Bunyi kursi berdecit memecah konsentrasi Airani. Ketika dia menoleh, ternyata suaminya sedang menggeret kursi untuk duduk di dekatnya. Di tangan pria itu ada segelas kopi hangat yang akan disuguhkan kepada Airani.
Bibir Airani melukis senyum. Dia menepuk meja di sebelahnya, tanda membiarkan Omeir mendekat.
Iya, satu bulan yang lalu, mereka menikah. Setelah berhasil menata satu persatu masalah dan menyelesaikannya sebaik mungkin, akhirnya mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Pesta pernikahan digelar sesuai dengan kemampuan mereka. Tidak sebesar pesta pernikahan Raisa, tapi juga tidak kecil untuk disebut sebagai sebuah perayaan. Dan yang terpenting, mereka berhasil tinggal terpisah dari orang tua.
“Lagi riset tren, ya, Dek? Dari kemarin kayaknya lihat video yang sama terus,” kata Omeir setelah berhasil mendekat dengan posisi duduk Airani. Pria itu memeluk Airani dengan sebelah tangan, lalu membawa kepala perempuan itu untuk dicium ubun-ubunnya.
Senyum Airani semakin melebar. Dia suka sentuhan sederhana yang menghangatkan hati ini.
Setelah menikah, mereka memutuskan untuk sementara tinggal di apartemen dulu sebelum memiliki hunian tetap. Rumah yang kemarin menjadi incaran mereka masih dalam status survey, karena mereka masih ingin survey ke tempat lain. Jadi, unit apartemen yang berisi dua kamar ini menjadi alternatif karena lokasinya masih ada di dekat rumah orang tua Airani sekaligus terjangkau untuk Omeir ke kantor.
“Campaign yang sekarang emang challenging, Mas. Karena mereka evaluasi dari event tahun lalu yang kurang ngedatengin pasar. Jadi, dari media sosial juga harus pintar-pintar cari angle supaya menarik audiens,” jawab Airani sambil membalas pelukan suaminya. Mereka berdua sedang duduk menghadap ke jendela yang menunjukkan pemandangan lalu lintas dari lantai sembilan. Airani beruntung, mereka mendapat apartemen yang bisa menghadap ke jalan raya, bukan yang menghadap unit apartemen orang lain.
“Aku nggak paham soal acara-acara kecantikan begitu.” Omeir tertawa sembari meringis. “Yang aku tahu, pokoknya kamu jangan capek-capek aja. Jalani pekerjaanmu se-enjoy mungkin, supaya nggak sampai sakit lagi.”
Airani menyeringai. Dia mengangguk atas pesan dari suaminya.
Iya, kali ini dia ditugaskan untuk terlibat ke dalam tim media sosial untuk event tahunan Beauty Network yang diselenggarakan oleh salah satu media daring yang bekerja sama dengan produsen kosmetik lokal yang terkenal. Sebagai pekerja lepas, Airani ditugaskan untuk menganalisis secara tajam mengenai tren, sebelum mengimplementasikannya ke dalam konten. Meski banyak tugas yang dikerjakan dari rumah, dia juga kerap bolak-balik in charge ke kantor Meridian.com sebagai media penyelenggara untuk berkoordinasi tentang scope pekerjaannya.
“Oke, Mas. Tenang aja. Aku kalau diperhatiin Mas Omeir kayak begini, kayaknya penyakit-penyakit juga keder duluan buat ngedeketin aku,” ujarnya sambil tertawa.
Mungkin Airani memang belum berhasil mendapatkan rumah impiannya. Mungkin juga mereka masih perlu waktu memproses dan mensurvey, sebelum menjatuhkan keputusan yang sama-sama disepakati. Dia juga belum berhasil mendapat karier kantoran sesuai harapannya, jadi masih mengandalkan lowongan pekerja lepas yang hanya berpangku pada project bulanan.
Namun, bersama Omeir, dia seperti menemukan rumah yang membuatnya nyaman. Bukan dalam bentuk bangunan. Melainkan dalam bentuk pribadi seseorang yang tidak membuatnya takut, sekaligus membuatnya bisa menjadi diri sendiri tanpa khawatir ini dan itu.
*
Pada akhir pekan, Bapak meminta kedua anaknya untuk mampir ke rumah. Lengkap dengan keluarga masing-masing.
Sebagai pasangan yang tinggal agak jauh sedikit, tentu saja Airani dan Omeir yang tiba belakangan. Ketika mereka menginjakkan kaki ke rumah, suasana sudah ramai karena Nab berisik sendiri. Rupanya karena kali ini Raisa datang bersama Panji. Mungkin anak kecil itu bahagia, karena ayahnya juga ikut berkumpul dengan keluarga.