Zaenal pulang tanpa membawa apa pun hari itu. Tidak cerita. Tidak keluhan. Bahkan tidak senyum tipis seperti biasanya. Ia hanya duduk di bangku kayu depan rumah, menatap jalan kampung yang lengang, seolah menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.
Hafiz memperhatikan dari balik pintu.
Pamannya jarang diam selama ini. Sekalipun lelah, Zaenal selalu punya kalimat pendek, tentang kerja, tentang kayu, atau sekadar mengingatkan Hafiz untuk belajar. Tapi sore itu, Zaenal seperti menghilang di tubuhnya sendiri.
“Mang, makan?” tanya Hafiz pelan.
Zaenal menoleh. Terlambat. Seperti baru sadar ada orang lain di dunia.
“Iya… iya,” jawabnya cepat. “Sebentar.”
Ia berdiri, tapi langkahnya goyah. Tidak sampai jatuh, hanya seperti orang yang kehilangan pijakan sepersekian detik. Zaenal segera berpegangan pada tiang rumah.
Hafiz melihatnya.
“Amang kenapa?”
“Tidak apa-apa,” Zaenal tersenyum, terlalu cepat. “Cuma capek.”
Kalimat itu terdengar biasa. Tapi Hafiz merasakan sesuatu yang tidak biasa.
***
Malam itu, Zaenal terbangun oleh nyeri yang datang tanpa aba-aba. Bukan sakit yang menjerit, melainkan tekanan pelan yang menjalar dari dada ke bahu, lalu ke punggung. Ia duduk di tepi kasur, menahan napas, menunggu rasa itu reda seperti biasanya.
Ia sudah mengenal rasa ini cukup lama. Sudah bertahun-tahun, sebenarnya. Zaenal membuka laci kecil. Mengeluarkan botol obat yang labelnya sudah pudar. Ia menelan satu butir dengan air seadanya. Tidak pernah di depan Hafiz. Tidak pernah.
Ia menatap anak itu yang masih tidur pulas. Wajahnya tenang. Nafasnya teratur.
“Belum sekarang,” gumam Zaenal lirih. “Belum.”
***
Beberapa hari berikutnya, tanda-tanda itu semakin sering muncul.
Zaenal lebih cepat lelah. Tangannya terkadang gemetar saat mengangkat kayu. Pernah suatu siang, pandangannya mengabur sesaat di pabrik. Dunia seperti diputar pelan, lalu kembali normal.
“Nal, kamu pucat,” kata salah satu temannya.
“Kurang tidur,” jawab Zaenal singkat.
Ia selalu punya alasan. Dan semua orang mempercayainya, karena Zaenal tidak pernah mengeluh.