Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #12

Bab | 12

Pagi itu, pabrik kayu terasa lebih bising. Suara mesin gergaji seperti tidak memberi jeda, seolah ikut menekan dada Zaenal yang sejak subuh terasa sesak. Ia bekerja seperti biasa, mengangkat, mengukur, memotong, namun pikirannya tidak benar-benar berada di sana.

Saat peluit istirahat berbunyi, seorang mandor menghampirinya.

“Nal,” katanya singkat. “Nanti setelah jam kerja, ikut saya sebentar.”

Zaenal mengangguk. Tidak bertanya. Tapi hatinya sudah menebak-nebak.

Ruang kantor kecil itu bau kopi pahit dan kertas lama. Mandor duduk di kursi besi, sementara Zaenal berdiri, topinya ia pegang dengan dua tangan.

“Kamu pekerja bagus,” kata mandor membuka pembicaraan. “Rajin. Jarang absen. Teman-teman juga hormat sama kamu.”

Zaenal hanya menunduk.

“Perusahaan mau naikin kamu,” lanjutnya. “Lembur tetap. Gaji nambah. Lumayan.”

Zaenal mengangkat kepala. Matanya menyiratkan kaget yang tertahan.

“Tapi…” Mandor berhenti sejenak. “Ada syarat.”

Satu kata itu jatuh seperti palu.

Mandor menarik selembar kertas dari map cokelat. “Ini cuma formalitas. Pernyataan netral. Kamu tahu sendiri… belakangan kamu terlalu vokal.”

Zaenal membaca cepat. Tangannya mulai dingin. Tidak boleh terlibat organisasi masyarakat. Tidak boleh ikut aksi atau demo. Tidak boleh menyuarakan aspirasi yang berpotensi mengganggu stabilitas.

“Kami enggak mau ribet, Nal,” kata mandor lebih pelan. “Kerja ya kerja. Urusan lain, simpan di luar.”

Zaenal menghela napas. “Kalau saya nolak?”

Mandor bersandar. “Kamu tetap kerja. Tapi ya… seperti sekarang. Dan jujur saja, posisi kamu jadi rawan.”

Zaenal mengangguk pelan. “Saya pikir-pikir dulu, Pak.”

“Kita kasih waktu sampai besok pagi,” jawab mandor. “Ini demi kebaikan kamu juga, Nal.”

Lihat selengkapnya