Battery About To Die

ASMIRA FHEA
Chapter #12

12% - Connection Lost

Omeir berderap tergesa-gesa setelah menerima telepon dari keluarga Airani. Dia segera meluncur ke sebuah rumah sakit swasta yang disebutkan Bu Nurul, menghampiri ruang IGD, masih dengan pakaian dan perlengkapan bekerja.

Sejak pertemuan terakhir, Airani kembali menjadi sosok yang sulit dihubungi. Sekalipun mereka berkomunikasi lewat teks pesan, jawabannya selalu singkat. Omeir memang sempat merasa ada yang tidak beres, tapi dia tidak berpikir lebih jauh kalau situasinya memang benar-benar buruk. Dia tidak ingin berprasangka apa-apa, ditambah dirinya memang sibuk. Jadi dia memilih berpikir dengan cara yang simpel, sembari fokus pada tujuan hubungan mereka daripada berkubang pada masalah yang disebabkan pikirannya sendiri.

Sampai sesuatu terjadi pada hari ini.

Sosok Airani dia temukan di salah satu bilik bed yang ditutupi tirai berwarna krem. Perempuan itu melingkari kain kerudung di kepala, tanpa mengaitkan peniti di dagu. Pakaiannya pun pakaian rumahan yang kusut. Sepanjang bersama gadis itu, baru kali ini Omeir melihat Airani dalam kondisi yang amat tidak prima seperti ini. Wajahnya pucat, ekspresinya kuyu, beberapa helai rambut mencuat dari sisi-sisi wajah dan di bagian poni. Ketika mata mereka bertemu, gadis itu yang pertama kali memalingkan wajah. Padahal posisinya sedang merebah di atas kasur.

“Dek…” panggilnya pelan.

Airani tidak membalas panggilannya. Menoleh kepadanya pun tidak. Omeir langsung mati kutu. Kenapa aku dihindari?

Namun Omeir tidak ingin kehabisan akal. Mungkin Airani tidak bermaksud menghindarinya. Mungkin gadis itu hanya sensitif karena sedang sakit, dan malu bertemunya dalam kondisi seperti ini. Meski bagi Omeir, dia tidak masalah sama sekali. Justru dia merasa bermanfaat karena dilibatkan keluarga Airani dalam kondisi lemah sekalipun. “Dek… Apanya yang sakit?” tanyanya berusaha perhatian.

Terdengar Airani menghela napas. Sebelah tangannya diletakkan sebagai alas kepala. “Ibu sama Bapak lagi nganterin Nab pulang ke rumah. Aku nggak apa-apa di sini sendirian. Mas Omeir nggak usah repot-repot ke sini. Nanti kalau aku udah enakan, aku bisa pulang sendiri.”

Omeir mengernyit. Alih-alih menjawab pertanyaan, gadis itu malah mengusirnya. “Dek? Kok gitu?”

Airani tidak menjawab. Hanya terdengar gadis itu mengembuskan napas berat.

Suasana ini benar-benar tidak enak. Maka, Omeir lebih memilih untuk mengalah saja. “Kamu udah makan? Mau makan apa?”

Airani hanya menggeleng.

“Aku beneran khawatir lho pas dengar kamu pingsan.” Omeir berusaha mengungkapkan isi hati, demi meraih atensi Airani. “Kamu kecapekan ya? Stres ya sama deadline?”

Barulah kali ini Airani menoleh ke arahnya. Kedua alis gadis itu bertaut seolah sedang menahan sakit di kepala. “Aku dipecat klienku. Nggak ada orang yang nggak stres ketika dengar kabar itu.”

Di situlah Omeir terkejut. Dirinya baru sadar, bahwa beberapa hari tidak berkomunikasi intens dengan Airani justru membuatnya ketinggalan banyak berita. Kenapa bisa dipecat? Bukankah gadis itu bisa bekerja dengan baik? Bahkan dalam kencan mereka, gadis itu selalu membuka laptop tanda bertanggung jawab atas pekerjaannya.

Namun Omeir sadar, bukan saatnya dia mencecar semua pertanyaan itu. Dilihatnya gadis yang masih memunggunginya. Dengan posisi Omeir yang berdiri di samping bed Airani, dirinya kehabisan akal bagaimana untuk bersikap.

“Aku… aku nggak tahu. Maaf,” akunya gugup. “Ibu cuma bilang katanya kamu vertigo.” Dan aku pikir kamu baik-baik saja selama aku sibuk dengan pekerjaan tambahanku.

Seorang dokter laki-laki masuk ke bilik Airani, lengkap dengan perawat yang membawa papan jalan. Obrolan di antara mereka terinterupsi sejenak ketika dokter itu memeriksa tabung infus, dan mengecek kondisi Airani.

“Dok, apa ada indikasi penyakit serius?” tanya Omeir dengan sangat khawatir. Dia seperti orang bodoh di sini, yang linglung sekaligus tidak berdaya karena didiamkan sepihak. 

Lihat selengkapnya