Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #17

Bab | 17

Pagi di sekolah dasar itu selalu datang dengan suara yang sama: derap sepatu kecil berkejaran, tawa anak-anak yang belum mengenal beratnya hidup, dan bel tua yang berbunyi serak tapi setia.

Hafiz selalu datang lebih awal dari teman-temannya. Ia duduk di bangkunya sambil membuka buku tulis, menunggu Bu Laras masuk ke kelas. Seperti biasa, wajahnya cerah. Tak ada yang berubah dari dirinya, anak kecil itu masih membawa dunia dengan ringan, tanpa tahu bahwa orang-orang dewasa di sekitarnya sedang saling terluka oleh hal-hal yang tak pernah diucapkan.

“Selamat pagi, Hafiz,” sapa Bu Laras ketika memasuki kelas.

“Pagi, Bu,” jawab Hafiz riang.

Bu Laras tersenyum, lalu menunduk sedikit mendekat ke bangku Hafiz. “Gimana, Amang sehat?”

Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Wajar. Beberapa waktu terakhir, nama Zaenal selalu hadir di kepalanya, kadang tanpa ia undang.

Hafiz mengangguk. “Sehat, Bu.”

Bu Laras hendak berdiri, tapi Hafiz menambahkan, polos, tanpa beban,

“Semalam ada tamu ke rumah kami, Bu.”

Langkah Bu Laras terhenti.

“Tamu?” ulangnya pelan.

“Iya. Dari kampung sebelah,” kata Hafiz sambil memainkan ujung bukunya. “Orang tua Teh Maya.”

Nama itu jatuh begitu saja. Tidak keras. Tidak juga dramatis. Tapi cukup untuk membuat dunia Laras bergeser.

“Teh… Maya?” suara Laras hampir tak terdengar.

“Iya, Bu. Amang kelihatan aneh semalam. Kaya gugup.”

Hafiz tersenyum kecil, menganggap ceritanya biasa saja.

Bu Laras tidak lagi mendengar kalimat berikutnya. Dadanya terasa sesak. Ia berdiri perlahan, memaksa senyum yang terasa berat di wajahnya.

“Oh… begitu,” katanya singkat.

Hari itu, Laras mengajar seperti biasa. Menulis di papan tulis. Mengoreksi tugas. Menegur murid yang ribut. Tapi tidak satu pun benar-benar ia sadari.

Lihat selengkapnya