Battery About To Die

ASMIRA FHEA
Chapter #14

14% - System Recovery

Dia tidak pergi. Satu kalimat yang membuat Airani tersentuh.

Padahal, keputusannya untuk melepaskan Omeir tidak lain agar membebaskan pria itu dari masalah-masalah yang tidak seharusnya dipikirkannya. Airani tahu dirinya masih sayang, amat sayang, pada pria yang hampir satu tahun menemaninya itu. Namun jika dipikirkan secara logika, dia sulit membayangkan bisa membangun hubungan yang sehat jika dirinya sendiri sedang kewalahan menata hati. Dia sedang sangat insecure di mana-mana. Dia juga sedang tidak terkoneksi oleh banyak orang, terutama keluarga. Opsi dijauhi dan menyendiri kedengarannya adalah hal yang paling ideal. Namun dia juga tahu, di dalam lubuk hati, dia tidak ingin benar-benar sendirian. Dia butuh orang yang paling mengenalnya, yang menerima baik-buruknya, bukan hanya yang mendekat ketika membutuhkannya.

“Dek, kamu tuh berarti banget buat aku.”

Malam ketika Airani resmi pulang dari rawat inap, Omeir mengirim pesan suara di WhatsApp. Airani mendengarnya sambil berbaring di atas kasur.

Aku memang nggak bisa memaksa kamu buat cerita semuanya ke aku, kalau kamu memang merasa semua akan lebih mudah jika dihadapi sendirian. Sama halnya dengan aku yang nggak bisa menembus isi pikiranmu. Tapi yang perlu kamu tahu, kalau kamu butuh orang yang bisa dipercaya buat dengar ceritamu, ada aku. Jangan lupain aku. Aku bukan orang yang menerima kamu saat kamu bahagia aja, tapi juga aku ingin bisa diandalkan di saat-saat kamu butuh pertolongan.”

Hati Airani bergetar. Kata-kata Omeir merasuk ke dalam benak. Bahkan, dia sendiri tidak ingat bahwa dia setertutup ini di depan pasangan sendiri. Selama ini, dia merasa sudah berbagi banyak; mimpi, plan hidup, perasaan, kerumitan di tempat kerja, sampai keseharian satu sama lain. Yang ternyata, itu semua dinilai Omeir belum cukup. Padahal dalam kamus Airani, Omeir adalah orang yang paling bisa membuatnya terbuka dibanding orang lain–termasuk keluarga.

Maka, dia membalas pesan itu.

Airani Jelita

Mas, makasih… Aku sampai nggak bisa berkata-kata karena VN dari Mas…

Memang benar, lagi banyak yang aku pikirin

Kayak semuanya numpuk di kepala, tapi waktuku sempit buat ngejelasinnya

Ditambah, belum tentu semua orang bisa mengerti aku. Bisa jadi aku yang terlalu kekanakan atau nggak sabar menghadapi masalah ini

Makasih udah mau bersabar menghadapi aku yang lagi kacau, lagi blank buat mikirin semuanya, lagi capek, dan hampir menyerah…

Maafin aku, karena aku sering merasa nggak pantas buat jadi pasangan dari orang sebaik Mas Omeir.


Pesan yang panjang itu ternyata benar-benar membawa Airani kepada titik terapuh yang selama ini bersemayam di dalam hatinya. Dia baru menyadari bahwa untuk membuka pintu rahasia yang satu ini, ternyata membutuhkan energi yang cukup besar sehingga air matanya tumpah ruah. Ada perasaan yang meledak dan sulit tergambarkan saat ini. Bertahun-tahun dia menyimpan semuanya sendirian, kemudian menampakkan diri seolah dirinya adalah orang yang kuat menampung itu semua. Jadi, ketika dia harus mengaku bahwa dia sedang lemah, rasanya… tak terlukiskan. Di satu sisi merasa lega, tapi di sisi yang lain ada ketakutan orang menjadi jauh darinya karena tahu dia serapuh itu.

Airani sedang membenamkan wajah di atas kaki yang ditekuk sambil memeluk lutut, ketika ponselnya berdering. Dalam keadaan yang tersedu-sedu, dia gegas menghapus air mata untuk membaca nama penelepon di layar. Ternyata Omeir.

Sebenarnya, Airani tidak ingin menerima telepon itu dalam kondisi sekacau ini. Namun di sisi lain, emosinya mengambil alih. Dia butuh sosok yang menenangkan. Di dalam hati, dia juga ingin ada orang yang mendengar dan memahaminya.

Maka, dia menekan tombol hijau. “Mas…” sapanya dengan suara yang serak dan terisak.

Airani tahu, Omeir di ujung sana menangkap kalau suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. “Dek?” balas pria itu pelan. “Oke, kalau mau nangis dulu nggak apa-apa. Aku di sini, dengarin kamu.”

Lihat selengkapnya