Selama delapan tahun hidupnya, Hafiz tidak pernah benar-benar tahu apa itu ulang tahun. Ia tahu tanggal lahirnya. Ia tahu angka delapan berarti bertambah satu tahun. Tapi baginya, ulang tahun hanyalah angka di rapor atau catatan di buku tulis. Tidak ada lilin. Tidak ada doa bersama. Tidak ada tiup-tiup sambil tertawa. Bahkan tidak ada ucapan.
Zaenal pun tumbuh dalam keluarga yang sama dinginnya. Ulang tahun bukan peristiwa. Hanya hari biasa yang kebetulan dilewati. Orang tuanya dulu sering berkata : "tidak perlu acara-acara tiup lilin segala. Yang terpenting adalah doa."
Namun pagi itu, saat matahari baru naik setinggi atap rumah, Zaenal duduk sendirian di tepi ranjang, menatap Hafiz yang masih terlelap.
Wajah anak itu tenang. Nafasnya teratur. Tangan kecilnya menggenggam ujung selimut, seperti takut kehilangan sesuatu bahkan dalam tidur. Zaenal menghela napas panjang.
Hari ini, Hafiz genap delapan tahun.
Dan entah mengapa, Zaenal merasa waktu berlari terlalu cepat. Anak itu tumbuh tanpa sempat dimanja. Tanpa sempat menjadi anak-anak sepenuhnya.
Ia berdiri, berjalan ke dapur kecil. Kompor tua itu menyala pelan. Ia merebus air, membuat teh manis seadanya. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia paksa tetap tenang.
Hari ini, ia ingin Hafiz merasa hidupnya berarti. Bukan dengan pesta. Bukan dengan hadiah mahal. Tapi dengan satu hal sederhana: diperhatikan.
Menjelang sore, setelah Zaenal memastikan Hafiz mandi dan makan seperti biasa, ia meminta Hafiz tetap di kamar.
“Amang mau ke warung sebentar,” katanya santai.
“Iya mang.” tanya Hafiz.
Hafiz tidak curiga. Ia terlalu terbiasa hidup apa adanya. Zaenal melangkah ke luar rumah dengan langkah agak tergesa. Di warung kecil ujung perempatan, ia berdiri lama di depan etalase.
“Teh kuenya ada yang kecil?” tanyanya pelan.
Bu warung mengangguk, lalu mengeluarkan satu kue bulat sederhana, dengan lapisan cokelat tipis dan satu lilin kecil di tengahnya.
“Cukup?” tanya si ibu.
Zaenal mengangguk. “Cukup.”
Ia membayar. Uang receh berpindah tangan. Tidak ada sisa untuk membeli apa pun lagi.
Saat pulang, senja mulai turun.
Zaenal menata ruang tamu seadanya. Meja kecil digeser. Lampu dinyalakan. Kue diletakkan di tengah meja, lilin kecilnya belum dinyalakan.