Hari ini cuaca begitu tak karuan....Bukan karena mendung atau panas yang menyengat, melainkan karena kabar yang beredar sejak dua hari lalu: rumah Zaenal akan disidangkan.
Rumah kecil berdinding papan itu, yang berdiri di atas tanah warisan orang tua Zaenal, mendadak menjadi pusat perebutan. Bukan oleh orang asing. Tapi oleh darah yang sama. Saudara jauh yang selama bertahun-tahun tidak pernah muncul, tiba-tiba datang membawa surat, klaim, dan wajah-wajah yang mengeras oleh kepentingan.
Zaenal duduk di kursi kayu ruang tamu, memandangi dinding yang catnya sudah tak memiliki arti warna. Di sanalah ia tumbuh. Di sanalah kakaknya dibesarkan. Di sanalah Hafiz lahir, menangis pertama kali, lalu kehilangan segalanya, kecuali pamannya.
Dan kini, rumah itu terancam lepas dari genggaman. Hafiz hanya melongo. Tidak mengerti apa yang sedang diperdebatkan oleh orang-orang dewasa di dalam rumahnya.
Zaenal menoleh. Anak itu berdiri di ambang pintu kamar, memeluk buku gambarnya. Zaenal tersenyum kecil. Senyum yang ia paksa keluar. Hafiz mengangguk. Tapi matanya tidak sedang terlihat biasa. Beberapa jam kemudian, mereka berangkat ke balai desa. Tempat yang hari ini berubah fungsi menjadi ruang mediasi sebelum sidang resmi di kecamatan. Zaenal mengenakan kemeja lama, kancingnya sudah mulai longgar.
Di dalam ruangan, sudah duduk tiga orang yang membuat dada Zaenal mengencang. Pak Surya, Bu Minah, dan seorang pria berkacamata, anak Pak Surya, yang membawa map tebal.
Pak Surya adalah sepupu jauh almarhum ayah Zaenal. Hubungan mereka tidak pernah dekat. Bahkan nyaris tidak ada. Selama orang tua Zaenal hidup, Pak Surya jarang sekali menengok. Saat pemakaman pun, ia hanya datang sebentar, lalu menghilang bertahun-tahun.
Kini ia duduk paling depan. Dengan sikap seolah-olah rumah itu memang miliknya sejak awal.
“Zaenal,” kata Pak Surya membuka percakapan, suaranya datar tapi menusuk, “kita ini keluarga. Jadi lebih bagusnya diselesaikan baik-baik.”
Zaenal menatapnya tenang. Terlalu tenang untuk orang yang sedang diserang.
“Baik-baik menurut kamu itu seperti apa?” tanyanya.
Pak Surya membuka map. Mengeluarkan fotokopi surat tanah lama.
“Tanah ini dulu atas nama kakek kita bersama,” katanya. “Secara hukum, masih ada bagian kami. Bahkan ini sebenarnya milik orang tua saya.”
Zaenal menarik nafas. Ia sudah menduga ini akan terjadi.
“Selama orang tua saya hidup,” katanya pelan, “tidak pernah ada yang menuntut. Kenapa kalian tidak datang dan membicarakannya dengan orang tua saya?”
“Karena dulu kami tidak perlu,” sahut Bu Minah cepat. “Sekarang kondisi berbeda.”
Kondisi berbeda. Zaenal hampir tertawa pahit.
“Kondisi saya sakit, rumah saya kecil, dan saya mengurus anak yatim piatu?” tanyanya.
Pria berkacamata, yang ternyata pengacara keluarga, menyela, “Kami hanya menuntut hak.”
Pak Surya mendecak. “Zaenal, jangan pakai anak untuk memainkan emosi.”
Kalimat itu membuat tangan Zaenal mengepal.
“Saya tidak memainkan apa pun,” katanya. “Saya hanya mempertahankan apa yang ditinggalkan orang tua saya untuk saya dan keponakan saya.”
Diskusi berubah panas.
Surat-surat dikeluarkan. Tanggal-tanggal diperdebatkan. Nama-nama leluhur disebutkan seperti barang dagangan. Tidak ada yang bicara tentang kenangan. Tidak ada yang menyebut ibu Zaenal yang wafat dengan tenang di rumah itu. Tidak ada yang mengingat kakak Zaenal yang telah merenovasi rumah. Semua dingin. Semua hitam-putih.
Akhirnya keputusan sementara dibuat: sidang warisan resmi akan digelar di kecamatan minggu depan.
Zaenal keluar ruangan dengan langkah berat. Nafasnya terasa pendek. Dadanya nyeri, tapi ia menahan.
Di luar, beberapa warga sudah berkumpul. Gosip menyebar cepat di kampung kecil. Ada yang mendekat, ada yang hanya menatap prihatin.
“Si Zaenal itu orang baik,” bisik seseorang.
“Ujian orang baik emang selalu berat,” sahut yang lain.
Kata-kata itu tidak menguatkan. Justru menyakitkan.
***
Malam harinya, Zaenal duduk sendiri di teras. Hafiz sudah tidur, kelelahan setelah hari panjang.
Zaenal memijat dadanya. Sakitnya datang lagi. Lebih kuat.
Ia menutup mata.
Dalam gelap, wajah-wajah muncul: orang tuanya, kakaknya, Maya, Laras, Hafiz yang selalu membuatnya kuat.
“Ini rumah kita, Fiz. Kita tidak akan kalah,” gumamnya pelan, “kamu akan tetap tinggal disini.”
***
Hari sidang tiba.....
Ruang sidang kecamatan sederhana. Bangku kayu berderit. Kipas angin berputar malas. Tapi atmosfernya menekan.
Zaenal duduk sendiri. Tidak ada pengacara. Namun ia didampingi oleh beberapa tetangga dekat. Dan Zaenal memilih datang apa adanya.
Pak Surya datang lengkap. Dengan pengacara. Dengan kepercayaan diri.
Sidang berjalan lambat. Hakim membaca berkas. Mendengar klaim. Menimbang bukti. Saat giliran Zaenal bicara, ia berdiri. Tubuhnya sedikit goyah, tapi suaranya tetap utuh.
“Saya tidak menolak hukum,” katanya. “Saya hanya memohon keadilan yang manusiawi.”