Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #19

Bab | 19

Tidak ada suara bel sekolah, tidak ada tergesa bangun pagi, tidak ada sepatu yang harus dicuci sampingnya. Matahari naik pelan di balik awan tipis, dan rumah kecil itu terasa lebih lengang dari biasanya.

Hafiz duduk di ruang tengah, di atas tikar pandan yang sudah mulai berbulu. Televisi menyala sejak pagi, tapi ia tidak benar-benar memperhatikannya. Tangannya memegang krayon yang setengah sudah hampir habis. Ia merapikannya pelan, lalu berhenti. Menyusun satu persatu.

Zaenal masih tidur di kamar.

Sejak pamannya sering sakit, Hafiz belajar satu hal penting: jangan berisik. Jangan berlari di dalam rumah. Jangan menyalakan televisi terlalu keras. Jangan bertanya terlalu banyak. Jangan membuat pamannya lelah.

Ia anak kecil, tapi kesunyiannya sering terasa terlalu dewasa.

Televisi berpindah saluran. Layar menampilkan sebuah sinetron. Hafiz tidak berniat menonton. Ia tidak suka sinetron. Ia lebih suka kartun, robot, atau pahlawan yang bisa berubah bentuk. Tapi adegan itu membuat tangannya berhenti bergerak.

Seorang anak laki-laki dalam sinetron itu berdiri di depan rumah sakit. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Di belakangnya, orang-orang dewasa berbicara pelan. Kata-kata mereka tidak jelas, tapi satu kalimat menembus telinga Hafiz.

“Bapaknya sudah enggak ada.”

Hafiz mendongak.

Ia memandangi layar dengan fokus yang jarang ia miliki. Krayon di tangannya ia letakan begitu saja.

Anak di televisi itu menangis. Bukan menangis keras. Ia hanya terdiam, seperti tidak tahu harus berbuat apa. Lalu ia berlari, memeluk jas hitam yang digantung di kursi, dan menangis semakin keras. Hafiz menelan ludah. Dadanya terasa aneh. Seperti ada sesuatu yang ditekan pelan, tapi terus-menerus.

Ia mendekat ke televisi. Duduk lebih dekat. Matanya tidak berkedip. Adegan berganti. Anak itu duduk sendirian di kamar. Memegang foto keluarga. Tangisnya pelan, hampir tidak terdengar.

Hafiz tiba-tiba sadar. Ini seperti dirinya. Pikiran itu datang begitu saja, tanpa diundang. Ia juga sering duduk sendirian. Ia juga sering memegang foto. Ia juga sering menangis tanpa suara.

Bedanya, di sinetron itu, ayah anak itu sudah pergi. Sedangkan pamannya… masih ada. Tapi sedang sakit. Hafiz memeluk lututnya.

Ia tidak tahu sejak kapan ketakutan itu tumbuh. Mungkin sejak ia melihat pamannya batuk terlalu keras di kamar mandi. Mungkin sejak pamannya lebih sering duduk diam, menahan nafas. Atau mungkin sejak ia menyadari satu hal yang paling menakutkan bagi anak seusianya: Orang bisa pergi. Tanpa pamit. Sesak itu naik perlahan ke dadanya. Nafasnya menjadi pendek. Ia menekan dadanya dengan tangan kecilnya, seperti meniru orang dewasa yang sedang sakit.

“Aduh…” gumamnya pelan, tidak tahu harus mengeluh pada siapa. Ia ingin memanggil pamannya. Ia ingin berlari ke kamar dan memeluknya. Tapi ia tidak berani. Ia takut jika pamannya melihat ia menangis. Karena sejak beberapa waktu terakhir, Hafiz belajar berpura-pura. Berpura-pura baik-baik saja. Berpura-pura tidak takut. Berpura-pura menjadi anak yang kuat. Ia ingat betul bagaimana pamannya selalu berkata, “Hafiz kau anak hebat.” Dan Hafiz ingin benar-benar menjadi anak hebat itu.

Televisi masih menyala. Adegan kini memperlihatkan anak itu berteriak: “Jangan tinggalin aku, Yah!”

Teriakan itu seperti palu.

Hafiz menutup mulutnya cepat-cepat. Air mata jatuh tanpa izin. Bahunya bergetar. Ia mematikan televisi dengan tangan gemetar. Rumah menjadi sunyi. Terlalu sunyi. Tangis itu akhirnya keluar. Pelan. Tertahan. Seperti hujan kecil yang takut ketahuan.

Hafiz bangkit dan berjalan ke kamarnya. Ia menutup pintu pelan-pelan, lalu duduk di lantai. Dari laci kecil, ia mengambil sebuah foto lama. Foto ibu, bapak, dan kakaknya. Ia memandang wajah-wajah itu satu per satu.

“Mak…Pak...” bisiknya.

Semua pergi. Sekarang tinggal paman. Tangis Hafiz pecah lebih dalam. Ia memeluk foto itu ke dadanya.

“Jangan pergi juga…” katanya terbata.

Ia menangis seperti anak kelas dua SD yang belum punya kata-kata untuk menjelaskan kehilangan. Tangis yang tidak rapi. Tangis yang tidak dramatis. Hanya ketakutan murni.

Ia tidak tahu penyakit apa yang diderita pamannya. Ia hanya tahu satu hal: orang sakit bisa pergi. Dan itu cukup membuatnya gemetar.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin lebih lama. Hafiz tidak tahu. Tangisnya perlahan mereda, digantikan isak kecil yang tersisa.

Ia mengusap wajahnya cepat-cepat. Menghirup nafas dalam-dalam, meniru cara pamannya jika sedang menahan sakit.

“Jangan nangis,” katanya pada diri sendiri. “Nanti ketahuan amang.”

Ia menyimpan kembali foto itu. Mencuci wajahnya. Menarik nafas panjang.

Ketika ia keluar kamar, Zaenal sudah duduk di ruang tengah. Wajahnya pucat, tapi ia tersenyum.

Lihat selengkapnya