Hafiz mengenakan seragam yang sama, sepatu second pemberian pamannya, dan tas yang sudah sedikit pudar warnanya. Tidak ada yang berubah dari luar. Bahkan langkahnya pun tetap ringan. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang mengganjal, seperti batu kecil yang tak kelihatan, tapi membuat setiap tarikan napas terasa lebih berat.
Di depan gerbang sekolah, Hafiz berhenti sebentar. Anak-anak lain berlari, bercanda, saling mengejek ringan. Ia berdiri sendiri beberapa detik, menatap halaman sekolah yang mulai ramai. Lalu ia melangkah masuk, seperti anak yang sudah belajar bahwa dunia tidak akan menunggunya siap.
Di dalam kelas, Bu Laras belum datang. Beberapa anak sudah duduk di bangkunya masing-masing. Fadlan duduk dengan sikap santai, satu kakinya dinaikkan ke bangku kosong di depannya. Ia tertawa keras bersama dua temannya.
Saat Hafiz masuk dan berjalan menuju bangkunya, tawa itu sedikit mengendur. Bukan berhenti, hanya berubah nada.
“Fiz,” suara Fadlan terdengar cukup keras. Sambil meledek Hafiz dengan gestur wajahnya.
Beberapa anak menoleh. Ada yang tertawa kecil. Ada yang pura-pura tidak dengar. Hafiz tidak menoleh. Ia duduk, membuka buku tulisnya, dan pura-pura sibuk merapikan pensil.
Tangannya sedikit gemetar, tapi ia menahannya dengan menekan ujung meja.
Ia ingat pesan pamannya: Kalau kamu tidak salah, kamu tidak perlu takut.
Masalahnya, Hafiz tidak tahu, apakah menjadi dirinya sendiri termasuk salah di tempat ini.
Jam pertama berlangsung biasa.
Pelajaran Matematika. Hafiz menjawab soal dengan cepat seperti biasa. Bu Laras yang masuk di jam kedua memerhatikan itu dengan senyum kecil. Tapi senyum itu justru membuat Hafiz semakin tidak nyaman. Ia merasa seperti sedang berdiri di tempat terang, sementara yang lain bersembunyi di bayangan.
Saat Bu Laras menulis sesuatu di papan, Hafiz mendengar bisikan dari belakang.
“Si anak yatim sok pinter.”
“Mentang-mentang suka dibela guru.”
Kalimat-kalimat itu seperti jarum kecil. Tidak sampai berdarah, tapi cukup membuatnya ingin menutup telinga.
Hafiz menelan ludah. Ia menunduk lebih dalam.
Jam istirahat tiba.
Biasanya Hafiz akan ke kantin bersama Bukhori. Tapi hari ini Bukhori dipanggil ke ruang guru. Hafiz duduk sendiri di bangku dekat taman kecil sekolah.
Ia membuka bekalnya, nasi dan telur ceplok. Ia makan pelan, mengunyah lama, seperti sedang menunda sesuatu.
Sekelompok anak lewat. Fadlan di tengah.
“Eh, Hafiz,” panggilnya tiba-tiba.
Hafiz mengangkat kepala.
“Kamu beneran mau ikut lomba gambar itu?”
Hafiz ragu. “Iya...”
Fadlan tersenyum miring. “Gambar jelek ikut lomba."
“Aku cuma disuruh,” jawab Hafiz pelan.
“Disuruh siapa?"
Nada itu mengandung sesuatu, bukan tanya, tapi tuduhan.
Hafiz tidak menjawab.
Salah satu anak lain menimpali, “Kalau kalah, jangan nangis, Fiz.”
Mereka tertawa. Tidak keras. Tapi cukup. Hafiz menunduk lagi. Tangannya mengepal di bawah meja. Ia ingin membela diri, tapi lidahnya terasa berat. Ia tidak ingin ribut. Ia hanya ingin makan siang dengan tenang.