketika dia mengingat pada masa itu, dirinya memiliki jawaban lain. Jawaban yang tidak pernah punya ruang untuk diungkapkan, seiring dengan memori-memori baru yang terpendam di dalam tubuhnya. Dirinya yang dulu hanyalah anak kecil yang postur dan berat badannya tidak jauh berbeda dengan Raisa. Dengan kemampuan otak yang masih berkembang, situasi darurat yang terjadi tiba-tiba itu membuat tubuhnya membeku. Dia tidak tahu bagaimana caranya menolong Raisa. Dia bukan orang dewasa yang lebih kuat dan lebih taktis mencari solusi. Pengalaman hidupnya hanya seujung kuku. Apalagi pada saat itu dia juga belum terlalu mahir dalam berenang. Hanya sekadar bisa, belum terlalu jago.

Namun dua core memories itu terpatri dalam benaknya, bersamaan dengan memori-memori serupa lainnya, yang selalu terungkit ketika kejadian-kejadian serupa datang. Semua itu menyeretnya ke sebuah sudut atas nama kekalahan. Airani kecil yang dipaksa menerima takdir sebagai anak-perempuan-pertama-yang-harusnya-mengalah, bertumbuh menjadi seorang anak sulung yang bertanya-tanya, Memangnya siapa yang bisa memilih harus ditakdirkan sebagai anak keberapa? Kenapa Ibu dan Bapak selalu menempatkan seolah dirinya ‘salah sendiri’ memilih takdir sebagai anak sulung? 

Tekanan demi tekanan itulah yang akhirnya membuat Airani menjadi bersekat dari Ibu dan Bapak. Ekspektasi dari mereka tanpa sadar membuat dia keras pada diri sendiri. Dia tidak bisa bergantung pada siapa-siapa, tapi di saat yang sama dia juga sulit menolak jika ada orang yang bergantung kepada dirinya. Seperti halnya yang baru terjadi padanya belakangan ini. Ibu yang mengandalkannya untuk memenuhi keinginan tersier demi menunjang ego, dan Raisa yang mengandalkannya untuk menjaga Nab. Di saat yang sama, Airani memiliki target untuk diri sendiri lewat pekerjaan barunya. Semua menumpuk di pundak pada waktu yang bersamaan dan sejak kecil dia dibentuk sebagai anak yang tidak boleh gagal ketika diberi amanah. Ketika akhirnya dia ingin meledak dan butuh ruang untuk bernapas bersama orang-orang yang membuatnya nyaman, tidak ada satu orang pun yang saat ini tebersit dalam benaknya. Tidak Bapak, tidak juga Omeir.

Dia sendirian. Untuk itu, dia mengurung diri di kamar begitu pulang, lalu mengambil napas dalam-dalam, berharap semuanya bisa terurai dan lebih longgar.

*

Dear Ms. Jelita,

Thank you so much for taking the time to share your proposal for our upcoming social media campaign. We truly appreciate the thought and effort you put into it. After discussing it carefully with Mrs. Sanders, we’ve decided we won't be moving forward with the offer at this time.

On a related note, we also wanted to take a moment to discuss our current working arrangement. Reflecting on the journey we’ve shared so far, August 13, 2026, will mark the natural conclusion of our collaboration. While we’ve always deeply valued your energy, we found that a few of our key milestones and deadlines didn't quite align with the pace and standards we were hoping for.

Please rest assured that we will process compensation for all the tasks you have successfully completed up to this point. We are genuinely grateful for the time we’ve spent working together, and we truly wish you all the very best and continued success in your future endeavors.

Warmly, 

Mrs. Sanders Color Atelier  

Lihat selengkapnya