Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #15

Bab | 15

Hubungan antara Zaenal dengan Laras itu tidak pernah dimulai dengan janji.

Ia tumbuh dari kebiasaan kecil, bertemu di jalan kampung tanpa rencana, bertukar senyum singkat di depan warung, atau duduk berhadapan di teras rumah sambil membiarkan waktu berjalan perlahan. Zaenal dan Laras tidak pernah menyebut apa pun dengan kata “kita”. Semua hanya mengalir.

Kadang Laras datang dengan alasan sekolah. Kadang dengan alasan Hafiz. Kadang tanpa alasan yang jelas, lalu tertawa kecil saat Zaenal menatapnya seolah bertanya, ada perlu apa?

“Saya kangen Hafiz,” kata Laras suatu sore.

Hafiz yang mendengar dari dalam rumah langsung menyembul. “Aku di sini, Bu!”

Zaenal hanya menggeleng kecil, senyum tipis tersungging. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran itu, bahkan merindukannya ketika Laras tidak datang.

Mereka sering berjalan bertiga ke taman kecil di ujung kecamatan. Taman itu tidak istimewa: ayunan berderit, bangku besi berkarat, dan rumput yang tak pernah benar-benar terurus. Tapi di sana, Hafiz bisa berlari. Dan di sana, Zaenal dan Laras bisa duduk bersebelahan tanpa perlu banyak bicara.

Suatu sore, saat Hafiz sedang sibuk memberi makan ikan di kolam kecil, Laras menatap Zaenal lama.

“Kang Zaenal,” katanya pelan, “Akang tahu kan… cinta itu tidak memilih.”

Zaenal menoleh, agak terkejut.

“Cinta tidak peduli terhadap keadaan,” lanjut Laras. “Tidak peduli harta. Tidak peduli status.”

Zaenal tertawa kecil, pahit. “Itu hanyalah teori, Bu guru.”

“Tidak,” Laras menggeleng. “Itu sebuah pengalaman.”

Zaenal terdiam.

Laras melanjutkan, lebih lembut, “Kalau kaum kami sudah jatuh cinta kepada seorang lelaki… mau apa pun keadaan lelaki itu, hatinya tetap jatuh.”

Kalimat itu tidak diarahkan langsung. Tapi Zaenal merasakannya seperti sentuhan pelan di dada.

"Kaum kami?" Tanya Zaenal sambil memalingkan wajahnya.

“Iya, kaum perempuan. Akang jangan berkecil hati hanya karena hidup sekarang seperti ini,” kata Laras. “Keadaan bisa berbalik. Tidak hari ini. Tidak besok. Tapi suatu hari.” Entah apa yang dikatakannya itu benar atau salah. Justru sesaat melamun sejenak, Laras berpikir apakah ia telah menyinggung perasaan Zaenal.

Zaenal hanya menunduk. Tangannya saling menggenggam.

Kata-kata itu seperti membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat. Bukan pintu harapan, lebih seperti jendela kecil yang membiarkan cahaya masuk secukupnya.

Sejak hari itu, Zaenal mulai berani melakukan hal-hal kecil yang sebelumnya ia hindari. Ia mulai menyisir rambut lebih rapi sebelum berangkat kerja. Memakai baju terbaiknya saat tahu Laras akan datang. Ia mulai berani memandang lebih lama, tidak langsung segera menunduk. Bukan karena ia merasa pantas. Tapi karena ia merasa diterima.

Kabar itu, entah bagaimana, menyebar cepat. Tetangga mulai berbisik. Warung kopi mulai ramai dengan dugaan. Nama Zaenal dan Laras mulai disebut dalam satu kalimat yang sama. Ada yang tersenyum mendukung. Ada yang mencibir pelan.

Zaenal memilih tidak peduli. Namun dunia tidak selalu membiarkan dua orang berjalan pelan tanpa rintangan.

***

Sore itu, mereka pulang dari taman. Matahari sudah condong ke barat, langit mulai menguning. Hafiz duduk di depan, memeluk tas kecilnya. Zaenal mengendarai sepeda motor tua, warisan orang tua Hafiz, mesin tua yang masih setia mengantar mereka ke mana pun.

Motor itu memang sudah reot. Catnya terkelupas. Suaranya kasar. Tapi Zaenal merawatnya seperti merawat kenangan.

Mereka tiba di depan rumah Laras. Rumah itu lebih besar. Temboknya rapi. Halamannya luas, dipenuhi dengan tanaman-tanaman hias. Pagar besinya tinggi.

Zaenal menghentikan motor.

“Terima kasih ya, Fiz dan Kang Zaenal,” kata Laras sambil turun.

“Sama-sama,” jawab Zaenal.

Waktu sudah menunjukkan magrib. Zaenal tidak turun dari motor. Ia hanya menyampaikan salam dari jarak aman.

“Salam untuk Abah dan Emak,” katanya sopan.

Laras mengangguk. “Hati-hati di jalan.”

Zaenal menyalakan mesin. Hafiz melambaikan tangan kecilnya.

“Assalamu’alaikum!”

“Waalaikumsalam,” jawab Laras sambil tersenyum.

Motor itu pergi, meninggalkan debu tipis di halaman.

Dari balik jendela, Haji Sakib rupanya telah memperhatikan.

Begitu masuk rumah, Laras langsung bersalaman dengan ayahnya.

“Baru pulang?” tanya Haji Sakib, suaranya datar.

“Iya, Bah.”

“Dengan siapa tadi?”

“Iii....Itu Kang Zaenal, teman,” jawab Laras singkat.

Haji Sakib menghela napas. “Teman laki-laki?”

Laras terdiam sejenak. Lalu mengangguk.

Haji Sakib duduk di kursi ruang tamu. “Siapa dia?”

“Kang Zaenal, Bah. Pamannya Hafiz. Murid saya.”

Haji Sakib mengernyit. “Yang naik motor tua itu?”

Laras mengangguk lagi.

Haji Sakib menghela napas lebih panjang. “Bapak kurang suka.”

Laras menoleh cepat. “Kenapa?”

Lihat selengkapnya