Siang itu tidak ada tanda apa pun yang istimewa.
Zaenal duduk di kursi depan rumah, bersandar setengah malas, setengah lelah. Tubuhnya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa minggu lalu, tetapi belum sepenuhnya pulih. Nafasnya tidak lagi sependek sebelumnya, namun ia masih mudah letih jika bergerak terlalu lama. Dokter melarangnya bekerja dulu. Ia patuh, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar patuh demi satu alasan yaitu Hafiz.
Hafiz sedang menggambar di lantai ruang tamu, kertas-kertas putih berserakan, krayon warna-warni tersusun tak rapi. Anak itu tenggelam dalam dunianya sendiri. Zaenal sesekali memperhatikan, lalu kembali menatap jalan tanah di depan rumah.
Sampai sebuah bayangan berhenti di depan pagar. Zaenal mengangkat kepala. Seorang perempuan berdiri di sana. Awalnya ia mengira salah lihat. Bukan karena wajah itu asing, melainkan karena kesan pertama yang ia tangkap terlalu berbeda dari yang ia simpan di ingatan.
Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana, tapi rapi. Kerudungnya jatuh pas, warnanya lembut. Tas kecil tersampir di bahu. Ia berdiri tegak, tidak tergesa, tidak ragu. Tatapannya tenang, tidak menyapu lingkungan dengan gelisah seperti dulu.
Zaenal berdiri perlahan. Butuh beberapa detik sampai satu nama muncul di kepalanya. Maya....
Ia membuka pagar.
“Maya?” suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia maksudkan.
Maya tersenyum kecil. Senyum yang tidak memaksa. Senyum yang berdiri sendiri.
“Assalamu’alaikum, Nal.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Zaenal.
Ada jeda singkat. Tidak canggung. Tidak juga hangat. Hanya jeda yang wajar antara dua orang yang pernah sangat dekat, lalu lama menjadi asing.
“Aku dengar kamu sakit,” kata Maya akhirnya. “Aku… mau jenguk.”
Tidak ada nada iba. Tidak ada air mata. Tidak ada wajah penuh rasa bersalah.
Zaenal mengangguk. “Ayo masuk.”