Airani merasa dia sudah cukup jelas menyatakan apa yang diinginkannya kepada Omeir. Keputusan ini sudah dipikirkannya sejak kerumitan dalam hidupnya semakin membelit. Namun ketika melihat reaksi Omeir… entahlah. Pria itu diam, menatapnya intens dan tajam, seolah sedang berusaha mentransfer apa yang sedang di dalam pikirannya kepada Airani tanpa kata-kata.
Dia lagi marah, ya? Tatapannya mengingatkan Airani ketika Omeir bersitegang dengan divisi event saat mereka sekantor dulu. Omeir memang bukan tipe laki-laki yang meninggikan suara apalagi bersikap kasar ketika marah. Selama mereka bersama, pria itu adalah sosok yang mau mendiskusikan dengan kepala dingin meski sudut pandang mereka sedang berlawanan. Kecuali dalam saat-saat genting, yang Airani kenal sebagai mode tidak bisa diganggu. Mungkin sekarang juga begitu.
Namun Airani tidak ingin menarik kembali kata-katanya. Bisa dibilang, itu adalah keputusan finalnya untuk saat ini. Perkara apa yang akan terjadi di masa depan, nanti dia pikirkan kembali ketika semuanya sudah bisa ditata pelan-pelan. Bahkan, dia enggan berpikir bahwa keputusannya ini membuahkan penyesalan atau tidak.
Pukul sembilan pagi, sosok Bapak dan Ibu baru kelihatan batang hidungnya. Namun sebelum menghampiri Airani, Omeir membawa keduanya ke ruangan yang tidak terjangkau oleh bed-nya. Omeir hanya meminta Airani untuk tunggu sebentar, ketika dirinya bertanya apa yang akan dilakukan pria itu terhadap orang tuanya. Namun ketika melihat sorot serius yang tidak ingin terbantahkan, Airani urung untuk mengejar lebih lanjut.
‘Sebentar’ yang dimaksud Omeir ternyata lebih dari tiga puluh menit. Kalau saja tidak ada ponsel, Airani bisa kebosanan setengah mati karena penasaran apa yang sedang mereka bahas.
“Aku ngajak Bapak dan Ibu sarapan di depan. Karena nggak mungkin kan kami bertiga makan makananmu,” terang Omeir ketika sudah kembali. Ada seringai tawa di ujung kalimatnya.
Airani memicingkan mata. Dia tahu, Omeir sedang berusaha kelihatan santai. Apalagi ada Bapak dan Ibu di dekat mereka. “Makan apa tadi emangnya, Mas?”
“Sarapan bubur di depan. Enak deh, Dek.” Pria itu mengembangkan senyum. “Nanti kalau kamu udah sembuh aku ajak ke sana.”
Airani menjengitkan alis.
“Omong-omong hari ini aku sekalian ambil cuti,” lanjut Omeir. “Tadi aku udah lapor ke Mas Fajar. Mumpung cutiku masih ada juga, sayang kalau nggak diambil. Sekaligus sekalian nganterin kamu pulang. Kayaknya aku optimis hari ini kamu boleh rawat jalan.” Dia menyebut nama atasannya langsung, yang Airani kenal juga.
“Mas–”
“Jangan bahas apa-apa dulu, ya,” katanya kalem, dengan posisi yang mendekat kepada Airani. “Jangan anggap aku membebani kamu karena aku pun nggak pernah merasa sebaliknya. Ini murni karena aku mau bantu. Aku sayang sama kamu, dan nggak seharusnya kita berpisah seperti ini.”