Beberapa hari sebelum malam pemilihan, Zaenal duduk bersila di serambi masjid.
Shalat Jum’at telah usai. Jamaah satu per satu meninggalkan halaman. Suara sandal beradu dengan lantai, obrolan kecil terdengar samar, dan aroma sajadah yang lembap bercampur dengan angin siang. Zaenal tidak segera pulang. Ia sedang menunggu seseorang.
Ustad Jaenudin keluar paling akhir. Pria itu berjalan pelan, wajahnya teduh, janggutnya mulai memutih, sorot matanya tidak tajam tapi menenangkan, seperti orang yang sudah lama berdamai dengan hidup.
“Ustad,” sapa Zaenal lirih.
Ustad Jaenudin berhenti. Menoleh. Tersenyum kecil.
“Eh Zaenal,” katanya. “Tumben belum pulang?”
Zaenal menggeleng. “Boleh saya bicara sebentar?”
Ustad Jaenudin mengangguk. “Mari.”
Mereka duduk berdampingan. Tidak berhadapan. Tidak ada kesan menginterogasi. Hanya dua manusia yang sedang berbagi ruang dan waktu.
Zaenal menunduk. Tangannya saling menggenggam.
“Saya takut, Ustad.”
Ustad Jaenudin tidak langsung menjawab. Ia membiarkan kalimat itu mengendap.
“Takut apa, Nal?” tanyanya lembut.
“Kematian.”
Jawaban itu keluar begitu saja. Jujur. Telanjang.
Ustad Jaenudin menarik napas panjang. “Takut mati, atau takut meninggalkan?”
Zaenal terdiam lama.
“Ehhh....Le..Lebih takut meninggalkan,” katanya akhirnya. “Saya belum siap meninggalkan dunia. Saya belum siap meninggalkan Hafiz. Dan… saya merasa masih jauh dari Tuhan.”
Ustad Jaenudin mengangguk perlahan.
“Takut itu wajar, Nal,” katanya. “Bahkan para nabi pun merasakannya. Yang keliru bukan rasa takutnya, tapi kalau takut itu membuat kita berhenti mendekat pada-Nya.”
Zaenal menghela napas. “Saya merasa hidup saya setengah-setengah, Ustad. Ibadah saya biasa saja. Amal saya juga tidak banyak. Tapi waktu saya terasa seperti dikejar.”
“Karena kamu sedang diuji,” jawab Ustad Jaenudin. “Bukan dengan kesenangan. Tapi dengan kesadaran.”
Zaenal menatapnya.
“Kesadaran bahwa hidup ini tidak selamanya,” lanjut ustad itu. “Dan justru di situlah nilainya.”
Zaenal menunduk lagi.
“Ada satu hal lagi,” katanya pelan.
Ustad Jaenudin menunggu.
“Akhir-akhir ini saya selalu bingung soal pasangan hidup, Ustad.”
Ustad Jaenudin tersenyum tipis. “Nah ini bukan perkara kecil.”
Zaenal mengangguk. “Saya tidak ingin salah memilih. Saya takut pilihan saya justru menyakiti orang lain atau saya yang tersakiti.”
“Lalu apa yang kamu cari dari seorang pasangan?” tanya Ustad Jaenudin.
Zaenal berpikir. Lama.
“Seseorang yang bisa menerima Hafiz seperti anaknya sendiri,” jawabnya akhirnya. “Seseorang yang tidak menjadikan sakit saya sebagai beban, tapi sebagai amanah. Dan… seseorang yang bisa mengingatkan saya pada Tuhan, bukan menjauhkan.”
Ustad Jaenudin mengangguk puas.
“Itu jawaban yang dewasa, Nal,” katanya. “Bukan tentang cantik atau tidak. Bukan tentang masa lalu atau status. Tapi tentang arah.”