Batu Nisan Untuk Paman

Topan We
Chapter #22

Bab | 22

Zaenal mengirim kabar itu tanpa banyak kata.

Sebuah pesan singkat, sederhana, nyaris dingin: "Datanglah ke rumah, Kang. Ada yang perlu kita bicarakan. Penting."

Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada nada memaksa. Namun justru karena itulah, pesan itu terasa berat.

Dua hari setelah pesan itu terkirim, sebuah mobil tua berhenti di depan rumah Zaenal. Hafiz yang sedang duduk di teras, menggambar dengan buku barunya, mendongak ketika suara mesin terdengar asing. Ia berhenti mencoret. Krayon biru di tangannya terangkat di udara.

Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun. Tubuhnya tinggi, sedikit kurus. Wajahnya matang, dengan garis lelah yang tidak bisa disembunyikan. Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan, tapi sorot matanya seperti orang yang sedang memikul beban jauh lebih tua.

Zaenal keluar dari dalam rumah.

“Kang Arifin,” katanya pelan.

“Nal,” jawab pria itu sambil mengangguk.

Mereka tidak berpelukan. Tidak ada kehangatan yang berlebihan. Hubungan darah memang ada, tapi waktu telah lama menjauhkan mereka.

Hafiz berdiri perlahan.

Ia menatap pria itu dengan senyum kecil, senyum anak yang diajarkan untuk sopan, meski tidak benar-benar mengenal.

“Ini si Hafiz,” kata Zaenal.

Arifin menunduk sedikit, berlutut agar sejajar dengan Hafiz.

“Masya Allah, Nak,” katanya ramah.

Hafiz mengangguk. “Mang...”

Suaranya kecil. Canggung. Ia tahu ini pamannya dari pihak ayah, tapi baginya, sosok ayah dan keluarga ayah hanyalah cerita samar yang jarang disebut.

Arifin mengelus kepala Hafiz pelan. Tangannya berhenti sejenak, seolah ragu apakah sentuhan itu pantas.

“Sudah besar aja kamu, Fiz,” katanya sambil matanya berkaca-kaca.

Hafiz tersenyum, lalu kembali duduk dan melanjutkan menggambar. Ia tidak tahu harus bicara apa. Dunia orang dewasa terasa jauh dan asing.

Zaenal mempersilakan Arifin masuk.

Mereka duduk di ruang tamu. Kursi kayu tua berbunyi pelan ketika diduduki. Udara terasa begitu berat. Nafas dua pria ini sudah mengenyam bangku pengalaman yang lumayan panjang.

Arifin mengedarkan pandangan. Rumah itu tidak banyak berubah. Sederhana. Sedikit lebih rapi. Tapi tetap rumah yang sama, rumah yang dulu sering ia datangi ketika kakaknya masih hidup.

“Kamu kelihatan kurusan,” kata Arifin akhirnya.

Zaenal tersenyum tipis. “Iya, kang.”

Tidak ada yang benar-benar biasa dalam nada suaranya.

Mereka berbincang pelan. Tentang kampung. Tentang cuaca. Tentang hal-hal kecil yang aman. Tapi Zaenal sesekali terdiam lama, menatap dinding, seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk masuk ke topik lain.

“Hafiz…” Zaenal membuka suara. “Sekarang kelas dua.”

Lihat selengkapnya