Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #11

Bab | 11

Palu kayu itu berbunyi pelan, tapi ritmis. Zaenal menahan papan dengan lututnya, sementara Hafiz memegang paku dengan hati-hati. Meja belajar itu belum sempurna, masih kasar di beberapa sudut, tapi cukup kuat untuk menopang sebuah buku tulis.

“Pegangnya yang lurus,” kata Zaenal.

“Iya, Mang,” jawab Hafiz serius, seolah sedang membangun sesuatu yang sangat penting.

Meja itu memang penting. Itu adalah meja pertama yang benar-benar dibuat khusus untuk Hafiz. Bukan meja bekas. Bukan meja pinjaman. Meja miliknya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara langkah ramai dari luar pagar.

“Assalamu’alaikum!”

Suara itu membuat Hafiz menoleh cepat. Wajahnya langsung berubah pucat.

Zaenal ikut menoleh.

Di depan rumah, berdiri Bu Laras, tersenyum lebar, diikuti lima anak, tiga laki-laki, dua perempuan, dengan tas di punggung dan wajah penuh semangat.

“Wa… waalaikumsalam,” jawab Zaenal terbata.

Hafiz terpaku.

Bu Laras melangkah masuk. “Maaf datang agak pagi. Anak-anak sudah tidak sabar.”

Hafiz menelan ludah.

Zaenal menoleh ke Hafiz. “Kenapa kamu bisa lupa sesuatu?”

Hafiz menunduk. Bahunya turun.

“Hari ini…” suaranya pelan. “Kerja kelompok.”

Lihat selengkapnya