Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #18

Bab | 18

Zaenal tidak bangun pada jam tampilnya. Sebagai seorang pekerja, walau buruh, ia selalu bangun lebih awal. Kali ini tidak. Bukan karena ia ingin, tapi karena tubuhnya menolak diajak berunding. Dadanya terasa berat, seperti ditindih karung basah. Nafasnya pendek-pendek. Keringat dingin membasahi pelipis, meski udara masih sejuk.

Ia duduk di tepi ranjang cukup lama sebelum berdiri.

“Masih bisa,” gumamnya pada diri sendiri.

Di dapur, Hafiz sudah berseragam. Anak itu menyiapkan air panas sendiri, sesuatu yang baru-baru ini sering ia lakukan.

“Mang, sarapannya apa?” tanya Hafiz.

“Singkong rebus aja dulu, ya,” jawab Zaenal sambil memegangi meja.

Hafiz menoleh. “Amang kenapa?”

Zaenal menggeleng. “Kurang tidur.”

Ia tidak berbohong sepenuhnya. Hanya tidak mengatakan semuanya.

Di pabrik kayu, Zaenal memaksakan diri bekerja seperti biasa. Mengangkat, menyusun, mendorong. Tapi pandangannya beberapa kali mengabur. Dunia seperti berputar pelan.

Saat istirahat, ia batuk, batuk yang dalam dan kering. Ia menutup mulut cepat-cepat. Tidak ingin menarik perhatian.

Namun darah itu tetap terlihat. Sedikit. Merah tua. Di telapak tangannya. Zaenal menatapnya lama. Lalu mengusapnya ke kain celana, seolah itu noda biasa.

Siang itu, ia meminta izin pulang lebih awal.

Di puskesmas, Zaenal duduk sendirian. Bangku plastik dingin. Bau antiseptik menusuk hidung. Ia sudah terlalu sering ke tempat seperti ini, mengantar orang, bukan untuk dirinya sendiri. Tapi akhir-akhir ini ia menjadi pasien.

Dokter muda itu membaca hasil rontgen sambil mengerutkan dahi. Lalu menatap Zaenal.

“Kang Zaenal,” katanya hati-hati, “ini bukan masuk angin biasa.”

Zaenal tersenyum tipis. “Saya tahu, Dok.”

Dokter menarik kursi. “Ada bercak di paru-paru. Sudah lama?”

Zaenal mengangguk pelan. “Mungkin.”

“Kenapa baru sekarang periksa?”

Zaenal terdiam. Jawaban itu terlalu panjang untuk diucapkan.

Dokter melanjutkan, “Kita perlu pemeriksaan lanjutan. Tapi saya harus jujur… ini mengarah ke penyakit kronis. Bisa TBC berat, bisa komplikasi lain. Akang harus siap.”

Kata siap itu terdengar ironis.

Zaenal mengangguk. “Kalau saya terus kerja?”

Dokter menatapnya lekat-lekat. “Akang harus banyak istirahat dulu.”

Zaenal tersenyum kecil. “Kalau saya berhenti kerja, saya mati lebih cepat, Dok.”

Dokter tidak menjawab.

Saat keluar dari puskesmas, matahari terasa terlalu terang. Zaenal duduk lama di bawah pohon ketapang. Nafasnya berat. Dadanya nyeri.

Ia memejamkan mata. Bayangan datang satu per satu.

Hafiz. Masa depannya. Cintanya. Tawa kecil yang sering ia pura-pura tidak dengar karena lelah. Dan begitu juga Laras.

Wajah Laras muncul tanpa izin. Senyumnya yang tertahan. Cara ia mendengarkan tanpa menghakimi. Keheningan di antara mereka yang dulu terasa aman.

Lihat selengkapnya