Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #14

Bab | 14

Sejak hari itu, Laras lebih sering datang. Kadang dengan alasan sekolah, kadang tanpa alasan sama sekali. Ia tidak pernah menyebutnya sebagai kunjungan, hanya singgah, seolah rumah kecil itu kini menjadi bagian dari rute hidupnya.

Zaenal menyadari perubahan itu, meski pura-pura tidak. Ia menyadari caranya menyapu halaman sedikit lebih rapi setiap kali tahu Laras akan datang. Menyeduh kopi sedikit lebih awal. Mengatur kursi di teras agar tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.

Mereka sering duduk tanpa banyak bicara. Hafiz biasanya berada di antara mereka, menggambar, membaca, atau sekadar mendengarkan percakapan orang dewasa yang sering berhenti di tengah kalimat.

“Kang Zaenal,” ujar Laras suatu sore, “Semakin kesini Hafiz cepat sekali menyerap pelajaran.”

Zaenal tersenyum tipis. “Dia memang suka membaca. Dan suka menggambar.”

“Bukan hanya itu,” kata Laras. “Susunan kalimatnya saat bicara sudah terstruktur. Dia tenang. Anak-anak lain seusianya belum seperti itu.”

Zaenal menatap Hafiz yang sedang menggambar pemandangan gunung di negara Swiss sesekali matanya fokus kepada contoh poster di sebelah buku gambarnya. “Dia sudah kebanyakan kehilangan.”

Kalimat itu menggantung.

Laras tidak langsung menanggapi. Ia tahu, ada hal-hal yang tidak perlu dipancing terlalu jauh. Kedekatan mereka tumbuh dari hal-hal kecil. Dari obrolan soal buku. Dari cerita Laras tentang murid-muridnya. Atau dari keluhan Zaenal tentang harga kayu yang tidak pernah adil.

Kadang mereka tertawa. Kadang hanya diam, tapi diam yang nyaman. Namun Laras mulai memperhatikan sesuatu yang mengusik.

Zaenal semakin sering berhenti di tengah kalimat. Napasnya kadang pendek. Tangannya kerap menggenggam dada pelan, seolah sedang menenangkan sesuatu di dalam sana.

***

Suatu sore, saat Hafiz sedang bermain di rumah tetangga, Laras akhirnya memberanikan diri.

“Kang Zaenal,” katanya pelan, “saya boleh tanya?”

Zaenal menoleh. “Tanya apa, Bu?”

“Akang kayanya bukan sakit biasa.”

Zaenal tersenyum cepat. “Tidak. Cuma capek.”

“Capek yang seperti apa, Kang?”

Zaenal terdiam sejenak. Lalu berdiri. Mengalihkan pembicaraan. “Tehnya dingin, Bu. Mau saya buatkan lagi?”

Laras memperhatikannya dari belakang. Bahu itu terlihat lebih sempit dari yang ia ingat. Langkahnya tidak lagi mantap seperti pertama kali ia melihatnya berdiri berorasi di depan kantor desa.

Lihat selengkapnya