Pagi itu Hafiz berdiri di ambang pintu, matanya mengikuti jalan tanah di depan rumah. Biasanya, di jam segitu, suara motor tua akan terdengar, batukannya khas, seperti orang tua yang memaksakan diri bangun pagi. Tapi hari ini sunyi.
Hafiz menoleh ke dalam. Pamannya sedang duduk di bangku kayu, membersihkan beberapa sepatu walau talinya sedikit lagi putus.
“Mang,” kata Hafiz pelan, “motor Amang ke mana?”
Zaenal berhenti mengikat. Ia mengangkat kepala, menatap wajah kecil itu. Tidak ada rasa curiga di sana. Tidak ada tuntutan. Hanya rasa ingin tahu yang jujur, khas anak delapan tahun.
“Motornya sudah dijual,” jawab Zaenal apa adanya.
“Oh dijual...”
Hanya itu. Hafiz tidak bertanya kenapa. Tidak bertanya ke siapa. Tidak bertanya kapan. Ia hanya mengangguk kecil, lalu duduk di lantai, mengambil sandal. Tapi di dadanya, ada sesuatu yang terasa kosong, seperti halaman yang tiba-tiba kehilangan satu pohon tua.
Motor itu bukan sekadar besi beroda. Ia saksi pagi-pagi dingin, saksi hujan sore, saksi tawa kecil di jok belakang, saksi perjalanan ke makam, ke puskesmas, ke sekolah. Ke taman bersama Bu Laras. Motor itu seperti anggota keluarga yang tak pernah bicara.
Hafiz merindukannya. Tapi ia menyimpan rindu itu sendiri.
***
Siang menjelang. Matahari tepat di atas kepala ketika Hafiz mendekati pamannya lagi. Kali ini dengan ekspresi berbeda, ada kebanggaan kecil di wajahnya.
“Mang,” katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celana pendeknya.
Uang kertas itu terlipat rapi. 50 ribu Rupiah.
Zaenal terkejut. Ia menegakkan badan. “Dari mana? Dari siapa, Fiz?”
“Dari Bapaknya Bukhori,” jawab Hafiz polos. “Katanya buat jajan Hafiz.”
Zaenal terdiam sesaat. Lima puluh ribu bukan uang kecil untuk anak seusia Hafiz. Ia membayangkan wajah Haji Ahmad, lelaki sederhana, murah senyum, yang tak pernah banyak bicara tapi selalu hadir saat dibutuhkan.
Zaenal mengambil uang itu. Tangannya bergetar halus, bukan karena jumlahnya, tapi karena rasa.
“Nanti amang simpan, ya,” kata Zaenal. Ia lalu merogoh saku, mengeluarkan uang 5 ribu Rupiah. “Buat jajan hari ini 5 ribu aja. Sisanya ada di amang.”
Hafiz menerimanya tanpa protes. Tidak ada wajah kecewa. Tidak ada hitung-hitungan. Ia percaya.
“Iya, Mang.”
Kepercayaan anak kecil itu kadang terasa lebih berat dari amanah orang dewasa.
Setelah itu Hafiz pamit bermain ke rumah Bukhori. Langkahnya kecil, cepat, seperti tak ada beban apa pun di dunia.
Zaenal menatap punggungnya hingga menghilang di tikungan.
***
Rumput di halaman depan rumah sudah meninggi. Daunnya liar, tumbuh tanpa izin. Zaenal mengambil arit seperti sabit kecil dari dapur. Ia berdiri lama, menarik napas, merasakan tubuhnya.
Masih ada sisa lemah. Masih ada nyeri samar. Tapi ia butuh bergerak.
Arit itu berayun pelan. Rumput rebah satu per satu. Keringat mulai muncul di pelipis. Dadanya terasa hangat. Ada rasa hidup yang perlahan kembali.