Langit selepas magrib masih menyisakan cahaya pucat ketika Zaenal dan Hafiz melangkah pulang dari masjid. Seperti biasa, Hafiz berjalan sedikit di depan, menyeret-sendiri sendal kecilnya yang mulai aus. Zaenal menyusul sambil merapikan sarungnya, pikirannya masih tertambat pada bacaan imam barusan, tentang kesabaran orang-orang yang diuji berkali-kali.
Namun langkahnya melambat.
Di kejauhan, tepat di depan rumah mereka, sebuah mobil Kijang klasik berwarna hijau tua terparkir miring. Lampu depannya mati, tapi tubuhnya jelas bukan milik warga sekitar. Terlalu rapi. Terlalu asing.
Zaenal berhenti.
“Fiz,” panggilnya pelan.
Hafiz menoleh. “Apa, Mang?”
“Itu mobil siapa, ya?”
Hafiz mengangguk. “enggak tahu, Mang."
Zaenal tidak menjawab. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba merambat dari perut ke dada. Perasaan lama. Perasaan yang pernah ia kubur dalam-dalam.
Saat mereka semakin dekat, dua sosok berdiri dari bangku teras rumahnya.
Zaenal tertegun.
Abah Rais dan Bu Tinah, orang tua Maya.
Dunia seolah berhenti bergerak selama beberapa detik. Suara jangkrik, desir angin, bahkan langkah Hafiz yang tiba-tiba diam, semuanya terasa jauh.
“Zaenal…” suara Abah Rais terdengar ragu, tapi jelas.
Zaenal menelan ludah. Tangannya dingin.
“Abah… Mak…” katanya akhirnya, nyaris berbisik.
Mereka saling bersalaman. Tangan Abah Rais masih sama, kasar, hangat, penuh wibawa. Bu Tinah tersenyum tipis, senyum yang membawa terlalu banyak kenangan.
Zaenal salah tingkah. Ia menggaruk tengkuk, matanya berkeliling seperti mencari pegangan.
“Silakan masuk, Bah… Mak…” ucapnya akhirnya.
Mereka duduk di ruang tamu. Hening turun perlahan, seperti debu yang jatuh satu per satu. Hafiz duduk di sudut, menatap orang-orang asing itu dengan rasa ingin tahu yang canggung.
Zaenal berdiri. Melangkah ke dapur. Ia membuka rak, kosong. Kaleng gula tinggal sisa. Kopi hampir habis. Teh tinggal satu kantong.
Dadanya mengencang.
Ia memanggil Hafiz ke kamar.
“Fiz,” bisiknya, menunduk agar sejajar dengan wajah keponakannya. “Ke warung wa Cucun, ya. Ambil kopi, teh, gula, sama kue. Bilang aja suruh amang. Kasbon dulu.”
Hafiz mengangguk cepat. “Iya, Mang.”
Sambil menunggu Hafiz, Zaenal terlihat salah tingkah. Ia tidak tahu apa yang perlu dilakukan saat ini. Yang jelas ia sedang merebus air.
Beberapa menit kemudian Hafiz kembali, membawa kantong plastik. Zaenal melirik isinya, kopi, teh, gula… dan satu botol cuka.
“Fiz,” katanya pelan, “ini cuka buat apa?”
Hafiz terdiam. “Lupa, Mang.”
Zaenal menghela napas. “Astaga.....sudah, sana ke kamar.”
Hafiz menurut.
Zaenal menyeduh kopi dan teh, juga sepiring kue. Tangannya sedikit bergetar saat menuang air panas. Ia membawa gelas-gelas itu ke ruang tamu, meletakkannya perlahan di meja.
Abah Rais menyeruput kopi. “Terima kasih, Nal.”
Zaenal mengangguk singkat. Dengan sedikit gemetar Zaenal mulai menanyakan apa maksud orang tua Maya datang ke rumahnya.
Tak lama kemudian, Abah Rais mulai bicara. Ia menoleh ke istrinya. Ragu mau mulai dari mana. Ia pun akhirnya memaksa harus mengatakannya.
“Zaenal… akhir-akhir ini Maya sering menyebut namamu.”
Jantung Zaenal berdegup keras.
“Dia sakit,” lanjut Abah Rais. “Sudah beberapa minggu ini.”
Kalimat itu seperti pisau yang diselipkan pelan ke dalam dada Zaenal. Ingatan itu tiba-tiba datang tanpa permisi.
Enam tahun. Enam tahun berjalan beriringan dengan Maya. Dari masa muda yang miskin harapan, dari hari-hari tanpa kepastian. Maya yang selalu menunggu. Maya yang selalu menahan. Dan Maya pula yang akhirnya pergi. Karena lamaran yang tak pernah datang dari seorang Zaenal.
Zaenal mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Ia diam.
Bu Tinah menunduk. “Zaenal… semua ini sebenarnya bukan salah Maya.”
Zaenal mendongak. Tatapannya tajam.